Tag Archives: psikologi remaja

kesepian-tips-cara menyesuaikan diri dilingkungan baru

Menyesuaikan Diri di Lingkungan Baru: Sebuah Tantangan

TANYA:

Halo, Tim KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org. Perkenalkan nama saya Jason, 15 tahun. Saya tinggal di Bogor. Saya punya masalah tentang kehidupan sosial saya. Jadi ceritanya, saya ini adalah anak pindahan rumah. Dulu saya tinggal di Jakarta Utara, sekarang pindah ke Bogor… . Ketika pindah inilah saya merasakan masalah, stress, menyesuaikan diri di lingkungan baru.

Saya menjadi anak rumahan. Karena saya anak pindahan. Sebenarnya di lingkungan saya banyak anak – anak yang bermain, tapi saya takut/tidak percaya diri untuk Continue reading Menyesuaikan Diri di Lingkungan Baru: Sebuah Tantangan

jika disindir teman-menerima kesalahan diri sendiri

Antara Disindir Teman & Belajar Menerima Kesalahan Diri Sendiri

TANYA:

Saya baru pindah ke sebuah pesantren. Awalnya teman-teman bersikap ramah, sampai suatu saat saya pernah secara tidak sengaja melanggar aturan yaitu membawa telepon seluler (HP). Teman-teman angkatan saya yang merupakan pengurus OSIS, memberi hukuman. Saya yang tidak pernah mendapat hukuman, sempat menentang, namun akhirnya saya menerimanya. Tapi semenjak saya terima hukuman itu, saya tidak pernah keluar asrama karena kalau keluar asrama harus memakai kerudung empat warna. Saya tidak mau mengecewakan Continue reading Antara Disindir Teman & Belajar Menerima Kesalahan Diri Sendiri

menjalin hubungan dengan teman sebaya-orang lain

Menjalin Hubungan dengan Teman Sebaya Suka Nggak Nyambung

TANYA:

Menjalin Hubungan dengan Teman Sebaya Suka Nggak Nyambung • Permisi, saya siswa SMA kelas 10, umur 16 tahun. Sayang ingin berkonsultasi. Saya tipe orang yang ambivert tapi lebih mengarah ke introvert. Saya mudah menjalin hubungan baru tanpa rasa malu. Namun itu sebatas hubungan biasa saja. Untuk berhubungan dekat, saya harus mencari yang cocok dengan saya. Saya tidak terlalu suka kebisingan dan hanya bergaul dengan beberapa orang saja. Sekarang saya sering bersama dua orang teman saya, tapi anak-anak lain memandang kami seakan memiliki dunia tersendiri. Sebenarnya saya kurang akrab atau nggak connect (terhubung, nyambungRed) dengan teman sebaya. Saya lebih senang bergaul dengan orang yang lebih tua dari saya. Ini saya perhatikan sejak saya SD sampai sekarang. Apa yang harus saya lakukan? Terima kasih.

Larisha, pelajar dari Tangerang

menjalin hubungan dengan teman sebaya-orang lain
Bagaimana menjalin hubungan dengan teman sebaya?

JAWAB:

Halo Larisha. Mari kita bersama-sama melihat kebiasaan atau minatmu dalam berhubungan sosial. Kita agak kesampingkan dulu temuanmu tentang pengelompokan diri sebagai orang yang ambivert-introvert, ya.

Kamu merasa dan mengamati bahwa dirimu adalah seseorang yang cenderung mudah menjalin interaksi sosial, namun terbatas dan tidak terlalu mendalam. Kamu juga lebih nyaman berinteraksi atau berhubungan dengan orang yang lebih dewasa dibanding usia sebaya. Agaknya kamu ingin mengetahui bagaimana menjalin relasi atau hubungan dengan teman sebaya… . (Baca juga » Apa yang Mesti Dilakukan Kalau Dijauhi Teman Sekelas?)

Bahwa dirimu membutuhkan kenyamanan untuk mengenal dan berhubungan dengan teman sebaya atau orang lain secara lebih mendalam, itu adalah wajar. Banyak orang juga menginginkan hal yang sama. Pastinya, kita membutuhkan seseorang yang sejalan dengan pemikiran kita, mereka yang dapat menunjukkan diri sebagai seseorang yang dapat kita percaya, yang bisa mendukung diri kita untuk lebih terbuka berbicara dan yang padanya kita bisa membangun hubungan yang dekat dan berkualitas. Hal ini sangat wajar.

Sepertinya kamu mulai mencemaskan perilaku bersosialmu, apakah bermasalah ataukah sudah benar… . Larisha, pada dasarnya ketika kamu memiliki kemampuan dasar untuk menjalin interaksi/hubungan dengan orang lain, maka kamu sudah cukup memiliki kemampuan interpersonal (=kemampuan berhubungan antar pribadi). Kemampuan dasar berhubungan dengan orang lain ini diantaranya:

  1. Bisa menyampaikan perasaan dan pemikiran dengan tepat
  2. Tidak ada hambatan berarti dalam berbicara
  3. Tidak menutup diri
  4. Dapat berinteraksi sesuai kebutuhan (misalnya dalam kerja kelompok atau dalam suatu komunitas untuk menjalankan kegiatan bersama)

Nah, untuk mengembangkan diri ke arah yang positif, sebaiknya kamu terus mengasah kemampuan beradaptasi dalam pergaulanmu dengan orang lain. Maksudnya disini adalah, bahwa kamu perlu terus berlatih menyesuaikan diri saat berkomunikasi atau berbincang dengan orang lain, terutama dengan orang yang kamu merasa tidak terlalu nyaman dan tidak terlalu ingin berinteraksi dengannya. Pada kehidupanmu mendatang, kamu akan banyak bertemu dan harus berkomunikasi dengan orang-orang yang tidak sesuai harapan. Tentu ada sedikit perasaan kurang nyaman, tetapi ini harus dihadapi. Dan jika kamu telah lebih pandai menyesuaikan diri, tentunya suasana ini tidak akan menimbulkan persoalan yang berarti.

Ketika kemampuan adaptasi dalam bergaul dan berhubungan dengan orang lain (termasuk teman sebaya) sudah semakin terasah, maka kamu akan tetap mampu menjadi seorang pribadi unggul baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan profesional (karir, pekerjaan).

Jangan khawatir Larisha, apa yang kamu cemaskan masih dalam batas wajar, dan banyak pula yang mengalaminya. Kamu pada dasarnya telah memiliki kemampuan interpersonal yang baik, antara lain ditandai dengan tetap mampunya kamu berbincang dan berhubungan dengan teman sebaya walau sebenarnya kamu merasa tidak terlalu nyaman dan tidak terlalu ingin melakukannya. Sekarang tinggal bagaimana kamu mengasah keterampilan bersosial ini, terutama keterampilan beradaptasi dengan orang lain. Kamu masih dalam proses mencari dan mengembangkan diri. Jangan lelah belajar dan berproses, yaa… . Semangat, Larisha!

remaja kecanduan make up-kosmetik

Kakak Cemas Si Adik Kecanduan Make Up

TANYA:

Adik saya sepertinya kecanduan make up. Kemana pun pergi harus selalu pakai make up, mencatok rambut, dan pakai soft lens warna padahal matanya minus. Dia nggak pede (percaya diri) kalau pergi dengan muka polos, walau hanya sebentar. Tidak hanya itu, sebentar-sebentar dia pasti beli make up (kosmetik) dan yang dibeli pun produknya hampir sama. Adik saya juga gila olahraga, jam berapapun itu harus olahraga selama 2-3 jam. Yang saya cemas, dia bahkan berolahraga ketika jam 3 subuh. Kira-kira apa penyebabnya sehingga adik saya menjadi sangat tidak percaya diri dan kecanduan make up, dan apa solusinya? Terima kasih. Claudia, Jakarta (19 tahun, mahasiswi)

remaja kecanduan make up-kosmetikAdik kecanduan make up?

JAWAB:

Hai, Claudia yang sangat perhatian pada sang adik. Ciri-ciri perilaku yang kamu gambarkan tentang adikmu, erat kaitannya dengan persoalan penampilan dan upaya menciptakan citra atau figur tertentu yang diidolakan. Namun sayang sekali, kamu tidak menyertakan informasi detil tentang adikmu, seperti usia, berapa lama perilaku itu muncul, juga gambaran fisik (tubuh) adik. Informasi ini diperlukan agar saya (dan Tim KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org) bisa menangkap dan memperkirakan kondisi yang sedang dialami adikmu.

Namun demikian, saya mencoba menduga, adikmu berusia remaja (sekitar SMP atau SMA). Pada usia tersebut, seorang remaja memang sedang dalam tahap mencari identitas diri. Faktor lingkungan sebaya dan identitas ideal sang idola akan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku, kepercayaan diri, maupun citra diri (imej,self image) yang ingin ditampilkan. Coba amati teman-teman di lingkungan sang adik, bacaan atau sosial media yang sering diakses, serta tayangan televisi atau film yang paling sering ditonton. Ketiga sumber itu dapat menjadi sumber acuan kira-kira sosok atau idola seperti apa yang ingin ditampilkan oleh adikmu. Tetapi, yang lebih efektif adalah apabila kamu dapat berinteraksi secara dekat dengan adik sehingga ia percaya dan dapat bercerita padamu.

Setelah diketahui sebab-sebab yang melatarbelakangi perilaku kecanduan make up adikmu itu, baru kita bisa memberikan penanganan atau solusi yang tepat. Jadi Claudia, coba gali terlebih dahulu dengan beberapa langkah yang saya sarankan di atas. Bila kamu sudah memperoleh gambaran dan informasi yang lebih jelas, kamu dapat menghubungi kami kembali, dan kita pikirkan apa yang bisa kita lakukan. Sembari mencari informasi tentang penyebab perilaku adikmu, coba berikan kepadanya buku-buku psikologi populer untuk remaja, film-film, atau tayangan Youtube tentang remaja kreatif. Semoga ini bisa membantu adikmu mendapat suatu gambaran positif untuk dilakukan, selain berfokus dan mengedepankan pada penampilan diri secara fisik. (Baca juga: Tetap Tidak Percaya Diri Meski Memiliki Banyak Kelebihan)

Oya, perlu diingat juga, ya…, adanya dukungan dan penerimaan tanpa syarat dari orang-orang terdekat, terutama keluarga, adalah salah satu hal yang paling bermanfaat dan penting bagi remaja. Dukungan dan penerimaan ini akan mampu membuat perilaku yang kurang tepat (seperti kecanduan make up) dapat lebih terkontrol dan membuat seseorang lebih mudah disadarkan. Selamat saling mendukung dan berbagi kasih dengan adik dan keluarga, ya Claudia… .

bagaimana cara untuk move dengan cepat

Patah Hati, Bagaimana Cara Untuk Move On Dengan Cepat?

TANYA:

Terkait pacaran, patah hati, bagaimana cara untuk move on dengan cepat? Terima kasih.

Shireen, mahasiswi dari Yogyakarta

———-

move on (bahasa Inggris), sering diterjemahkan sebagai melanjutkan kehidupan, melepaskan diri atau bangkit dari keterpurukan setelah menghadapi masalah berat, termasuk putus dari pacar (Redaksi)

 

JAWAB:

bagaimana cara untuk move dengan cepat

Bagaimana cara untuk move on dengan cepat

Hai, Shireen. Menjawab pertanyaanmu tentang bagaimana cara untuk move on, ada beberapa prasyarat yang perlu dimiliki, yakni:

  • Sudah bisa menyadari apa yang dirasakan terhadap suatu hal yang mengganggu (apakah itu adalah rasa marah, rasa benci, kecewa, atau rasa lainnya), lalu…
  • Dapat berdamai dengan perasaan tersebut dan kemudian berlatih untuk menyadari kondisi diri,
  • Mempunyai atau mau membangun motivasi dari dalam diri untuk bergerak maju, dan…
  • Berkomitmen untuk melangkah walau diawali dengan langkah kecil.

Nah, proses itu memang sering sekali tidak mudah dilalui. Ada yang dapat move on dengan cepat,  ada yang butuh waktu lama untuk move on. Ada yang bisa move on secara mandiri, namun ada pula yang membutuhkan dampingan orang lain (teman, saudara, dll) terlebih dahulu untuk memahami apa yang sedang terjadi. Pendampingan itu bisa saja dibutuhkan pada proses atau tahapan tertentu (misalnya untuk membantu melihat dan mendefinisikan rasa sakit, atau  menemani berlatih berdamai dengan diri sendiri, memberikan dukungan atau motivasi), dan bisa jadi dibutuhkan seseorang dalam semua prosesnya.

Namun dari semua itu, kunci utama untuk dapat move on adalah, tidak memaksa diri untuk segera move on. Lho?! Terdengar aneh, ya? Maksudnya disini adalah, apabila kita merasa sudah ‘lelah’ berada dalam titik terpuruk ini, dan ingin berubah ke arah yang lebih baik tetapi masih terasa sulit sekali…, jangan dipaksa dulu. Karena semakin kita memaksa diri yang belum siap, justru luka yang lebih dalam sedang kita ciptakan. Selain itu, proses kedukaan atau keterpurukan sebetulnya telah memakan energi yang sangat besar dalam diri. Dan oleh karenanya, akan dibutuhkan pula energi yang cukup banyak untuk memulai langkah maju.
Baca juga: Putus Pacaran, Tapi Masih Sayang. Lalu Bagaimana… .

Sebaiknya, beri ruang pada diri untuk berada pada situasi-situasi yang lebih menyenangkan. Beri vitamin pada pikiran dan perasaan, misalnya dengan mendekatkan diri pada kehangatan dan kasih sayang dari orang-orang terdekat (keluarga, sahabat), dan melakukan hal-hal yang disukai (termasuk hobi). Ketika pikiran dan perasaan sudah lebih ‘diberi nutrisi’, maka proses untuk move on akan lebih mudah. Sayangnya, pertanyaan kamu datang setelah saya menyelenggarakan kelas pengembangan kepribadian tentang bagaimana cara untuk move on. Seandainya belum, kamu bisa mengikutinya. Atau mungkin kamu bisa terus memantau situs ini karena saya pasti mempublikasikan workshop-workshop pengembangan kepribadian yang saya ampu di sini. Selamat berproses, Shireen… .

pendiam-pemalu-sulit bergaul dengan teman

Agar Si Pendiam Tak Sulit Bergaul dengan Teman

TANYA:

Assalamualaikum. Saya mau konsultasi tentang permasalahan pribadi saya yang cenderung pendiam dan sulit bergaul dengan teman. Ketika berada di sekolah, saya bukan termasuk anak populer yang pintar bercakap-cakap, berceloteh, ngeyel, bercanda, dll. Ketika berada didalam perkumpulan/pergaulan, saya sangat pasif dan susah sekali mengawali pembicaraan apalagi berceloteh, bercanda, ngeyel dengan teman. Apakah ada hubungannya dengan masa lalu saya yang kelam atau ini sudah garis hidup saya sebagai anak remaja yang pendiam? Mohon bantuan dan solusinya. Terima kasih 🙂

Ravi, Jawa Barat
(pelajar, laki-laki, 17 tahun)

JAWAB:

Mengapa Saya Sulit Bergaul dengan Teman?
pendiam-pemalu-sulit bergaul dengan teman

Halo, Ravi, wa’alaikumsalam. Dalam menjalin hubungan atau suatu interaksi (termasuk pembicaraan) dengan orang lain, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi. Yang pertama adalah faktor dari dalam diri, misalnya:

  • motivasi: apakah seseorang itu memiliki keinginan untuk memulai dan menjalin pertemanan;
  • apakah seseorang memiliki keberanian sehingga keinginan menjalin interaksi dapat terwujud;
  • kepercayaan diri
  • kemampuan, keterampilan berkomunikasi verbal atau lisan (berbicara)

Selain itu, ada juga pengaruh dari faktor-faktor yang berasal dari luar diri, misalnya:

Pengalaman hidup seseorang dapat pula menjadi suatu hal yang mempengaruhi proses komunikasi, tetapi tidak secara langsung. Bila mengambil contoh dari apa yang kamu alami, pengalaman yang kamu sebut buruk atau kelam, misalnya, mungkin telah mempengaruhi motivasimu dalam berhubungan dengan orang lain. Atau bisa jadi ini berkaitan dengan kepercayaan diri kamu yang belum cukup tinggi sehingga mewujud sebagai kesulitan dalam menjalin hubungan dan pembicaraan.

Akan tetapi kamu perlu juga tahu, ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa memang ada sebagian orang yang tidak terlalu mahir berkomunikasi dan berhubungan sosial, atau sulit bergaul dengan teman, tetapi mereka punya kelebihan dalam hal-hal lain. Temuan penelitian tersebut menggambarkan bahwa dalam kehidupan ini setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Dan justru karenanya manusia akan saling melengkapi antara satu dengan yang lain, bukan?

Ada orang-orang yang memiliki kelebihan dalam berkomunikasi secara lisan sehingga terlihat sangat mudah bergaul dengan teman-teman, mudah menciptakan humor dan banyolan. Ada orang-orang yang lebih dikaruniai kemampuan menulis sehingga lebih mudah menyampaikan pikirannya dalam bentuk tulisan, dan karenanya menghasilkan novel-novel menarik. Demikian pula, ada orang yang lebih pandai berkomunikasi dan menyampaikan ide dalam bentuk gambar (visual) seperti komik, karikatur, lukisan, dan lain sebagainya.

Ketika kita bicara tentang kemampuan bergaul atau berhubungan sosial, akan lebih penting bagimu untuk memiliki kemampuan dasar berkomunikasi, yakni tentang bagaimana berbicara, menyampaikan pikiran dan perasaan dengan tepat, dan tidak menyakiti orang lain. Keterampilan ini akan membantu kamu agar tidak terlalu sulit bergaul dengan teman dan lebih mudah terlibat dalam pembicaraan mereka. Kuncinya adalah terus berlatih. Alah bisa karena biasa, kan.. . Bahwa mungkin kamu tidak menjadi ‘Sang Bintang yang Populer’ dalam interaksi sosial, sepertinya tidak perlu dirisaukan karena kamu pasti memiliki kelebihan dibidang lain. Temukan kelebihan itu dan asahlah sehingga membuat kamu semakin bersinar. Tetap semangat, Ravi!!

cara mencegah kenakalan remaja-komunikasi orang tua dan anak remaja

Bagaimana Orang Tua Perlu Merespon, Menindaki dan Memagari Kenakalan Remaja?

Baca juga tulisan sebelumnya:
» 1. Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja Yang Berujung Pada Pelanggaran Hukum
» 2. Wacana pemberian pendidikan moral (sebagai subjek pelajaran) di sekolah formal

Lalu apa yang dapat dilakukan? Secara sederhana dan mudahnya? Sebetulnya apa yang diperlukan sebagai sarana prevensi/pencegahan adalah sesuatu yang mudah dan sederhana namun pada masa sekarang menjadi sulit dan bahkan mahal. Ada setidaknya 2 hal yang menjadi dasar untuk prevensi agar remaja dapat terhindar dari perilaku kenakalan yang tidak terkontrol. Pertama adalah komunikasi dan kedua adalah mendampingi dan melatih mengenal dan mengelola emosi. Kedua hal tersebut perlu ditindaki mulai dari entitas sosial yang terkecil, yakni keluarga dan orang tua sebagai aktor utamanya.

Komunikasi antara anak dan orang tua yang dibutuhkan adalah bukan sekedar menyampaikan pesan ‘berita’ tentang diri dan aktivitas keseharian, seperti sudah makan, mau makan apa, salam pulang sekolah, dan seterusnya. cara mencegah kenakalan remaja-komunikasi orang tua dan anak remajaNamun yang lebih esensial dan penting adalah bagaimana hal-hal yang ada dalam diri dapat pula dipahami oleh pihak lain: apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anak dapat dipahami oleh orang tua dan sebaliknya. Pemahaman tersebut akan tercapai ketika ada proses komunikasi yang lancar serta kemampuan saling memahami, yakni empati.

Lalu yang kedua adalah bagaimana orang tua dapat menjadi pendamping anak dalam mengenali dan mengolah emosi yang sedang dirasakan, daripada sekedar memendam atau bahkan memaksa anak untuk tidak memiliki emosi tersebut. Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang merasakan emosi negatif, seperti marah, takut, atau sedih. Dorongan untuk menghapus atau ‘membunuh’ emosi-emosi negatif yang sedang dirasakan tersebut dapat menjadi bibit perilaku negatif yang bahkan dapat berakibat buruk pada jangka panjang.

Bagaimana mengenali dan mengelola emosi merupakan suatu bahasan yang panjang dan detail tersendiri. Namun demikian, pada masa sekarang, adanya akses informasi melalui internet dapat menjadi sumber bagi orang tua untuk mencari informasi seluas mungkin tentang bagaimana memiliki kemampuan mengenali emosi dan mengelolanya. Namun demikian, orang tua tetap perlu waspada dan teliti sehingga mengambil informasi dari sumber terpercaya. Dan jangan lupa juga, sebagai orang tua pun perlu mempraktekkan cara membiasakan diri untuk dapat mengenali, memahami dan mengelola emosinya; serta mencegah diri dari mengekspresikan ledakan emosi yang kurang tepat. Bagaimanapun perilaku orang tua sampai sekarang masih menjadi sumber referensi utama bagi anak/remaja dalam berperilaku.

-selesai-

pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologi

Wacana Pemberian Pendidikan Moral di Sekolah dan Kenakalan Remaja

Baca tulisan bagian sebelumnya » 1. Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja yang Berujung pada Pelanggaran Hukum

Wacana Pemberian Pendidikan Moral (sebagai Subjek Pelajaran) di Sekolah Formal

Setiap kali permasalahan kenakalan remaja mengemuka (apalagi diekspos media massa), isu yang kemudian berkembang adalah perlunya pemerintah menambahkan pendidikan moral atau budi pekerti dalam sistem pendidikan. Merespon tuntutan atau pertanyaan tersebut, saya rasa kita perlu pula berpikir bijak dan lebih terkendali. Perilaku yang akhirnya diberitakan biasanya adalah perilaku yang ekstrem, luar biasa, atau begitu mengherankan. Artinya, kita perlu pula berasumsi bahwa ada kemungkinan masih banyak perilaku negatif lain yang dilakukan remaja tetapi kurang disorot karena tidak terlalu memiliki kekuatan sebagai sebuah ledakan berita pada media massa.

Apakah kita harus menunggu sampai semua perilaku remaja itu memiliki kekuatan dahsyat sehingga dapat diberitakan? Karenanya, sepertinya yang lebih dibutuhkan adalah proses pengelolaan atau pengendalian yang paling mungkin (feasible) dilakukan dalam waktu dekat.

pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologiMengenai usulan menambahkan pendidikan moral-budi pekerti, apakah hal tersebut dapat berdampak jangka pendek ini, mengingat proses pengadaan sebuah mata pelajaran baru membutuhkan proses panjang? Di sisi lain, sebetulnya kita sudah memiliki modal sosial dalam sistem pendidikan kita, yakni adanya pelajaran agama, Pancasila dan  Kewarganegaraan, maupun Bimbingan dan Konseling. Jadi, apakah dengan menambah sebuah mata pelajaran baru akan menjadi jawaban? Mengingat sudah adanya mata pelajaran serupa sebelumnya pun perilaku negatif masih jamak ditemui?

Menurut saya, usulan menambah mata pelajaran baru seperti pada masa lalu berupa budi pekerti atau tata krama merupakan usulan yang positif. Namun, mengingat dibutuhkannya proses panjang maka akan ada waktu jeda di mana berarti tindakan akan tertunda pada waktu yang belum dapat ditentukan. Saya malah berpikir bagaimana cara memaksimalkan mata pelajaran yang saat ini sudah ada. Mata pelajaran seperti agama, pancasila, atau bimbingan/konseling sudah menjadi sarana yang cukup untuk memasukkan nilai-nilai positif.

Nah, yang saya amati belum optimal adalah bagaimana para remaja dan anak-anak dibimbing dan diajak untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih hanya memahami atau ‘hapal’ konsep dan teori… . Tentunya ini bukan perkara mudah, tidak semudah mengatakan atau menuliskan ide. Tetapi bukan berarti tidak mungkin, bukan? Alih-alih merancang suatu subjek pelajaran baru yang dapat memberikan dampak-dampak negatif lain, saya pikir akan lebih bijak dan efektif untuk saat ini bersama-sama antara pihak sekolah dan orang tua untuk dapat mengajak dan membimbing anak agar dapat menerapkan nilai-nilai positif kehidupan seperti yang dipelajari pada pelajaran pendidkan agama ataupun bimbingan konseling.

Hal lain yang juga perlu diingat adalah bahwa ketika seorang berperilaku negatif atau nakal bahkan melanggar hukum, bukan berarti ia tidak bermoral atau biadab. Kita sering kali lupa bahwa perilaku negatif tersebut dapat pula terjadi karena orang yang bersangkutan tidak mampu lagi mengelola pikiran atau emosi negatif di dalam diri, tidak tahu harus berbuat apa, tidak mendapatkan biimbingan, atau bahkan ketika sedang sangat beremosi negatif dan tidak mampu berpikir, lingkungan sosial justru bersikap semakin menghukum atau mengabaikan sehingga membuat si individu semakin ‘meledak’. Bila berdasar pada dinamika proses ini, maka pemberian pendidikan moral atau budi pekerti menjadi jawaban atau solusi yang agak jauh dari persoalan. Justru yang lebih dibutuhkan adalah bagaimana membantu atau memfasilitasi kita dan orang-orang di sekitar kita untuk belajar mengolah diri ketika emosi negatif bergejolak, memberi dukungan terhadap orang-orang yang sedang berkondisi negatif, serta membangun perilaku masyarakat yang tidak justru menjadi pemicu baru (seperti bergosip, mengabaikan, atau bahkan menyalahkan berlebihan).

Baca bagian selanjutnya » 3. Bagaimana Orang Tua Perlu Merespon, Menindaki Serta Memagari?