jika disindir teman-menerima kesalahan diri sendiri

Antara Disindir Teman & Belajar Menerima Kesalahan Diri Sendiri

TANYA:

Saya baru pindah ke sebuah pesantren. Awalnya teman-teman bersikap ramah, sampai suatu saat saya pernah secara tidak sengaja melanggar aturan yaitu membawa telepon seluler (HP). Teman-teman angkatan saya yang merupakan pengurus OSIS, memberi hukuman. Saya yang tidak pernah mendapat hukuman, sempat menentang, namun akhirnya saya menerimanya. Tapi semenjak saya terima hukuman itu, saya tidak pernah keluar asrama karena kalau keluar asrama harus memakai kerudung empat warna. Saya tidak mau mengecewakan adik-adik kelas yang menganggap saya baik. Juga tidak mau mengecewakan guru-guru saya. Tante saya bilang, kalau saya orangnya perfeksionis. Semenjak kejadian itu, saya terus disindir teman, di-bully dengan sindiran-sindiran. Saya akhirnya menangis dan minta pulang. Hari ini saya pulang, dan rasanya tidak mau kembali lagi ke pesantren. Bagaimana cara merubah sifat saya yang perfeksionis dan bagaimana caranya menghadapi situasi disindir teman dengan pedas, yang membuat saya sampai menangis dan depresi? Tolong ditanggapi ya. Saya pikir saya sudah depresi… .

Wanda, 16 tahun (Tangerang)

 

jika disindir teman-menerima kesalahan diri sendiri

Nggak Kuat Terus Disindir Teman

 

Halo Wanda yang sedang gundah… . Sebelum terlalu jauh melabeli diri (semacam menuduh diri) sebagai seorang yang perfeksionis dan sedang mengalami kondisi depresi, mari bersama KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org, kita lihat duduk perkara dari persoalan yang sedang kamu alami. Dari ceritamu, sepertinya kamu sedang merasa malu, takut, cemas, menghadapi lingkungan sosial di sekitarmu, ya. Hal ini bermula dari kamu melakukan kesalahan lalu mendapat hukuman. Sementara itu, kamu merasa hukuman itu mencoreng citra dirimu sebagai seseorang yang baik, patuh, taat, dan tidak mungkin melakukan kesalahan.

Wanda yang baik, sekarang coba pikirkan, apakah mungkin seorang manusia sama sekali bersih dan tanpa kesalahan? Bukankah ada kalanya kita lepas kendali dari aturan atau konsep yang kita yakini karena keinginan untuk merasakan suatu kesenangangan sesaat? Nah, disinilah fungsi suatu hukuman terhadap suatu kesalahan. Hukuman diciptakan dengan harapan perilaku yang tidak dikehendaki (yang dilarang), tidak dilakukan atau tidak akan diulangi lagi. Memang, sering kali ada efek negatif seperti rasa malu, sedih, kecewa, marah, atau bahkan campuran berbagai perasaan tersebut. Seperti efek yang sedang kamu alami saat ini… .

Satu hal yang pasti, bahwa kamu tidak mungkin lagi memutar waktu. Kamu tidak mungkin kembali ke masa dimana kamu ketahuan membawa handphone lalu mengubah peristiwa yang tidak diinginkan tersebut, bukan? Wanda, kamu masih dapat melakukan sesuatu untuk masa depan yang lebih baik. Betul, tidak? Bila kamu melanjutkan apa yang kamu lakukan sekarang: mengurung diri, menghindari interaksi, dan terlalu menanggapi ketika diejek atau disindir teman, serta terus menyalahkan diri sendiri, apakah yang akan kamu dapatkan? Suatu manfaat darinya, ataukah justru kesulitan dan kerugian? Padahal kamu pun sudah menanggung hukuman… .

Sepertinya akan lebih bermanfaat bagi kamu jika memusatkan perhatian pada bagaimana caranya melakukan kebaikan, bukan? Dengan dapat kembali tampil di lingkungan teman-teman (dan adik-adik kelas) sebagai seseorang dengan perilaku baik maka kamu menunjukkan dirimu yang semakin baik lagi. Memang hal ini tidak mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin dilakukan. (Baca juga: Apa yang Mesti Dilakukan Kalau Dijauhi Teman Sekelas?)

Sekarang, mulailah dengan bercermin dan melihat hal-hal positif dalam dirimu. Pandanglah dirimu dalam kaca itu, dan sebutkan dengan jelas, kalau perlu ditulis, apa saja kelebihan-kelebihan seorang Wanda? Tempelkan poin-poin tentang kebaikan-kebaikan dirimu itu di bagian kamar yang paling sering kamu lihat. Jadikan itu semangat untuk berubah menjadi lebih baik. Langkah berikutnya adalah: belajar untuk bersikap abai terhadap orang-orang yang membicarakan hal negatif tentang kamu. Lebih baik gunakan energimu untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan positif. Misalnya, jika disindir teman atau sekelompok teman, berlalulah dengan cepat dan pergilah pada kelompok teman yang tidak melakukan hal itu. Teman yang sebenarnya adalah teman yang tidak hanya dekat saat kita baik tetapi juga hadir saat kita dalam situasi buruk. Lalu lanjutkan dengan perbuatan-perbuatan baik, bukan hanya untuk ‘membayar’ perilaku negatif yang pernah kamu lakukan tetapi lebih diniatkan pada menjadi seorang manusia yang baik.

Wanda, semua orang pasti pernah berbuat kesalahan, bahkan seorang tokoh masyarakat maupun orang-orang besar. Dalam hidupnya, mereka pasti pernah diejek, disindir teman maupun lawan. Mereka tetap menjadi tokoh dan orang besar yang dikagumi karena mereka tidak berhenti dan larut pada penyesalan akan kesalahan yang sudah terjadi, tetapi karena mampu mengakui kesalahan, menerima ejekan sebagai evaluasi, dan bangkit untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semangat, ya Wanda… .

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

4 thoughts on “Antara Disindir Teman & Belajar Menerima Kesalahan Diri Sendiri

  1. Saya… sering sekali diejek dan diejek teman sekelas hanya karena ucapan saya kurang benar saat berbicara pada guru. Mereka selalu menyoraki saya. “Huu… nggak tau malu!” Begitu saya diejek. Rasanya benar benar memalukan. Tapi mereka tidak membahas itu itu saja. Bahkan, ada yang tega mempermalukan saya dengan berkata teriak teriak didepan kelas. “Tompelnya Delia… dipantat” itu sangat2 memalukan. Saya rasanya sudah tidak kuat. Dan ada yang selalu memfitnahku yang katanya PHO, perusak hubungan orang. Aku diejek itu terus terusan. Aku sempat mau nggak masuk sekolah waktu itu. Tapi aku berusaha tetap tegar selalu!!!

    1. Beberapa orang kadang suka merendahkan/mempermalukan orang lain agar bisa merasa lebih baik, lebih tinggi, dari orang lain. Jadi merekalah yg punya masalah.

      Semangat, Delia!
      Kamu yang memutuskan utk dirimu sendiri, apakah olok-olok mereka akan mengganggumu atau tidak. Ketika kamu memutuskan tidak mau terganggu, maka olok-olok itu tak lebih sekedar angin lalu. Tidak akan menggoyahkanmu. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *