perspektif psikologi - kenakalan remaja dan hukum

Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja Yang Berujung Pada Pelanggaran Hukum

Belum lekang diingatan bagaimana peristiwa yang sangat mengejutkan, seorang anak usia SMP mengendarai sebuah mobil sport mewah, tengah malam menjelang dini hari, dengan kecepatan sangat tinggi yang akhirnya hilang kendali dan menimbulkan korban jiwa (peristiwa 1). Baru-baru ini, masyarakat kita terhenyak kembali dengan peristiwa pembunuhan yang dilakukan sepasang kekasih usia remaja, di mana korban adalah mantan kekasih si laki-laki sekaligus teman si perempuan (peristiwa 2). Belum usai pembahasan dan penelusuran kasus pembunuhan oleh pasangan kekasih tersebut, publik pun kembali dihebohkan dengan peristiwa pengeroyokan oleh sekelompok remaja yang kembali berakhir pada kematian (peristiwa 3), lagi-lagi bermotif sakit hati.

Masyarakat dan media massa pun bergejolak. Melalui media sosial, hujatan datang bertubi-tubi kepada akun media sosial yang dimiliki kedua pelaku, sementara media-media massa pun juga berusaha mengupas dan menggali apa latar belakang yang mendorong para remaja tersebut melakukan tindak kejahatan itu yang berujung pada hilangnya nyawa orang lain.

Peristiwa-peristiwa tersebut ternyata berkaitan dengan berbagai ranah persoalan, dimulai dari persoalan yuridis (hukum), psikologis, sosiologis, dan bahkan berkaitan dengan persoalan budaya dan religiusitas. Dari perspektif psikologis, saya lebih tertarik melihat, mengurai dan mencoba menganalisis bagaimana perilaku-perilaku remaja yang lepas kontrol dan berakibat fatal. Tidak hanya karena melanggar hukum tetapi karena menimbulkan permasalahan baru bagi pihak lain, yaitu adanya korban, adanya orang yang ditinggalkan, adanya efek domino pada masyarakat, dan seterusnya.

Kita amati, para pelaku pada kasus tersebut pun bukanlah orang-orang yang memiliki riwayat kejahatan. Secara umum mereka adalah remaja dari keluarga berada (berkecukupan) dengan pendidikan yang sangat baik. Hanya pada peristiwa 3 (pengeroyokan) yang pelakunya memiliki catatan terlibat dalam lingkungan sosial yang cenderung negatif.

Apabila orang tua dan masyarakat mau berempati dengan melihat persoalan remaja dari kaca mata remaja, bukannya melihat semata dari sudut pandang normatif atau idealnya, sepertinya persoalan-persoalan serupa dimasa mendatang dapat diupayakan untuk dicegah.

Memahami Gejolak Remaja: Emosi dan Perilaku

Merespon kejadian pembunuhan remaja oleh mantan pacar dan pasangannya saat ini,

perspektif psikologi - kenakalan remaja dan hukum
courtesy of dreamstime.com

pertanyaan yang banyak muncul adalah, “Kok bisa, ya. Padahal dulu pacarnya…, dicintai…, mengapa kemudian dibunuh?” Banyak orang kaget dan heran. Memahami kasus tersebut tampaknya tidak semudah memahami pengeroyokan pada seorang remaja perempuan yang berujung maut (peristiwa 3). Kita lebih mampu memahami bahwa perilaku agresif tersebut terjadi karena rasa sakit hati dan dendam.

Pada peristiwa 1, yakni kecelakan maut yang merenggut setidaknya 7 nyawa, muncul komentar beragam. Mulai dari bagaimana bisa seseorang berusia dibawah 17 tahun (anak/remaja) mengendari mobil berkecepatan tinggi? Apakah orang tua tidak melarang? Keheranan dan prihatin menjadi respon-respon yang banyak muncul saat itu.

Pelaku utama kasus-kasus tersebut adalah remaja. Mengapa ketika pelakunya remaja banyak pihak menjadi tertegun dan terhenyak? Sebuah perilaku negatif -bahkan dilabel ‘nakal’- yang terjadi pada remaja dan anak tentunya memiliki latar belakang dan penyebab tertentu. Secara teoritis, sebuah perilaku muncul pada diri seseorang dipengaruhi oleh setidaknya dua hal yakni (1) niat terhadap sesuatu ditambah dengan dimilikinya (2) pengetahuan atau pemahaman atas hal tersebut (misalnya aturan, norma, atau batasan-batasan nilai). Nah, pada seorang remaja, ada kondisi khusus yang juga akan memengaruhi munculnya perilaku.

Kondisi khusus khas remaja berkaitan dengan adanya perubahan pada tubuh karena mulai matangnya organ seksualitas. Akibatnya, hormon-hormon tubuh menjadi aktif, dan mempengaruhi kondisi tubuh. Kondisi ini sering kali menimbulkan dampak-dampak emosional tertentu. Adanya rasa kurang nyaman pada perempuan ketika mengalami menstruasi, sensasi yang membingungkan pada remaja laki-laki ketika mimpi basah, atau adanya gejolak tertentu ketika berdekatan dengan lawan jenis menjadi beberapa contohnya. Sayangnya, kondisi tersebut lebih banyak menimbulkan rasa tidak nyaman sehingga memicu emosi negatif.

Belum lagi, dari sisi kognitif (daya pikir), para remaja mulai mampu berpikir abstrak. Pengaruhnya, remaja merasa bahwa mereka telah tahu apa yang terbaik bagi mereka sehingga kurang mau diarahkan atau diberi masukan. Ia merasa paling benar. Padahal, pada usia remaja walaupun mereka telah mampu memahami konsep-konsep abstrak atau tidak konkret seperti konsep persahabatan, ketertarikan, dan sebagainya, kemampuan mereka untuk berpikir mendalam masih belum berkembang baik (misalnya: belum mampu berpikir sebab akibat secara mendalam, berpikir tentang konsekuensi atas perilaku yang dilakukan, dan lebih mendasarkan suatu keputusan atas dorongan keinginan atau hasrat ingin memiliki semata).

Baca selanjutnya »Bagaimana dan Apa yang Mempengaruhi Munculnya Kenakalan Remaja Berujung Masalah Hukum?«

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

2 thoughts on “Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja Yang Berujung Pada Pelanggaran Hukum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *