masalah ekonomi konflik keluarga

Masalah Ekonomi Keluarga, Urusan Siapa?

TANYA:

Saya hendak curhat masalah ekonomi keluarga. Bagaimana menghadapi keluarga yang sering lempar tanggung jawab tentang ekonomi keluarga. Dan bagaimana sebaiknya saya bersikap dalam menghadapi masalah dengan bapak dan ibu saya ini?

Khalid – Semarang (karyawan, 20 tahun)

 

JAWAB:

Masalah Ekonomi Keluarga, Siapa Bertanggung Jawab?

masalah ekonomi konflik keluarga

Keluarga dapat diandaikan seperti sebuah kapal yang sedang berlayar. Untuk dapat membuat kapal tersebut berlayar baik dan mengarah pada tujuan yang telah ditetapkan, bahkan saat badai datang, perlu adanya kerja sama antara para awak kapal, termasuk antara nahkoda dan anak buah kapal. Demikian pula, dalam keluarga, membutuhkan adanya kerja sama antara sang kepala rumah tangga, partner (yaitu suami atau istri) dan seluruh anggota keluarga agar tujuan kehidupan keluarga dapat tercapai. Termasuk dalam persoalan ekonomi.

Persoalan saling lempar tanggung jawab urusan ekonomi dalam sebuah keluarga dapat terjadi karena berbagai persoalan sebelumnya, misalnya karena tidak adanya kesepakatan antara suami dan istri sejak dari awal pernikahan; atau adanya persoalan tak terduga pada sang penanggung jawab utama keuangan (misalnya kepala keluarga di-PHK atau jatuh sakit). Akan tetapi, persoalan juga dapat bersumber dari hal-hal yang sama sekali tidak berhubungan dengan persoalan ekonomi, misalnya suami bersikap lepas tangan dari ekonomi keluarga karena menganggap istri telah lalai dari kesepakatan terkait perannya dalam rumah tangga dan sebagainya.

Nah, untuk dapat mengurai dan menumbuhkan sikap kerja sama dalam memenuhi ekonomi rumah tangga dan bukannya saling lempar tanggung jawab, Khalid perlu memahami dan memperoleh informasi sejelas dan selengkap mungkin tentang riwayat bagaimana kesepakatan antara kedua orang tua, dalam berbagai hal, sampai akhirnya kondisi tersebut terjadi. Namun demikian, posisimu sebagai anak sering kali membuatnya menjadi tidak mudah. Hal ini terjadi karena ada orang tua yang tidak mau terbuka pada pihak lain, anaknya sekalipun, berkaitan dengan pengelolaan ekonomi keluarga. Bagaimana dengan orang tuamu? Akan lain ceritanya apabila orang tua bersikap terbuka, mau untuk diajak berdiskusi dan bekerja bersama mengurai pola tidak sehat dalam keluarga yang sedang terjadi, dalam hal ini, saling lempar tanggung jawab ekonomi keluarga.

Merujuk pada ceritamu yang sangat singkat, saya tidak dapat membantu menggambarkan lebih banyak tentang persoalan saling lempar tanggung jawab tersebut. Namun, saya rasa, sepertinya akan lebih bijak dan bermanfaat bila kamu membantu kedua orang tua untuk menyadari bahwa mereka lebih sering bersikap tidak efektif karena saling lempar hal tanggung jawab ekonomi, sehingga justru akan menimbulkan berbagai masalah, daripada menyelesaikan persoalan. Ketika mereka sudah menyadari perilaku tidak efektif yang sedang berlangsung ini, kamu akan lebih mudah mengajak mereka untuk bekerja sama dan melakukan perannya masing-masing. Dengan demikian, pola saling melempar tanggung jawab pun akan hilang. Ingatkan orang tua bahwa keluarga adalah proses bersama, kerja sama, saling mendukung dan bukan justru menang-kalah atau sikap menguasai-dikuasai.

Apabila situasi tampak memungkinkan, cobalah pula untuk membuka kemungkinan peran apa yang dapat kamu ambil dalam situasi ini, apakah ada hal yang dapat kamu lakukan untuk membantu mereka sehingga situasi menjadi lebih baik. Untuk dapat menjadi penengah, cara paling mudah untuk mengawali adalah dengan memulai bicara dari hati ke hati dengan mereka. Awali dahulu dengan cerita-cerita ringan baru setelah orang tua terlihat lebih terbuka, kamu dapat mulai masuk pada topik yang menjadi keprihatinanmu ini. Sebaiknya, kamu berbicara pada pihak per pihak terlebih dahulu, bukan langsung berbicara bertiga. Apabila memang mereka sepertinya sulit diajak bicara, cobalah dengan kamu bersikap terbuka terlebih dahulu terhadap mereka. Kamu bisa membuka diri dengan bercerita terlebih dahulu tentang persoalan dan hal-hal pribadi kamu sehingga mereka bisa merasakan kedekatan denganmu.

Namun cara di atas mungkin tidak perlu dilakukan jika hubungan dan komunikasimu dengan kedua orang tua telah berjalan baik. Ketika mereka sudah mulai bercerita atau bahkan meminta pendapatmu tentang persoalan yang sedang dihadapi, maka artinya mereka telah terbuka untuk melibatkanmu dalam persoalan antara mereka. Selain memberi jawaban atau solusi atas persoalan yang sedang dihadapi, jangan lupa beri dukungan kepada mereka, ya. Yakinkan bahwa kamu ada selalu untuk mereka, dan bersedia membantu sesuai kemampuanmu. Pernyataan ini akan mampu menghadirkan rasa terdukung secara psikologis, dan bahkan dapat meningkatkan motivasi mereka untuk berjuang menyelesaikan situasi sulit ini.

Meski demikian, saya sarankan kamu berhati-hati dalam memilih kata saat menyampaikan itu, ya. Tetaplah bersikap hormat dan jaga pula sikapmu, bagaimanapun kamu adalah anak mereka. Usahakan agar jangan sampai bersikap dan berkata terlalu menggurui sehingga justru akan menimbulkan persoalan baru. Oke Khalid, selamat menjadi mediator dan suporter untuk keluarga tercinta. Semoga masalah ekonomi keluarga ini segera terselesaikan, ya… .

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

One thought on “Masalah Ekonomi Keluarga, Urusan Siapa?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *