akibat orang tua bercerai pada anak remaja-dampak perceraian_rjpg

Orang Tua Bercerai, Anak Memendam Perasaan

TANYA:

Sejak saya SD, orang tua bercerai. Sebelum bercerai, mama papa saya pernah bertengkar di hadapan saya. Waktu mereka bercerai, saya tidak menangis dan tidak merasa kehilangan. Saya tidak tahu apa yang saya rasakan. Saya cuma merasa baik-baik saja. Kalau orang tua saya bertanya seputar hal-hal itu, saya merasa tidak nyaman dan tidak ingin membahas. Makanya saya selalu bilang tidak apa-apa. Saya tidak mau membuat mereka khawatir. Mereka sekarang sudah menikah dengan orang lain. Sekarang saya baru merasa keluarga saya berbeda dari keluarga-keluarga lain. Dulu saya tidak merasa terganggu dan tidak mau memikirkan apa yang terjadi dengan kehidupan keluarga saya. Tapi semakin saya besar, saya belajar psikologi, dan saya merasa banyak hal dari diri saya yang bermasalah.

Sekarang saya tinggal bersama mama dan ayah tiri, kurang lebih sudah 6-7 tahun. Semenjak serumah mama dan ayah sering bertengkar gara-gara saya atau kakak saya. Mungkin karena perbedaan cara didik antara mama papa saya dulu dengan ayah tiri saya. Mama sangat terbuka pada anak-anak, demokratis, dan pikirannya tidak kolot. Sedangkan ayah tiri saya, kaku dan tertutup pemikirannya. Dia tidak pernah mau mendengar pendapat orang lain. Dia selalu membandingkan diri dia atau kehidupan zaman dia dengan saya atau kakak. Kalau ayah saya marah, dia kasar sekali. akibat orang tua bercerai pada anak remaja-dampak perceraian_rjpgSelalu melontarkan kata-kata kasar ke mama. Mereka sering berantem di depan saya. Bahkan, sampai main tangan. Pernah suatu ketika, mama dan ayah bertengkar di rumah, mama menangis karena dipukul, lalu berlari ke kamar saya. Ayah mengejar, tapi pintu saya kunci, dan ayah menggedor-gedor pintu hampir mendobraknya. Itu kejadian yang paling saya ingat. Ayah sering sekali marah hanya karena hal-hal kecil. Dia itu posesif dan cemburuan. Bahkan saya pun dia cemburui kalau mama lebih mementingkan saya.

Saya tidak pernah cerita pada siapapun, tentang apa yang sebenarnya saya rasakan. Bahkan sahabat saya saja tidak tahu kalau saya anak dari orang tua bercerai. Saya menyembunyikannya dari mereka karena saya takut mereka tidak bisa menyimpan rahasia, atau menilai yang tidak-tidak tentang keluarga saya. Saya rasa lebih baik mereka tidak tahu karena ini masalah saya. Mungkin juga saya kurang percaya mempercayakan rahasia keluarga kepada orang lain. Tetapi semakin saya besar, ternyata semakin banyak perselisihan di rumah… .

Hubungan saya dan mama sekarang tidak seakrab dulu walaupun masih dekat. Saya sekarang lebih menjaga jarak dari mama, terutama kalau ada ayah saya. Menurut ayah, saya sudah besar dan tidak perlu semua-semua diceritakan pada mama. Ayah tiri saya itu sangat manja dan tergantung pada mama, segala hal harus disiapkan mama,dan kemana-mana harus ditemani mama. Bahkan mama, aku dan kakak, sudah tidak pernah jalan-jalan bertiga saja. Untuk mengobrol curhat saja susah banget. Ayah tiri saya itu bukan tipe ayah yang mengayomi dan mengerti keluhan anak. Saya merasa canggung berdua saja dengannya karena dia kaku. Saya kasihan, merasa bersalah dan sedih kalau melihat mama dikasari secara lisan maupun fisik oleh ayah, apalagi kalau gara-gara saya. (Baca juga: Ingin Melindungi Ibu dari Ayah yang Suka Memukul)

Dulu saya masih menganggap keluarga saya baik-baik saja. Saya selalu memperlihatkan pada orang lain kalau saya baik-baik saja. Tapi terkadang, ada saat saya merasa sedih sekali tentang keluarga saya, lalu saya menangis diam-diam menangis di kamar malam-malam. Mungkin karena saya tidak tahan. Kemarin ayah marah pada mama dan berkata, “Anak sama ibu sama saja, nggak mau disalahkan, bla bla bla… .” Beberapa hari sebelumnya dia juga marah. Sayasebal dan membanting pintu kamar atas. Waktu itu dia di ruang bawah, hendak pergi keluar. Tahu-tahu, dia masuk lagi lalu marah dan berteriak-teriak memarahi saya, “Anjing, monyet, bla bla bla…”. Memang, semakin kesini, hubungan saya dan ayah tiri saya kurang baik. Saya sudah tidak tahan. Oh iya, seringkali ketika bertengkar dengan mama, dia mengungkit kesalahan saya atau kakak saya. dampak orang tua bercerai pada perasaan anak-remajaBeberapa kali kalau saya berantem dengan ayah, saya menangis di kamar, dan mama mendatangi saya di kamar.

Setelah kuliah, saya merasa lebih sering berontak. Saya juga mulai merasa tidak nyaman di rumah. Saya sering menangis sendiri di kamar, dan mengingat-ingat masa kecil saya. Kalau ada orang bertanya tentang ayah atau keluarga saya, entah mengapa tiba-tiba saya merasa sedih. Itu baru saya sadari ketika saya bercerita tentang ayah pada kakak saya, suara saya tiba-tiba bergetar dan seperti mau menangis. Padahal selama ini saya menganggap saya tidak apa-apa, dan bahwa semua ini bukanlah sesuatu yang sangat berat. Sekarang saya moody (tergantung suasana hati) sekali. Hari-hari saya kebanyakan membosankan. Saya juga lebih sering menghabiskan waktu di kamar sendiri. Yang paling parah, tiap saya dekat dengan teman pria, selalu ada hal yang membuat saya menjauh. Sampai saya dibilang pemilih. Sebenarnya saya dulu beberapa kali pernah pacaran, tapi semakin kesini saya semakin berhati-hati dalam berkomitmen. Saya selalu mencari kekurangan-kekurangan dari cowok-cowok (teman pria) itu sampai akhirnya tidak jadian (berkomitmen pacaran). Sebenarnya mungkin saya cuma takut berkomitmen dan takut dikecewakan. Saya baca, pengalaman mempunyai orang tua bercerai, mempengaruhi hubungan pacaran, ya?

Sisi, 19 tahun

JAWAB:

Orang Tua Bercerai, Anak Memendam Perasaan

Halo Sisi… . Saya turut prihatin dengan kondisi kamu. Sisi yang baik, sebenanrnya karena kamu juga mempelajari psikologi, tentunya kamu sudah lebih paham atau punya gambaran tentang apa yang terjadi pada dirimu. Bila pertanyaanmu adalah, ‘Apakah pengalaman mempunyai orang tua bercerai mempengaruhi hubungan pacaran?’, jawabannya: tidak selalu. Artinya, pengalaman seseorang dengan orang tua bercerai dapat berpengaruh besar dan bisa juga tidak terlalu berpengaruh karena ada berbagai faktor yang berkontribusi. Misalnya saja, kemampuan si anak dalam mengelola emosi, keterampilannya mengembangkan diri setelah apa yang terjadi, dan kemampuannya berdamai dengan pengalaman yang kurang menyenangkan tersebut.

Saya melihat sepertinya Sisi terlalu sering memendam berbagai persoalan, dan menyimpannya rapat-rapat, dan sudah terlalu lama… . Persoalan, pikiran, dan emosi-emosi negatif itu sebetulnya sampah bagi diri kamu, kan? Apabila ‘sampah’ itu terus disimpan, tentu ruang penyimpanan semakin penuh dan tidak ada ruang lagi untuk menyimpan sampah baru. Kita andaikan dengan sebuah kantung plastik yang diisi kerikil. Ketika kantung plastik itu sudah penuh, tetapi masih terus diisi kerikil lagi, maka suatu ketika kantung plastik akan jebol dan kerikil-kerikil isinya jatuh bertebaran. Demikian juga dengan diri kamu, diri kita, ketika diri ini sudah ‘terlalu penuh’, kita tinggal menunggu waktu kapan meledak, kapan jebolnya. Apa bentuknya? Bentuknya bisa macam-macam, misalnya menangis, depresi, atau gangguan mental lainnya… . Nah, kondisimu yang menjadi moody (sesukanya), terlihat pemilih, lebih suka mengurung diri di kamar, ataupun kurang bersemangat, tampaknya disebabkan oleh kurang terolahnya kondisi diri dan emosi kamu. Sisi, sebaiknya kamu menemukan seorang profesional (konselor, psikolog) untuk mendampingimu dalam melepaskan beban emosi. Dia (konselor, psikolog) akan membantumu memperkuat ketahanan mental, dan mendampingimu belajar mengelola diri. Atau, kamu bisa saja menemui salah satu dosen yang kamu percayai dan yang menurutmu cukup nyaman membicarakan isi hatimu.

Mungkin kamu tidak akan mampu mengubah kondisi atau persoalan saat ini. Mungkin kamu seakan tidak dapat berbuat apa-apa kaitannya dengan interaksi atau pola hubungan mama dan ayah tiri kamu, apalagi mengubah perilaku ayah yang ‘kasar’ itu. Namun, dengan belajar mengelola emosi dan berdamai dengan dirimu sendiri, kamu dapat menjadi seorang yang berkepribadian lebih kuat. Kamu akan dapat berdiri sendiri, dapat lebih tahan terhadap situasi berat yang mau tidak mau akan kamu hadapi, dan kamu tetap akan menjadi seseorang yang berhasil.

Ketika pada akhirnya kamu menjadi seorang yang mantap, mandiri, dan sukses, niscaya kamu akan dapat berbuat sesuatu atau bahkan mengubah kondisi mama kamu agar lebih baik. Kamu perlu kekuatan untuk dapat terus maju dan melakukan perubahan, baik untuk dirimu sendiri, maupun keluargamu. Apabila kamu membutuhkan kontak psikolog yang ada di sekitar tempat tinggalmu, kami dapat membantu menghubungkanmu dengannya. Tetap semangat, ya Sisi. Masa depanmu masih cerah, dan masih banyak orang di luar sana yang memiliki kepribadian baik dan dapat diajak untuk bekerja sama mencapai cita-cita kehidupan yang lebih baik. 🙂

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

15 thoughts on “Orang Tua Bercerai, Anak Memendam Perasaan

  1. Ibu saya meninggalkan saya ketika saya berumur 4 bulan dan ayah saya pergi mencari ibu saya ketika saya berusia 4 tahun .
    Ketika saya SD ayah dan ibu bercerai . ibu saya sudah menikah dan mempunyai anak . saya tidak tahu dimana ayah saya . saya tinggal bersama nenek dan kakek tiri saya .
    Orang sering mengatakan kalau saya anak yang tidak dipedulikan orang tuanya .
    orang tua saya yang bercerai kenapa saya yang harus menderita?
    Kenapa saya yang di hina?
    Kenapa saya yang di salahkan?
    Apakah salah jika saya sangat membenci orang tua saya?

  2. Gimana sih cara ngejelasin atau cara melampiaskan rasa bahwa kami anak yg orangtuanya bercerai, kami yg tinggal dgn ibu kndung dan ayah tiri merasa bahwa kami ini tertekan,kami ini sedih,kami ini marah,kami ini stres,kami ini pusing, kami ini lelah menjalani kenyataan ini?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *