perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Perempuan Hebat Pun Lelah Menanggung Beban

Para konselor yang budiman, saya Fina, 27 tahun. Karakter saya agak sulit dijelaskan, bagi yang belum mengenal saya mungkin dibilang kaku, jutek, dll. Tapi bagi yang sudah kenal, saya sangat bersahabat, supel, fleksibel. Saya sangat sensitif. Menurut orang-orang disekitar saya, saya ini sangat mandiri, pekerja keras, berkeinginan kuat, tegar. Saya ingin konsultasi mengenai keadaan saya yang sudah saya rasakan sejak beberapa tahun lalu namun semakin parah sekarang ini. Saya merasa tertekan, sepi, sendiri, terbuang, stress, depresi. Saya lelah. Rasanya saya ingin pergi menjauh entah kemana, meninggalkan semua ini. Ingin ke tempat yang tenang, tanpa menanggung beban, tanpa memikirkan banyak hal.

Berikut saya ceritakan latar belakang keluarga saya. Saya anak ketiga dari empat bersaudara, anak perempuan satu-satunya. Kami keluarga yang bahagia. Saya sangat menyayangi orang tua saya juga saudara-saudara saya. Hubungan keluarga kami bisa dibilang sangat dekat dan baik. Kami bisa menjadi sahabat satu sama lain. Tidak ada kekakuan sama sekali. Saya sangat menyayangi orang tua saya. Kami dekat sekali, saya bisa bercerita apapun pada mereka (kecuali tentang asmara, karena memang saya tidak mau menceritakan kehidupan asmara saya). Komunikasi kami berjalan sangat baik. Ya, walaupun menurut saya masih ada kekurangan.

perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Mendapat Perlakuan Berbeda dari Keluarga

Ayah saya cukup disiplin dan Ibu saya sangat sabar, tidak pernah marah. Keluarga Ibu saya berasal dari keluarga Jawa tulen yang masih menganggap pria seperti raja sehingga pria tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dibebankan pada wanita. Nenek saya masih sangat memegang sekali prinsip ini. Sewaktu kecil, liburan sekolah menjadi momok tersendiri bagi saya karena saya dan saudara-saudara saya pasti dikirim untuk liburan di rumah nenek (orang tua tidak ikut karena harus bekerja). Di sana, selalu saya yang disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan rumah. Semuanya! Saudara saya tidak ada yang pernah disuruh. Saya merasa tertekan, seperti cucu yang terbuang. Jika ada Ibu, Ibu akan mengambil alih, membantu menanggung beban saya. Oiya, orang tua saya terutama Ibu tidak pernah menyuruh anak-anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kami mengerjakan dengan sukarela.

Pengaruh keluarga besar Ibu cukup besar terhadap keluarga saya, bisa dibilang keluarga saya lebih dekat dengan keluarga besar Ibu daripada keluarga besar ayah. Namun lama-kelamaan saya merasa tertekan karena mereka terlalu ikut campur, ya mereka dengan karakter yang sama menganggap bahwa pria itu seperti raja dan wanita seperti budak. Di keluarga saya sendiri, orang tua saya sebenarnya berusaha untuk tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya. Hanya sering saya merasa Ibu saya agak membedakan jika anak-anak memiliki permintaan, pasti saya yang selalu disuruh mengalah. Terkadang saya harus menangis/marah dahulu agar permintaaan saya dituruti. Saudara-saudara saya pun juga menyadari ini. Bahkan adik saya pernah bilang ke saya jika saya ingin sesuatu bilang saja padanya agar nanti dia yang meminta ke orang tua. Setiap permintaan adik selalu langsung dikabulkan oleh orang tua. Adik saya juga pernah bilang ke Ibu saya untuk lebih memperhatikan saya.

Terkadang saya berpikir apa saya ini anak angkat, kenapa saya selalu dinomorduakan, tidak pernah menjadi prioritas. Apa karena saya anak perempuan, padahal dimana-mana anak perempuan yang satu-satunya itu yang lebih diperhatikan. Hingga saat ini saya sering minta maaf ke orang tua jika mungkin saya ada salah besar atau kenapa. Dan orang tua saya selalu merespon bahwa saya tidak berbuat salah apa-apa, mereka bilang saya anak yang baik dan mereka merasa tidak pernah kesulitan dalam mendidik saya. Saya tahu bagaimana kerasnya orang tua saya bekerja untuk membiayai kami sehingga saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka. Sejak kecil saya selalu berprinsip untuk tidak membuat mereka sedih, kecewa, marah karena saya. Ini yang membuat saya untuk belajar baik dan tidak berbuat nakal (sebenarnya peluang untuk terjerumus ke hal-hal yang tidak baik itu terbuka sekali untuk saya karena saya jauh dari pengawasan orang tua, orang tua sering dinas luar untuk waktu yang lama).

Alhamdulillah prestasi saya di sekolah cukup baik. Pada akhirnya saya sering menggunakan uang beasiswa saya untuk membeli sesuatu yang saya inginkan (karena terkadang saya malas untuk minta ke orang tua yang ujung-ujungnya permintaan saudara-saudara dulu yang dipenuhi) dan untuk uang jajan saya (orang tua saya memberi uang jajan hanya jika anaknya meminta, saya meminta uang jajan hanya jika benar-benar sudah kehabisan dari uang). Saya mendapat beasiswa sejak SMP hingga sekarang. Terutama sejak kuliah, selain beasiswa saya juga kerja paruh waktu sehingga secara keuangan saya sudah benar-benar mandiri dari orang tua (seluruh saudara laki-laki saya hingga kini masih disubsidi orang tua bahkan kedua kakak saya yang sudah berkeluarga pun juga).

O iya, saat saya masih sekolah, saya tidak pernah merasa menanggung beban belajar. Saya menikmatinya. Belajar bagi saya menyenangkan, tiap saya sedang kesal, sedih atau marah pelampiasan saya pasti ke belajar, entah membaca atau mengerjakan soal-soal (ini berlaku saat saya masih sekolah SD-SMA, ketika kuliah tidak demikian). Orang tua saya juga tidak pernah menyuruh saya untuk belajar keras, menurut mereka selama saya bisa mengikuti pelajaran di sekolah itu sudah cukup, tidak harus jadi juara kelas.

Menanggung Beban Atas Pengharapan yang Tinggi

Ada hal yang tidak saya sukai dari orang tua saya, mereka suka menceritakan tentang prestasi saya ke orang lain (entah keluarga besar maupun teman-temannya). Saya sangat tidak suka hal ini. Mungkin prestasi saya ini menjadi kebanggaan untuk mereka namun saya tidak suka jika dipamer-pamerkan ke orang lain. Orang tua saya sering membedakan saya namun mereka memamerkan prestasi saya ke orang lain. Saya merasa menanggung beban yang semakin bertambah tiap kali mereka menceritakan prestasi saya. Saya merasa tertekan. Dan sekarang rasanya sudah berat sekali beban di punggung ini. Saya harus menjaga prestasi saya padahal itu tidak mudah, harus kerja keras. Padahal saya juga ingin sedikit santai. Orang-orang di sekeliling saya seakan memiliki pandangan tinggi terhadap saya padahal saya merasa saya biasa saja, saya tidak sehebat itu, sehingga mereka memiliki pengharapan yang tinggi terhadap saya.

Saya lelah. Puncaknya saat saya diajak berbicara 4 mata dengan ayah saya, di usianya yang senja beliau meminta saya untuk mengambil alih posisinya sebagai penanggung jawab keluarga jika beliau sudah tidak mampu nantinya, beliau bilang saya satu-satunya anak yang bisa beliau harapkan untuk memikul tanggung jawab tersebut. Menurut beliau saudara-saudara saya kurang bisa diandalkan untuk peran tersebut karena mereka kurang memiliki tanggung jawab akibat terlalu dimanjakan saat kecil. Beliau menyesal terlalu memanjakan mereka. Saat itu saya berpikir, saya punya 3 saudara yang semuanya lelaki, kenapa peran itu diserahkan ke saya yang anak perempuan. Kenapa saya lagi yang menanggung beban, biarkan saya santai. Bertambah lagi beban di punggung. Saya capek. Letih. Merasa tertekan. O iya, cita-cita saya menjadi Ibu rumah tangga. Sejak SMA saya ingin menjadi Ibu rumah tangga. Lulus S1, karena saya belum bertemu dengan jodoh saya dan saya mendapat tawaran lanjut S2 jadi lah saya langsung melanjutkan pendidikan saya.

Tambatan Hati Minder pada Capaian Saya

Saya pernah memiliki hubungan dekat (bukan pacaran, bisa dibilang sahabat atau teman tapi mesra) dengan teman pria saat akhir SMA, teman ini sangat baik sekali, cerdas, pintar namun sangat sensitif hatinya. Kami memiliki visi yang sama. Bahkan kami sudah merencanakan apa yang akan kami lakukan selepas kuliah. Hidup saya terasa lengkap dengannya. Saya sangat menyayanginya, sepertinya dia pun begitu, dia cukup posesif terhadap saya. Dia tidak pernah menyatakan dia menyukai saya namun dia hanya bilang bahwa saya orang pertama yang bisa membuatnya tersenyum dengan tulus dan dia meminta saya untuk tidak meninggalkannya. Hingga suatu ketika dia menelepon saya (rutinitas telepon) saat itu saya sedang kurang sehat dan tidak ingin memperpanjang percakapan di telepon (karena ingin istirahat), mungkin ada kalimat saya yang tidak berkenan dihatinya hingga dia memutus telepon begitu saja dan pergi dari hidup saya tanpa saya tahu masalah intinya. Tanpa saya punya kesempatan untuk meminta maaf. Dia hanya kirim email yang menyatakan maaf jika dia berubah. Saya tahu dia memiliki hati yang sangat sensitif seharusnya saya bisa menjaga perkataan saya.Sampai saat ini saya masih dibayang-bayangi rasa bersalah. Saya frustrasi karenanya.

Sekarang saya melanjutkan pendidikan saya. Saya pernah mencoba untuk membuka hati saya, dua kali saya dekat dengan pria, namun gagal untuk lanjut. Dengan alasan yang sama, mereka minder. Minder dengan pekerjaan saya, dengan pendidikan saya, dengan keluarga saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Cita-cita saya menjadi istri yang baik dan patuh untuk suami saya dan Ibu yang baik untuk anak-anak saya. Untuk pria yang terakhir, saya pernah bilang saya akan meninggalkan pekerjaan saya dan mengabdi untuknya namun dia bilang saya terlalu berkorban dan sayang dengan pendidikan saya (saat itu saya sudah lulus S2). Selain itu dia minder pada saya dan keluarga saya, padahal dia juga memiliki pekerjaan yang baik walaupun pendidikannya masih di bawah saya, jujur sebenarnya justru saya yang minder dengannya. Saya merasa terbuang karenanya.

Setelah lepas darinya, saya mendapat tawaran kuliah S3. Saya ambil tawaran tersebut. Sekarang saya di suatu kota kecil di Eropa, nun jauh dari Indonesia. Berharap bisa melupakan semuanya. Namun, yang saya rasakan sekarang saya hampa, kosong, sepi, sendiri, depresi, frustrasi. Bahkan saya tidak dapat berkonsentrasi pada studi saya (saya rindu diri saya saat masih sekolah, yang senang belajar, yang pelampiasan segala sedih/marah ke belajar). Saya sering merenung apa pekerjaan yang saya ambil ini salah, apa studi yang saya ambil ini salah, apa saya sudah salah memilih jalan hidup. Mengapa mereka begitu minder pada sesuatu yang bahkan saya tidak mempermasalahkannya. Saya jadi minder, sangat minder. Iri rasanya melihat kawan-kawan yang hidupnya terlihat mengalir bahagia. Ingin seperti mereka. Belum lagi anggapan orang-orang yang sering bilang saya menunda/tidak ingin menikah karena studi saya, anggapan mereka yang saya terlalu pemilih, terlalu tinggi kriteria. Saya ingin teriak tidak benar saya menunda atau pun pemilih. Rasanya ingin pergi saja yang jauh, di tempat saya tidak harus berpikir, bebas dari menanggung segala beban, bebas dari tanggung jawab. Saya lelah. Saya ingin dipahami. Saya ingin berbagi. Saya ingin disayangi. Mohon maaf atas keluh kesah yang sangat amat panjang ini. Saya mohon pencerahannya.

 

JAWAB:

Hai Asri…, saya dapat menangkap gambaran perasaan dan kondisi yang berkecamuk dalam dirimu selama ini. Satu hal yang saya harapkan kamu sadari adalah: bahwa dalam setiap kesulitan dan ketidaknyamanan hidup, kamu terbukti mampu mengambil langkah positif sehingga tidak merugikan dirimu dan keluargamu. Kamu perlu menghargai dirimu atas segala upaya yang telah kamu lakukan tersebut, karena sebetulnya tidak mudah, lho. Lebih banyak orang di luar sana yang ketika mengalami kesulitan dan cobaan hidup sepertimu justru cenderung memilih untuk menyalahkan orang lain, bertindak seenaknya, dan bahkan melarikan diri dengan perbuatan-perbuatan hedonis yang sebetulnya justru merusak diri sendiri. Kamu perlu menghargai dirimu untuk pilihan dan kemampuanmu bertindak positif tersebut.

Baca juga » Merindukan Kasih Sayang Ibu

Perjalanan hidup selama ini sepertinya membuatmu kemudian menempatkan diri sebagai ‘korban’ yang menanggung beban, dan tidak jarang juga menumbuhkan konsep diri seperti tak berdaya untuk memberontak karena adanya norma-norma atau harapan-harapan yang mengikatmu, ya? Kamu sepertinya cukup mampu untuk membuat keputusan penting untuk dirimu, hanya saja perhatian dan ikatanmu terhadap orang tua dan keluarga telah mengarahkanmu pada keputusan yang lain. Di satu sisi kamu merasakan adanya kepuasan karena dapat memenuhi harapan mereka, tetapi ternyata disisi lain banyak hal yang terus saja kamu pendam karena kekecewaan. Sayang sekali, kekecewaan dan emosi-emosi negatif yang berusaha kamu pupus atau kamu hilangkan tersebut ternyata tidak pergi dari dirimu namun justru menjadi berkerak dan cukup mempengaruhi langkahmu.

Ada dua hal besar yang perlu kamu lakukan. Pertama adalah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Maksudnya adalah proses dimana dirimu menerima adanya pengalaman-pengalaman tersebut. Mengapa demikian? Karena senyatanya hal-hal (pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan) tersebut ada, menjadi bagian dalam kehidupanmu, termasuk juga rasa-rasa negatif yang pernah kamu alami. Proses tersebut tidak hanya bertujuan sekedar menerima dengan pasrah dan pasif. Sikap menerima dengan pasif justru hanya memenuhi tubuh dan pikiranmu dengan ‘sampah-sampah’ akibat secara tidak sadar memaksa diri menerima sesuatu yang tidak disukai.Proses ini lebih bertujuan untuk belajar melihat bahwa berbagai pengalaman negatif, beban, pengalaman yang sebetulnya baik tetapi kemudian menjadi tidak menyenangkan karena tuntutan sosial. Juga menerima perangai dan karakter keluargamu merupakan bagian dari kehidupan, dan mengidentifikasi apa yang sebetulnya kamu rasakan; dan bagaimana sebetulnya keinginan kamu. Yang tak kalah penting, belajar memaafkan kondisi-kondisi tidak nyaman dan menyakitkan tersebut. Oleh karena perjalanan persoalan dan pengalaman negatif yang kamu alami sudah cukup panjang dan berliku maka saya sarankan padamu untuk menemui psikolog. Seorang psikolog pendamping dapat membimbingmu menerima diri dan berdamai dengan masa lalu yang cukup kompleks.

Hal kedua yang kemudian perlu kamu lakukan adalah merancang masa depanmu dengan fokus pada kebahagiaan dan cita-cita yang kamu inginkan. Dalam proses merancang masa depan ini, kamu perlu pula memasukkan rancangan sikap dan peran yang sesungguhnya ingin mulai kamu bangun dalam hubungan dengan orang-orang terdekatmu, seperti keluarga inti, keluarga besar maupun sahabat atau teman. Ketika sudah memasuki aktivitas merancang, lepaskan terlebih dahulu norma-norma atau tuntutan yang melingkupimu. Tuliskan saja apa yang menjadi harapan dan keinginanmu yang sejujurnya. Tulis sedetil dan sebanyak mungkin. Jangan ada batasan-batasan. Kemudian, tuliskan langkah-langkah praktis untuk meraih impian atau cita-citamu tersebut. Setelah semua tertuliskan, maka barulah kamu dapat melihat kembali dengan memperhatikan tuntutan, norma atau idealisme yang menjadi atmosfer kehidupanmu. Lihat kedua sisi tersebut, kenali manakah langkah atau impianmu yang ternyata cenderung berbentrokan dengan berbagai atmosfer batasan. Kemudian, atas bentrokan tersebut, tuliskan bagaimana kamu ingin berdamai atau mengambil jalan tengahnya? Ini akan menjadi sarana berlatihmu agar dapat menyampaikan secara asertif (jujur) ketika nanti berhadapan dengan kehidupan nyata. Langkah kedua ini pun tidak mudah biasanya, karena ada kemungkinan-kemungkinan emosi-emosi negatif dari masa lalu kembali muncul, sehingga akan sangat baik bila kamu didampingi seorang profesional (psikolog) dalam proses perencanaan internalmu tersebut.

Kemudian, tentang kerinduanmu terhadap seorang pendamping, dimana saya mulai melihat adanya rasa penyesalan karena kamu sudah mencapai S3. Menurut saya, sebaiknya kamu berfokus saja pada mencari teman yang nyaman dan menyenangkan untukmu, termasuk teman lawan jenis. Ketika seseorang sudah nyaman berinteraksi dengan kita, maka batasan-batasan terkait dengan berbagai hal termasuk akademik akan lebih mudah dinegosiasikan dan didiskusikan. Apabila kamu berfokus pada mencari seseorang yang dapat menjadi pasanganmu, orang lain justru tidak akan mampu menangkap sisi dirimu yang sebenarnya karena pesan yang mereka tangkap dari dirimu tidak lengkap. Selain itu, ketika kamu sibuk dengan kegelisahan mencari pasangan, kamu pun jadi tidak menikmati kehidupanmu, bukan? Kamu jadi tidak dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang teman-teman di sekitarmu, bukan? Kondisi tersebut pun akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman berhubungan denganmu, lho… .

Sepertinya banyak PR yang Fina perlu kerjakan. Namun demikian, sebaiknya kamu menjalaninya sambil mengalir saja, ya. Tidak perlu merasa cemas, atau khawatir berlebihan. Tentukan mana dulu yang ingin kamu lakukan agar kamu tidak justru menanggung beban tambahan. Selalu ingat bahwa seluruhnya membutuhkan proses. Oke Fina yang baik hati, selamat mengelola diri dan tetap semangat, yaaa… .

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *