pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologi

Wacana Pemberian Pendidikan Moral di Sekolah dan Kenakalan Remaja

Baca tulisan bagian sebelumnya » 1. Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja yang Berujung pada Pelanggaran Hukum

Wacana Pemberian Pendidikan Moral (sebagai Subjek Pelajaran) di Sekolah Formal

Setiap kali permasalahan kenakalan remaja mengemuka (apalagi diekspos media massa), isu yang kemudian berkembang adalah perlunya pemerintah menambahkan pendidikan moral atau budi pekerti dalam sistem pendidikan. Merespon tuntutan atau pertanyaan tersebut, saya rasa kita perlu pula berpikir bijak dan lebih terkendali. Perilaku yang akhirnya diberitakan biasanya adalah perilaku yang ekstrem, luar biasa, atau begitu mengherankan. Artinya, kita perlu pula berasumsi bahwa ada kemungkinan masih banyak perilaku negatif lain yang dilakukan remaja tetapi kurang disorot karena tidak terlalu memiliki kekuatan sebagai sebuah ledakan berita pada media massa.

Apakah kita harus menunggu sampai semua perilaku remaja itu memiliki kekuatan dahsyat sehingga dapat diberitakan? Karenanya, sepertinya yang lebih dibutuhkan adalah proses pengelolaan atau pengendalian yang paling mungkin (feasible) dilakukan dalam waktu dekat.

pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologiMengenai usulan menambahkan pendidikan moral-budi pekerti, apakah hal tersebut dapat berdampak jangka pendek ini, mengingat proses pengadaan sebuah mata pelajaran baru membutuhkan proses panjang? Di sisi lain, sebetulnya kita sudah memiliki modal sosial dalam sistem pendidikan kita, yakni adanya pelajaran agama, Pancasila dan  Kewarganegaraan, maupun Bimbingan dan Konseling. Jadi, apakah dengan menambah sebuah mata pelajaran baru akan menjadi jawaban? Mengingat sudah adanya mata pelajaran serupa sebelumnya pun perilaku negatif masih jamak ditemui?

Menurut saya, usulan menambah mata pelajaran baru seperti pada masa lalu berupa budi pekerti atau tata krama merupakan usulan yang positif. Namun, mengingat dibutuhkannya proses panjang maka akan ada waktu jeda di mana berarti tindakan akan tertunda pada waktu yang belum dapat ditentukan. Saya malah berpikir bagaimana cara memaksimalkan mata pelajaran yang saat ini sudah ada. Mata pelajaran seperti agama, pancasila, atau bimbingan/konseling sudah menjadi sarana yang cukup untuk memasukkan nilai-nilai positif.

Nah, yang saya amati belum optimal adalah bagaimana para remaja dan anak-anak dibimbing dan diajak untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih hanya memahami atau ‘hapal’ konsep dan teori… . Tentunya ini bukan perkara mudah, tidak semudah mengatakan atau menuliskan ide. Tetapi bukan berarti tidak mungkin, bukan? Alih-alih merancang suatu subjek pelajaran baru yang dapat memberikan dampak-dampak negatif lain, saya pikir akan lebih bijak dan efektif untuk saat ini bersama-sama antara pihak sekolah dan orang tua untuk dapat mengajak dan membimbing anak agar dapat menerapkan nilai-nilai positif kehidupan seperti yang dipelajari pada pelajaran pendidkan agama ataupun bimbingan konseling.

Hal lain yang juga perlu diingat adalah bahwa ketika seorang berperilaku negatif atau nakal bahkan melanggar hukum, bukan berarti ia tidak bermoral atau biadab. Kita sering kali lupa bahwa perilaku negatif tersebut dapat pula terjadi karena orang yang bersangkutan tidak mampu lagi mengelola pikiran atau emosi negatif di dalam diri, tidak tahu harus berbuat apa, tidak mendapatkan biimbingan, atau bahkan ketika sedang sangat beremosi negatif dan tidak mampu berpikir, lingkungan sosial justru bersikap semakin menghukum atau mengabaikan sehingga membuat si individu semakin ‘meledak’. Bila berdasar pada dinamika proses ini, maka pemberian pendidikan moral atau budi pekerti menjadi jawaban atau solusi yang agak jauh dari persoalan. Justru yang lebih dibutuhkan adalah bagaimana membantu atau memfasilitasi kita dan orang-orang di sekitar kita untuk belajar mengolah diri ketika emosi negatif bergejolak, memberi dukungan terhadap orang-orang yang sedang berkondisi negatif, serta membangun perilaku masyarakat yang tidak justru menjadi pemicu baru (seperti bergosip, mengabaikan, atau bahkan menyalahkan berlebihan).

Baca bagian selanjutnya » 3. Bagaimana Orang Tua Perlu Merespon, Menindaki Serta Memagari?

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

2 thoughts on “Wacana Pemberian Pendidikan Moral di Sekolah dan Kenakalan Remaja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *