cara agar suami pecandu narkoba bertanggung jawab pada keluarga

Ibu Muda Lelah Menghadapi Suami Pecandu yang Tak Mengurus Keluarga

TANYA:

Bu, saya ingin bertanya. Saya memiliki suami seorang pecandu. Ketika menikah dengan saya, ia berjanji akan berhenti dan saya melihat dia berubah sikap saat itu. Namun sayangnya, sekitar tiga bulan sebelum hamil dia kembali lagi pada perilaku negatif seperti pulang malam, minum minuman beralkohol, sampai pernah suatu kali saya buka HP (telepon seluler)-nya, terlihat beberapa sms dari mantan dan sangat mesra sekali. Kami pun sering bertengkar dan berujung pada sikap suami yang meninggalkan rumah dan baru pulang beberapa hari kemudian. Hal itu terjadi berulang kali.

cara agar suami pecandu narkoba bertanggung jawab pada keluargaSaya lelah dan akhirnya saya mendiamkannya sampai menginjak usia kandungan saya 7 bulan. Setelah itu, ia menunjukkan penyesalan mendalam. Diikuti perubahan perilaku yang baik ketika usia kandungan saya memasuki bulan kedelapan. Namun, setelah anak kami lahir dan memasuki usia tiga bulan, perangai buruknya kembali muncul. Saya lelah harus terus mengajaknya kembali. Saya bersikap dingin padanya dan menjadi sering menangis. Ketika saya menangis, dia terlihat mulai luluh tetapi perubahannya hanya bertahan beberapa hari. Sekarang, di saat anak saya berusia hampir 7 bulan, perilaku negatifnya itu kembali muncul. Bahkan saya menemukan beberapa resep obat dan sering mendapatinya pulang dengan badan bau alkohol. Ia juga semakin tidak peduli dan tidak pernah mengurus kami. Apa yang harus saya lakukan, ya Bu? Saya sangat tertekan dengan kondisi ini.

Dewi (23 tahun)

 

JAWAB:

Mbak Dewi, saya turut prihatin dengan kondisi yang sedang dialami. Permasalahan yang sedang dialami saat ini sepertinya sudah mulai memasuki tahap yang cukup kompleks dan semakin berat. Apabila Mbak Dewi masih memiliki tenaga dan energi, memang sekali lagi Mbak Dewi perlu ambil peran untuk mulai berbicara dan berdialog dengan suami. Hubungilah suami dan mintalah waktu padanya untuk membicarakan tentang keluarga dan sang buah hati. Untuk dapat mengajaknya berbicara, memang perlu menyampaikan ajakan yang tidak ‘mengancam’ bagi suami, karena tata bahasa akan berpengaruh terhadap kesuksesan ajakan atau undangan berdiskusi tersebut.

Selanjutnya, sebaiknya Mbak Dewi mempersiapkan diri terlebih dahulu tentang apa saja yang ingin dibicarakan. Bila perlu, tulislah poin-poin topik yang ingin dibicarakan tersebut, misalnya tentang HP, sehingga ketika bertemu dan Mbak Dewi tiba-tiba mengalami blank (pikiran kosong) karena gejolak emosi, pembicaraan dapat tetap berlangsung karena ada alat bantu mengingat.

Namun, apabila dirasa beban sudah terlalu berat sehingga energi sudah sangat menipis, menurut saya ada baiknya Mbak Dewi menghubungi keluarga yang paling Mbak Dewi percayai dan memiliki kekuatan untuk mendukung Anda. Tentunya, upaya yang Mbak Dewi inginkan adalah demi kebaikan keluarga kecil terutama sang buah hati, bukan? Karenanya, memulai dengan berdialog, meskipun sulit, akan menjadi salah satu langkah terbaik agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Di samping itu, apabila Mbak Dewi sudah mulai merasakan permasalahan emosional, ketakutan, atau kelelahan secara psikologis, sebaiknya Mbak Dewi menemui psikolog agar tidak mengalami permasalahan psikologis lebih jauh yang juga dapat berdampak pada sang buah hati. Semoga bermanfaat.

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')