kekerasan fisik dalam rumah tangga-kdrt

Stress Alami Kekerasan Fisik dalam Rumah Tangga

TANYA:

Maaf, Bu/Pak konselor KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org, saya ingin bercerita. Semenjak kecil saya mengalami kekerasan fisik dalam rumah tangga (KDRT), oleh orang tua saya. Saya mendapat cerita bahwa saya (sewaktu masih janin) dulu hendak digugurkan, tetapi tidak jadi. Selain itu, saya pernah mendapat pelecehan sek-ual dari kakak saya. Saya tidak mengerti apakah saya kehilangan keperawanan saya atau tidak karena saat itu saya masih kecil. Saya takut menceritakan hal ini kepada orang tua saya. Saya juga khawatir jika menikah nanti ternyata saya tidak lagi perawan dan menjadi alasan (calon) suami meninggalkan saya.

Apa yang harus saya lakukan? Sedang kekerasan fisik dalam rumah tangga pun masih saya rasakan sampai sekarang, bahkan di usia saya yang 20 tahun ini. Saya amat sedih dan stress. Mengapa saya harus hidup di keluarga seperti ini… .

Rosi, mahasiswa di Jakarta

 

kekerasan fisik dalam rumah tangga-kdrt

Sedih dan Stress Alami Kekerasan Fisik dalam Rumah Tangga (KDRT)

JAWAB:

Halo, Rosi. Pengalaman tidak menyenangkan menyangkut kekerasan fisik dalam rumah tangga tentunya meninggalkan luka mendalam dalam diri, ya. Apalagi mengingat bahwa keluarga seharusnya saling memberikan kasih sayang dan kenyamanan… .

Saya sangat memahami berbagai perasaan buruk yang berkecamuk dalam diri Rosi, terlebih karena selama ini Rosi cenderung memendam perasaan. Saya sarankan Rosi segera mencari ‘pertolongan’ agar bisa segera bangkit membangun kehidupan yang lebih baik. Meskipun memiliki pengalaman pahit, Rosi tetap bisa kok menggapai cita-cita.

Baca juga >> Kekerasan dalam Rumah Tangga: Ingin Melindungi Ibu dari Ayah yang Suka Memukul

Dengan kondisi Rosi saat ini, saya sarankan untuk mulai melakukan pengelolaan diri agar bisa lebih kuat dan positif. Salah satunya dengan pendampingan psikologis. Kebetulan Rosi berdomisili di Jakarta, ada banyak lembaga pendampingan yang bisa diakses dengan mudah. Sejumlah Puskesmas dan Rumah Sakit di Jakarta telah menyediakan layanan psikologis, dan ada beberapa lembaga lain yang tidak membebankan biaya pada mereka yang membutuhkan.

Namun jangan khawatir dengan saran ini karena bukan berarti Rosi dalam kondisi yang sangat buruk. Ada banyak perempuan yang pernah saya dampingi mengalami kondisi yang jauh lebih buruk dari yang dialami Rosi. Saran ini saya usulkan dengan maksud agar masa depan Rosi tidak melulu dikaitkan dengan masa lalu yang buruk tersebut. Saya yakin Rosi bisa melewati semua ini asalkan mau mencoba dan berlatih mengolah diri.

Sayang sekali pendampingan psikologis untuk kekerasan fisik dalam rumah tangga (KDRT) masih belum dapat dilakukan secara virtual melalui situs ini. Saya rekomendasikan Rosi untuk menghubungi Yayasan Pulih yang beralamat di Jl. Teluk Peleng No. 63A, Kompleks AL Rawa Bambu. Telepon 021-782 3021 atau Hotline 021-9828 6398. Semoga lokasi lembaga tersebut mudah dijangkau dari domisili Rosi.

Nah, sementara Rosi berusaha menghubungi Yayasan Pulih (atau lembaga lainnya), ada baiknya Rosi menambahkan aktivitas positif untuk pengembangan diri. Kembangkan keterampilan diri berangkat dari minat yang dimiliki. Bacalah artikel atau buku-buku pengembangan diri agar Rosi dapat mengalami suasana yang lebih positif. Tetap semangat, ya Rosi. Pengalaman buruk (kekerasan fisik dalam rumah tangga) memang tidak mudah dihapuskan begitu saja, tetapi tidak selayaknya menghambat kebahagiaan dan kesuksesan di masa datang, bukan?

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *