Tag Archives: masalah keluarga

kekerasan fisik dalam rumah tangga-kdrt

Stress Alami Kekerasan Fisik dalam Rumah Tangga

TANYA:

Maaf, Bu/Pak konselor KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org, saya ingin bercerita. Semenjak kecil saya mengalami kekerasan fisik dalam rumah tangga (KDRT), oleh orang tua saya. Saya mendapat cerita bahwa saya (sewaktu masih janin) dulu hendak digugurkan, tetapi tidak jadi. Selain itu, saya pernah mendapat pelecehan sek-ual dari kakak saya. Saya tidak mengerti apakah saya kehilangan keperawanan saya atau tidak karena saat itu saya masih kecil. Saya takut menceritakan hal ini kepada orang tua saya. Saya juga khawatir jika menikah Continue reading Stress Alami Kekerasan Fisik dalam Rumah Tangga

perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Perempuan Hebat Pun Lelah Menanggung Beban

Para konselor yang budiman, saya Fina, 27 tahun. Karakter saya agak sulit dijelaskan, bagi yang belum mengenal saya mungkin dibilang kaku, jutek, dll. Tapi bagi yang sudah kenal, saya sangat bersahabat, supel, fleksibel. Saya sangat sensitif. Menurut orang-orang disekitar saya, saya ini sangat mandiri, pekerja keras, berkeinginan kuat, tegar. Saya ingin konsultasi mengenai keadaan saya yang sudah saya rasakan sejak beberapa tahun lalu namun semakin parah sekarang ini. Saya merasa tertekan, sepi, sendiri, terbuang, stress, depresi. Saya lelah. Rasanya saya ingin pergi menjauh entah kemana, meninggalkan semua ini. Ingin ke tempat yang tenang, tanpa menanggung beban, tanpa memikirkan banyak hal.

Berikut saya ceritakan latar belakang keluarga saya. Saya anak ketiga dari empat bersaudara, anak perempuan satu-satunya. Kami keluarga yang bahagia. Saya sangat menyayangi orang tua saya juga saudara-saudara saya. Hubungan keluarga kami bisa dibilang sangat dekat dan baik. Kami bisa menjadi sahabat satu sama lain. Tidak ada kekakuan sama sekali. Saya sangat menyayangi orang tua saya. Kami dekat sekali, saya bisa bercerita apapun pada mereka (kecuali tentang asmara, karena memang saya tidak mau menceritakan kehidupan asmara saya). Komunikasi kami berjalan sangat baik. Ya, walaupun menurut saya masih ada kekurangan.

perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Mendapat Perlakuan Berbeda dari Keluarga

Ayah saya cukup disiplin dan Ibu saya sangat sabar, tidak pernah marah. Keluarga Ibu saya berasal dari keluarga Jawa tulen yang masih menganggap pria seperti raja sehingga pria tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dibebankan pada wanita. Nenek saya masih sangat memegang sekali prinsip ini. Sewaktu kecil, liburan sekolah menjadi momok tersendiri bagi saya karena saya dan saudara-saudara saya pasti dikirim untuk liburan di rumah nenek (orang tua tidak ikut karena harus bekerja). Di sana, selalu saya yang disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan rumah. Semuanya! Saudara saya tidak ada yang pernah disuruh. Saya merasa tertekan, seperti cucu yang terbuang. Jika ada Ibu, Ibu akan mengambil alih, membantu menanggung beban saya. Oiya, orang tua saya terutama Ibu tidak pernah menyuruh anak-anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kami mengerjakan dengan sukarela.

Pengaruh keluarga besar Ibu cukup besar terhadap keluarga saya, bisa dibilang keluarga saya lebih dekat dengan keluarga besar Ibu daripada keluarga besar ayah. Namun lama-kelamaan saya merasa tertekan karena mereka terlalu ikut campur, ya mereka dengan karakter yang sama menganggap bahwa pria itu seperti raja dan wanita seperti budak. Di keluarga saya sendiri, orang tua saya sebenarnya berusaha untuk tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya. Hanya sering saya merasa Ibu saya agak membedakan jika anak-anak memiliki permintaan, pasti saya yang selalu disuruh mengalah. Terkadang saya harus menangis/marah dahulu agar permintaaan saya dituruti. Saudara-saudara saya pun juga menyadari ini. Bahkan adik saya pernah bilang ke saya jika saya ingin sesuatu bilang saja padanya agar nanti dia yang meminta ke orang tua. Setiap permintaan adik selalu langsung dikabulkan oleh orang tua. Adik saya juga pernah bilang ke Ibu saya untuk lebih memperhatikan saya.

Terkadang saya berpikir apa saya ini anak angkat, kenapa saya selalu dinomorduakan, tidak pernah menjadi prioritas. Apa karena saya anak perempuan, padahal dimana-mana anak perempuan yang satu-satunya itu yang lebih diperhatikan. Hingga saat ini saya sering minta maaf ke orang tua jika mungkin saya ada salah besar atau kenapa. Dan orang tua saya selalu merespon bahwa saya tidak berbuat salah apa-apa, mereka bilang saya anak yang baik dan mereka merasa tidak pernah kesulitan dalam mendidik saya. Saya tahu bagaimana kerasnya orang tua saya bekerja untuk membiayai kami sehingga saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka. Sejak kecil saya selalu berprinsip untuk tidak membuat mereka sedih, kecewa, marah karena saya. Ini yang membuat saya untuk belajar baik dan tidak berbuat nakal (sebenarnya peluang untuk terjerumus ke hal-hal yang tidak baik itu terbuka sekali untuk saya karena saya jauh dari pengawasan orang tua, orang tua sering dinas luar untuk waktu yang lama).

Alhamdulillah prestasi saya di sekolah cukup baik. Pada akhirnya saya sering menggunakan uang beasiswa saya untuk membeli sesuatu yang saya inginkan (karena terkadang saya malas untuk minta ke orang tua yang ujung-ujungnya permintaan saudara-saudara dulu yang dipenuhi) dan untuk uang jajan saya (orang tua saya memberi uang jajan hanya jika anaknya meminta, saya meminta uang jajan hanya jika benar-benar sudah kehabisan dari uang). Saya mendapat beasiswa sejak SMP hingga sekarang. Terutama sejak kuliah, selain beasiswa saya juga kerja paruh waktu sehingga secara keuangan saya sudah benar-benar mandiri dari orang tua (seluruh saudara laki-laki saya hingga kini masih disubsidi orang tua bahkan kedua kakak saya yang sudah berkeluarga pun juga).

O iya, saat saya masih sekolah, saya tidak pernah merasa menanggung beban belajar. Saya menikmatinya. Belajar bagi saya menyenangkan, tiap saya sedang kesal, sedih atau marah pelampiasan saya pasti ke belajar, entah membaca atau mengerjakan soal-soal (ini berlaku saat saya masih sekolah SD-SMA, ketika kuliah tidak demikian). Orang tua saya juga tidak pernah menyuruh saya untuk belajar keras, menurut mereka selama saya bisa mengikuti pelajaran di sekolah itu sudah cukup, tidak harus jadi juara kelas.

Menanggung Beban Atas Pengharapan yang Tinggi

Ada hal yang tidak saya sukai dari orang tua saya, mereka suka menceritakan tentang prestasi saya ke orang lain (entah keluarga besar maupun teman-temannya). Saya sangat tidak suka hal ini. Mungkin prestasi saya ini menjadi kebanggaan untuk mereka namun saya tidak suka jika dipamer-pamerkan ke orang lain. Orang tua saya sering membedakan saya namun mereka memamerkan prestasi saya ke orang lain. Saya merasa menanggung beban yang semakin bertambah tiap kali mereka menceritakan prestasi saya. Saya merasa tertekan. Dan sekarang rasanya sudah berat sekali beban di punggung ini. Saya harus menjaga prestasi saya padahal itu tidak mudah, harus kerja keras. Padahal saya juga ingin sedikit santai. Orang-orang di sekeliling saya seakan memiliki pandangan tinggi terhadap saya padahal saya merasa saya biasa saja, saya tidak sehebat itu, sehingga mereka memiliki pengharapan yang tinggi terhadap saya.

Saya lelah. Puncaknya saat saya diajak berbicara 4 mata dengan ayah saya, di usianya yang senja beliau meminta saya untuk mengambil alih posisinya sebagai penanggung jawab keluarga jika beliau sudah tidak mampu nantinya, beliau bilang saya satu-satunya anak yang bisa beliau harapkan untuk memikul tanggung jawab tersebut. Menurut beliau saudara-saudara saya kurang bisa diandalkan untuk peran tersebut karena mereka kurang memiliki tanggung jawab akibat terlalu dimanjakan saat kecil. Beliau menyesal terlalu memanjakan mereka. Saat itu saya berpikir, saya punya 3 saudara yang semuanya lelaki, kenapa peran itu diserahkan ke saya yang anak perempuan. Kenapa saya lagi yang menanggung beban, biarkan saya santai. Bertambah lagi beban di punggung. Saya capek. Letih. Merasa tertekan. O iya, cita-cita saya menjadi Ibu rumah tangga. Sejak SMA saya ingin menjadi Ibu rumah tangga. Lulus S1, karena saya belum bertemu dengan jodoh saya dan saya mendapat tawaran lanjut S2 jadi lah saya langsung melanjutkan pendidikan saya.

Tambatan Hati Minder pada Capaian Saya

Saya pernah memiliki hubungan dekat (bukan pacaran, bisa dibilang sahabat atau teman tapi mesra) dengan teman pria saat akhir SMA, teman ini sangat baik sekali, cerdas, pintar namun sangat sensitif hatinya. Kami memiliki visi yang sama. Bahkan kami sudah merencanakan apa yang akan kami lakukan selepas kuliah. Hidup saya terasa lengkap dengannya. Saya sangat menyayanginya, sepertinya dia pun begitu, dia cukup posesif terhadap saya. Dia tidak pernah menyatakan dia menyukai saya namun dia hanya bilang bahwa saya orang pertama yang bisa membuatnya tersenyum dengan tulus dan dia meminta saya untuk tidak meninggalkannya. Hingga suatu ketika dia menelepon saya (rutinitas telepon) saat itu saya sedang kurang sehat dan tidak ingin memperpanjang percakapan di telepon (karena ingin istirahat), mungkin ada kalimat saya yang tidak berkenan dihatinya hingga dia memutus telepon begitu saja dan pergi dari hidup saya tanpa saya tahu masalah intinya. Tanpa saya punya kesempatan untuk meminta maaf. Dia hanya kirim email yang menyatakan maaf jika dia berubah. Saya tahu dia memiliki hati yang sangat sensitif seharusnya saya bisa menjaga perkataan saya.Sampai saat ini saya masih dibayang-bayangi rasa bersalah. Saya frustrasi karenanya.

Sekarang saya melanjutkan pendidikan saya. Saya pernah mencoba untuk membuka hati saya, dua kali saya dekat dengan pria, namun gagal untuk lanjut. Dengan alasan yang sama, mereka minder. Minder dengan pekerjaan saya, dengan pendidikan saya, dengan keluarga saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Cita-cita saya menjadi istri yang baik dan patuh untuk suami saya dan Ibu yang baik untuk anak-anak saya. Untuk pria yang terakhir, saya pernah bilang saya akan meninggalkan pekerjaan saya dan mengabdi untuknya namun dia bilang saya terlalu berkorban dan sayang dengan pendidikan saya (saat itu saya sudah lulus S2). Selain itu dia minder pada saya dan keluarga saya, padahal dia juga memiliki pekerjaan yang baik walaupun pendidikannya masih di bawah saya, jujur sebenarnya justru saya yang minder dengannya. Saya merasa terbuang karenanya.

Setelah lepas darinya, saya mendapat tawaran kuliah S3. Saya ambil tawaran tersebut. Sekarang saya di suatu kota kecil di Eropa, nun jauh dari Indonesia. Berharap bisa melupakan semuanya. Namun, yang saya rasakan sekarang saya hampa, kosong, sepi, sendiri, depresi, frustrasi. Bahkan saya tidak dapat berkonsentrasi pada studi saya (saya rindu diri saya saat masih sekolah, yang senang belajar, yang pelampiasan segala sedih/marah ke belajar). Saya sering merenung apa pekerjaan yang saya ambil ini salah, apa studi yang saya ambil ini salah, apa saya sudah salah memilih jalan hidup. Mengapa mereka begitu minder pada sesuatu yang bahkan saya tidak mempermasalahkannya. Saya jadi minder, sangat minder. Iri rasanya melihat kawan-kawan yang hidupnya terlihat mengalir bahagia. Ingin seperti mereka. Belum lagi anggapan orang-orang yang sering bilang saya menunda/tidak ingin menikah karena studi saya, anggapan mereka yang saya terlalu pemilih, terlalu tinggi kriteria. Saya ingin teriak tidak benar saya menunda atau pun pemilih. Rasanya ingin pergi saja yang jauh, di tempat saya tidak harus berpikir, bebas dari menanggung segala beban, bebas dari tanggung jawab. Saya lelah. Saya ingin dipahami. Saya ingin berbagi. Saya ingin disayangi. Mohon maaf atas keluh kesah yang sangat amat panjang ini. Saya mohon pencerahannya.

 

JAWAB:

Hai Asri…, saya dapat menangkap gambaran perasaan dan kondisi yang berkecamuk dalam dirimu selama ini. Satu hal yang saya harapkan kamu sadari adalah: bahwa dalam setiap kesulitan dan ketidaknyamanan hidup, kamu terbukti mampu mengambil langkah positif sehingga tidak merugikan dirimu dan keluargamu. Kamu perlu menghargai dirimu atas segala upaya yang telah kamu lakukan tersebut, karena sebetulnya tidak mudah, lho. Lebih banyak orang di luar sana yang ketika mengalami kesulitan dan cobaan hidup sepertimu justru cenderung memilih untuk menyalahkan orang lain, bertindak seenaknya, dan bahkan melarikan diri dengan perbuatan-perbuatan hedonis yang sebetulnya justru merusak diri sendiri. Kamu perlu menghargai dirimu untuk pilihan dan kemampuanmu bertindak positif tersebut.

Baca juga » Merindukan Kasih Sayang Ibu

Perjalanan hidup selama ini sepertinya membuatmu kemudian menempatkan diri sebagai ‘korban’ yang menanggung beban, dan tidak jarang juga menumbuhkan konsep diri seperti tak berdaya untuk memberontak karena adanya norma-norma atau harapan-harapan yang mengikatmu, ya? Kamu sepertinya cukup mampu untuk membuat keputusan penting untuk dirimu, hanya saja perhatian dan ikatanmu terhadap orang tua dan keluarga telah mengarahkanmu pada keputusan yang lain. Di satu sisi kamu merasakan adanya kepuasan karena dapat memenuhi harapan mereka, tetapi ternyata disisi lain banyak hal yang terus saja kamu pendam karena kekecewaan. Sayang sekali, kekecewaan dan emosi-emosi negatif yang berusaha kamu pupus atau kamu hilangkan tersebut ternyata tidak pergi dari dirimu namun justru menjadi berkerak dan cukup mempengaruhi langkahmu.

Ada dua hal besar yang perlu kamu lakukan. Pertama adalah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Maksudnya adalah proses dimana dirimu menerima adanya pengalaman-pengalaman tersebut. Mengapa demikian? Karena senyatanya hal-hal (pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan) tersebut ada, menjadi bagian dalam kehidupanmu, termasuk juga rasa-rasa negatif yang pernah kamu alami. Proses tersebut tidak hanya bertujuan sekedar menerima dengan pasrah dan pasif. Sikap menerima dengan pasif justru hanya memenuhi tubuh dan pikiranmu dengan ‘sampah-sampah’ akibat secara tidak sadar memaksa diri menerima sesuatu yang tidak disukai.Proses ini lebih bertujuan untuk belajar melihat bahwa berbagai pengalaman negatif, beban, pengalaman yang sebetulnya baik tetapi kemudian menjadi tidak menyenangkan karena tuntutan sosial. Juga menerima perangai dan karakter keluargamu merupakan bagian dari kehidupan, dan mengidentifikasi apa yang sebetulnya kamu rasakan; dan bagaimana sebetulnya keinginan kamu. Yang tak kalah penting, belajar memaafkan kondisi-kondisi tidak nyaman dan menyakitkan tersebut. Oleh karena perjalanan persoalan dan pengalaman negatif yang kamu alami sudah cukup panjang dan berliku maka saya sarankan padamu untuk menemui psikolog. Seorang psikolog pendamping dapat membimbingmu menerima diri dan berdamai dengan masa lalu yang cukup kompleks.

Hal kedua yang kemudian perlu kamu lakukan adalah merancang masa depanmu dengan fokus pada kebahagiaan dan cita-cita yang kamu inginkan. Dalam proses merancang masa depan ini, kamu perlu pula memasukkan rancangan sikap dan peran yang sesungguhnya ingin mulai kamu bangun dalam hubungan dengan orang-orang terdekatmu, seperti keluarga inti, keluarga besar maupun sahabat atau teman. Ketika sudah memasuki aktivitas merancang, lepaskan terlebih dahulu norma-norma atau tuntutan yang melingkupimu. Tuliskan saja apa yang menjadi harapan dan keinginanmu yang sejujurnya. Tulis sedetil dan sebanyak mungkin. Jangan ada batasan-batasan. Kemudian, tuliskan langkah-langkah praktis untuk meraih impian atau cita-citamu tersebut. Setelah semua tertuliskan, maka barulah kamu dapat melihat kembali dengan memperhatikan tuntutan, norma atau idealisme yang menjadi atmosfer kehidupanmu. Lihat kedua sisi tersebut, kenali manakah langkah atau impianmu yang ternyata cenderung berbentrokan dengan berbagai atmosfer batasan. Kemudian, atas bentrokan tersebut, tuliskan bagaimana kamu ingin berdamai atau mengambil jalan tengahnya? Ini akan menjadi sarana berlatihmu agar dapat menyampaikan secara asertif (jujur) ketika nanti berhadapan dengan kehidupan nyata. Langkah kedua ini pun tidak mudah biasanya, karena ada kemungkinan-kemungkinan emosi-emosi negatif dari masa lalu kembali muncul, sehingga akan sangat baik bila kamu didampingi seorang profesional (psikolog) dalam proses perencanaan internalmu tersebut.

Kemudian, tentang kerinduanmu terhadap seorang pendamping, dimana saya mulai melihat adanya rasa penyesalan karena kamu sudah mencapai S3. Menurut saya, sebaiknya kamu berfokus saja pada mencari teman yang nyaman dan menyenangkan untukmu, termasuk teman lawan jenis. Ketika seseorang sudah nyaman berinteraksi dengan kita, maka batasan-batasan terkait dengan berbagai hal termasuk akademik akan lebih mudah dinegosiasikan dan didiskusikan. Apabila kamu berfokus pada mencari seseorang yang dapat menjadi pasanganmu, orang lain justru tidak akan mampu menangkap sisi dirimu yang sebenarnya karena pesan yang mereka tangkap dari dirimu tidak lengkap. Selain itu, ketika kamu sibuk dengan kegelisahan mencari pasangan, kamu pun jadi tidak menikmati kehidupanmu, bukan? Kamu jadi tidak dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang teman-teman di sekitarmu, bukan? Kondisi tersebut pun akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman berhubungan denganmu, lho… .

Sepertinya banyak PR yang Fina perlu kerjakan. Namun demikian, sebaiknya kamu menjalaninya sambil mengalir saja, ya. Tidak perlu merasa cemas, atau khawatir berlebihan. Tentukan mana dulu yang ingin kamu lakukan agar kamu tidak justru menanggung beban tambahan. Selalu ingat bahwa seluruhnya membutuhkan proses. Oke Fina yang baik hati, selamat mengelola diri dan tetap semangat, yaaa… .

masalah ekonomi konflik keluarga

Masalah Ekonomi Keluarga, Urusan Siapa?

TANYA:

Saya hendak curhat masalah ekonomi keluarga. Bagaimana menghadapi keluarga yang sering lempar tanggung jawab tentang ekonomi keluarga. Dan bagaimana sebaiknya saya bersikap dalam menghadapi masalah dengan bapak dan ibu saya ini?

Khalid – Semarang (karyawan, 20 tahun)

 

JAWAB:

Masalah Ekonomi Keluarga, Siapa Bertanggung Jawab?

masalah ekonomi konflik keluarga

Keluarga dapat diandaikan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar. Untuk dapat membuat kapal tersebut berlayar baik dan mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan, bahkan saat badai datang, perlu adanya kerja sama antara para awak kapal, termasuk antara nahkoda dan anak buah kapal. Demikian pula, dalam keluarga, membutuhkan adanya kerja sama antara sang kepala rumah tangga, partner (yaitu suami atau istri) dan seluruh anggota keluarga agar tujuan kehidupan keluarga dapat tercapai. Termasuk dalam persoalan ekonomi.

Persoalan saling lempar tanggung jawab urusan ekonomi dalam sebuah keluarga dapat terjadi karena berbagai persoalan sebelumnya, misalnya karena tidak adanya kesepakatan antara suami dan istri sejak dari awal pernikahan; atau adanya persoalan tak terduga pada sang penanggung jawab utama keuangan (misalnya kepala keluarga di-PHK atau jatuh sakit). Akan tetapi, persoalan juga dapat bersumber dari hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan persoalan ekonomi, misalnya suami bersikap lepas tangan dari ekonomi keluarga karena menganggap istri telah lalai dari kesepakatan terkait perannya dalam rumah tangga dan sebagainya.

Nah, untuk dapat mengurai dan menumbuhkan sikap kerja sama dalam memenuhi ekonomi rumah tangga dan bukannya saling lempar tanggung jawab, Khalid perlu memahami dan memperoleh informasi sejelas dan selengkap mungkin tentang riwayat bagaimana kesepakatan antara kedua orang tua, dalam berbagai hal, sampai akhirnya kondisi tersebut terjadi. Namun demikian, posisimu sebagai anak sering kali membuatnya menjadi tidak mudah. Hal ini terjadi karena ada orang tua yang tidak mau terbuka pada pihak lain, anaknya sekalipun, berkaitan dengan pengelolaan ekonomi keluarga. Bagaimana dengan orang tuamu? Akan lain ceritanya apabila orang tua bersikap terbuka, mau untuk diajak berdiskusi dan bekerja bersama mengurai pola tidak sehat dalam keluarga yang sedang terjadi, dalam hal ini, saling lempar tanggung jawab ekonomi keluarga.

Merujuk pada ceritamu yang sangat singkat, saya tidak dapat membantu menggambarkan lebih banyak tentang persoalan saling lempar tanggung jawab tersebut. Namun, saya rasa, sepertinya akan lebih bijak dan bermanfaat bila kamu membantu kedua orang tua untuk menyadari bahwa mereka lebih sering bersikap tidak efektif karena saling lempar hal tanggung jawab ekonomi, sehingga justru akan menimbulkan berbagai masalah, daripada menyelesaikan persoalan. Ketika mereka sudah menyadari perilaku tidak efektif yang sedang berlangsung ini, kamu akan lebih mudah mengajak mereka untuk bekerja sama dan melakukan perannya masing-masing. Dengan demikian, pola saling melempar tanggung jawab pun akan hilang. Ingatkan orang tua bahwa keluarga adalah proses bersama, kerja sama, saling mendukung dan bukan justru menang-kalah atau sikap menguasai-dikuasai.

Apabila situasi tampak memungkinkan, cobalah pula untuk membuka kemungkinan peran apa yang dapat kamu ambil dalam situasi ini, apakah ada hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu mereka sehingga situasi menjadi lebih baik. Untuk dapat menjadi penengah, cara paling mudah untuk mengawali adalah dengan memulai bicara dari hati ke hati dengan mereka. Awali dahulu dengan cerita-cerita ringan baru setelah orang tua terlihat lebih terbuka, kamu dapat mulai masuk pada topik yang menjadi keprihatinanmu ini. Sebaiknya, kamu berbicara pada pihak per pihak terlebih dahulu, bukan langsung berbicara bertiga. Apabila memang mereka sepertinya sulit diajak bicara, cobalah dengan kamu bersikap terbuka terlebih dahulu terhadap mereka. Kamu bisa membuka diri dengan bercerita terlebih dahulu tentang persoalan dan hal-hal pribadi kamu sehingga mereka bisa merasakan kedekatan denganmu.

Namun cara di atas mungkin tidak perlu dilakukan jika hubungan dan komunikasimu dengan kedua orang tua telah berjalan baik. Ketika mereka sudah mulai bercerita atau bahkan meminta pendapatmu tentang persoalan yang sedang dihadapi, maka artinya mereka telah terbuka untuk melibatkanmu dalam persoalan antara mereka. Selain memberi jawaban atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi, jangan lupa beri dukungan kepada mereka, ya. Yakinkan bahwa kamu ada selalu untuk mereka, dan bersedia membantu sesuai kemampuanmu. Pernyataan ini akan mampu menghadirkan rasa terdukung secara psikologis, dan bahkan dapat meningkatkan motivasi mereka untuk berjuang menyelesaikan situasi sulit ini.

Meski demikian, saya sarankan kamu berhati-hati dalam memilih kata saat menyampaikan itu, ya. Tetaplah bersikap hormat dan jaga pula sikapmu, bagaimanapun kamu adalah anak mereka. Usahakan agar jangan sampai bersikap dan berkata terlalu menggurui sehingga justru akan menimbulkan persoalan baru. Oke Khalid, selamat menjadi mediator dan suporter untuk keluarga tercinta. Semoga masalah ekonomi keluarga ini segera terselesaikan, ya… .

cara orang tua bicara pd anak remaja

Konflik Orang Tua-Anak: Ayah Bingung Sikapi Anak Perempuan Remaja

TANYA:

Berbicara dengan Anak Remaja · Putri saya, 14 tahun, tidak suka pada saya sebagai ayahnya. Tiap kali diajak komunikasi selalu menolak. Diajak main tidak mau, diajak jalan tidak mau. Dia hanya berdiam diri sepanjang hari dengan IPad-nya. Saya sangat prihatin. Padahal saya tidak pernah berbuat kasar, marah, atau apapun yang membuat dia marah pada saya sebelumnya. Perubahan perilaku negatif ini terjadi sejak umur 7 tahun. Tetapi tidak demikian sikap dia kepada ibunya. Sangat antusias dan bersemangat. Saya frustrasi. Apa yang harus saya lakukan sebagai ayahnya untuk memperbaiki keadaan buruk ini? Please advice. Thanks.

Bp. Andre – Jakarta (karyawan, 46 tahun)

 

JAWAB:

Halo, Pak Andre… . Menghadapi anak yang menginjak remaja memang gampang-gampang susah. Pada keluarga dengan anak berusia remaja, konflik antara orang tua dengan anak memang sangat mudah terpicu. Hal ini salah satunya dipengaruhi oleh adanya jarak psikologis yang sering disebut dengan generation gap (jurang generasi), yakni adanya jarak atau perbedaan cara berpikir antara anak dan orang tua yang kemudian berujung pada konflik-konflik tertentu.

Generation gap juga dapat terjadi karena adanya perbedaan acuan, misalnya orang tua memiliki pemikiran tertentu karena didasarkan pada aturan, norma, baik buruk, atau pemikiran mendalam. cara orang tua bicara pd anak remajaSementara remaja sering kali berpikir lebih sederhana dan praktis, melakukan sesuatu berdasarkan apa yang disukai atau tidak disukai, atau berdasarkan pada keinginan sesaat. Pola konflik pun beragam, ada yang justru terjadi antara orang tua dan anak yang sesama jenis (misalnya, ayah dengan anak laki-laki; atau ibu dengan anak perempuan) atau antara anak-orang tua berlainan jenis (anak laki-laki menjadi sangat memusuhi ibunya, atau anak perempuan menjadi sangat memusuhi ayahnya). (Baca juga: Ibu Kesulitan Memahami Anak Lelaki yang Beranjak Remaja)

Untuk dapat meminimalkan munculnya generation gap dan konflik antara orang tua dengan anak remaja, langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengenali apa yang menjadi penyebab suatu konflik atau perbedaan pendapat. Dari apa yang sudah disampaikan, Pak Andre terlihat sudah berusaha untuk mengingat kembali, apakah ada peristiwa atau kejadian yang membuat hubungan menjadi tidak nyaman dengan anak, anak menjadi kecewa, sakit hati atau ada rasa-rasa negatif terhadap Pak Andre. Namun sampai sekarang Pak Andre belum mampu menemukan apakah yang menimbulkan kondisi hubungan negatif dengan anak tersebut.

Pada remaja, adanya perubahan pada fisik sering kali sudah akan menimbulkan gejolak-gejolak perasaan negatif atau tidak nyaman. Dalam situasi tersebut, stimulus kejadian tertentu yang mungkin hanya sedikit saja menimbulkan suasana tidak nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain sudah dapat menjadi pemicu konflik antara si remaja dengan orang lain. Nah, apabila menurut amatan atau koreksi Pak Andre tidak ada peristiwa tidak menyenangkan yang terjadi, coba amati atau periksalah apakah sang anak masih mengalami fase perubahan fisik yang menimbulkan suasana tidak nyaman dalam dirinya? Atau apakah ada perilaku, sikap, atau karakter Pak Andre yang menjadi stimulus tidak menyenangkan bagi sang anak?

Kerja Sama Ayah Ibu (Orang Tua) Bicara dengan Anak Remaja

Saat ini komunikasi langsung dengan sang anak terlihat belum dapat berjalan mulus. Namun demikian, Pak Andre perlu bersyukur karena komunikasi sang anak dengan ibu dapat terjalin, bahkan sangat dekat. Menurut saya, sebaiknya Pak Andre perlu …» baca lanjutannya «