agar dihargai saudara

Ketika Kakak Merasa Kurang Dihargai Adik-Adiknya

TANYA:

Mbak, kenapa ya adikku tidak pernah mau memanggil aku dengan sebutan ‘Mbak’ atau ‘Kakak’? Aku punya tiga adik dan tak satu pun memanggilku dengan sebutan itu. Aku merasa sangat tidak dihargai. Dan melihat itu, orang tuaku tidak berbuat apa-apa. Sebal sekali rasanya… . Bagaimana ya, Mbak?

Putri (perempuan, 23 tahun)agar dihargai saudara

 

JAWAB:

Mbak Putri yang baik, saya bisa merasakan juga bagaimana kerinduan merasakan penghargaan dari anggota keluarga melalui sapaan hangat dan penuh penghormatan. Namun sepertinya, dalam keluarga Mbak Putri, sikap saling menghargai dan menghormati melalui komunikasi keseharian kurang mendapat perhatian khusus. Tampaknya hal ini yang menjadi kunci atau dasar dari ketidaknyamanan (sebal) yang Mbak Putri rasakan sekarang.

Nah, apakah Mbak Putri ingin kondisi berubah atau hanya membutuhkan tempat pencurahan hati? Karena, untuk dapat memutus kebiasaan ini harus ada inisiator, pihak yang mau memulai, untuk menyadarkan dan mengajak berubah. Dan sepertinya, Mbak Putri lah yang harus melakukannya. Memang rasanya akan seperti, ‘Mengapa lagi-lagi aku yang harus berusaha?’

Sekali lagi, sepertinya Mbak Putri perlu untuk berbesar hati mengajak anggota keluarga melakukan komunikasi yang lebih hangat dan menjunjung sikap saling menghargai dalam keluarga, karena Mbak Putri lah yang memiliki kesadaran akan kebutuhan itu bagi keluarga. Oleh karenanya, bagaimana bila Mbak Putri saat ini menata hati dan mengelola rasa negatif terlebih dahulu sehingga dapat siap untuk mengajak keluarga berubah ke arah yang lebih baik? Carilah pula orang-orang terdekat yang dirasa dapat memberikan dukungan sehingga menjadi sumber energi dan penguat bagi Mbak Putri. Selamat mencoba 🙂

*image courtesy of Lynne Lancaster

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')