Konseling pernikahan-tidak percaya pada suami-selingkuh-khianat

Perlukah Konseling Pernikahan Jika Tidak Percaya Pada Suami Lagi?

TANYA

Saya punya trauma mendalam dalam pernikahan saya karena suami pernah berkhianat. Dan kejadian (pengkhianatan) itu sering terlintas dibenak saya sehingga setiap kali melihat suami, yang ada hanya rasa benci. Saya tidak percaya pada suami lagi sejak itu. Pada apapun yang ia katakan. Sebenarnya saya juga lelah dengan kebencian ini. Hanya saja perasaan itu tak pernah bisa hilang dari benak saya karena perbuatan dia memang sungguh sudah kelewat batas. Saya juga bertanya pada diri saya sendiri, mengapa saya masih berusaha mempertahankan rumah tangga ini setelah perbuatannya yang melampaui batas apapun dalam sebuah pernikahan. Mungkin jika yang mengalami ini wanita lain, suami pasti sudah ditinggal pergi. Terkadang saya berpikir, apakah ini kebodohan saya, atau… . Saya juga kurang mengerti dengan sikap dan keputusan saya sendiri. Saya harus bagaimana? Saya juga ada rasa takut (khawatir) bila suami saya akan mengulangi perbuatannya itu. Saya takut jika saya harus meneteskan air mata lagi. Saya lelah. Sungguh lelah.

Siska, 24 tahun.
Ibu rumah tangga dari Bekasi

tidak percaya pada suami-selingkuh-khianat

Konseling Pernikahan: Tidak Percaya Pada Suami, Selalu Khawatir Dikhianati

 

Halo Siska… Saya ikut prihatin atas persoalan rumah tangga kamu yang telah menyebabkan luka dan kehidupan yang tidak nyaman. Walau saya belum dapat sangat memahami dan menangkap persoalan yang menjadi dasar luka dan ketidaknyamananmu, tetapi sepertinya perilaku suami sudah sangat melukaimu. Terutama karena telah melanggar komitmen diantara kalian berdua sehingga rasa percaya, sakit hati, cemas, takut dan bahkan benci terus berkecamuk dalam kehidupanmu sehari-hari. Tentu akan tidak sehat apabila kondisi ini dipelihara dan didiamkan saja. Cara terbaik adalah mencari cara untuk mengurangi kondisi tak nyaman dalam hubungan suami istri ini, secara berangsur-angsur hingga semakin lama semakin menipis. Entah itu dengan memperbaiki hubungan, ataupun dengan memutuskan ikatan suami istri walaupun tetap menjalin interaksi sesuai kebutuhan (khususnya bila sudah ada anak dalam pernikahan kalian).

Sebelum mengambil suatu keputusan, akan lebih bijak bila dirimu juga mulai melihat lingkungan sekitar yang berhubungan dengan pernikahan dan keluargamu. Coba lihat ke dalam dirimu, apakah kamu masih memiliki (walau hanya sedikit) rasa yakin atau optimis bahwa suamimu dapat berubah dan bahwa pernikahan kalian masih berharga untuk diperjuangkan? Apa sajakah hal yang mendukung kalian agar tetap bersama dan apa sajakah hal yang semakin mendukung kalian untuk berpisah saja? Diantara kedua pilihan itu, manakah yang paling terlihat kuat untuk dijalani kedua pihak, bersama ataukah berpisah? Lalu, apakah sudah ada anak di dalam pernikahan kalian? Jika akhirnya berpisah, sudah siapkah kalian menanggung konsekuensi dan dampak-dampak lanjutan yang akan dihadapi anak kalian? (Baca juga » Orang Tua Bercerai, Anak Memendam Perasaan)

Persoalan yang kamu sampaikan masih samar sehingga cukup sulit bagi saya untuk memberi masukan atau arahan langkah-langkah yang diperlukan. Namun, ada satu cara yang sangat baik bagi kalian, yaitu dengan rendah hati bersama-sama menjalani sebuah konseling pernikahan. Konseling pernikahan adalah sebuah cara terbaik bagi pasangan yang mulai menemukan kebuntuan, persoalan berat dalam pernikahan, kesulitan komunikasi, atau untuk meredakan hubungan pasangan yang sudah cenderung dipenuhi emosi negatif. Konseling pernikahan dapat membantu pasangan untuk kembali berdialog guna memperoleh suatu kesepakatan terbaik bagi kedua pihak, dan bagi keluarga tersebut.

Apapun keputusan yang diambil, entah itu berpisah atau tetap melanjutkan pernikahan, perlu diambil dengan segala kesadaran dan komitmen yang diambil oleh kedua belah pihak. Bukan salah satu pihak saja. Melalui sebuah konseling pernikahan, kalian akan dibantu untuk memutuskan suatu hal secara lebih objektif dengan meminimalkan reaksi emosional berlebih karena hadirnya seorang mediator yang akan memandu dan mengawal dialog agar tetap fokus pada tujuan bersama. Menurut saya, karena situasimu sudah penuh dengan emosi negatif, lelah, bahkan mungkin sulit berkata-kata, maka saya menyarankan kalian untuk menjalani konseling pernikahan. Kami dapat membantumu menemukan psikolog yang berpraktik di sekitar tempat domisili kamu. Silakan membalas email kami (KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org) apabila membutuhkan nomor kontak tersebut.

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

2 thoughts on “Perlukah Konseling Pernikahan Jika Tidak Percaya Pada Suami Lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *