Category Archives: Karir

cara agar percaya diri dan tidak minder

Cara Agar Percaya Diri dan Tidak Minder

TANYA:

Jadi begini…, saya perempuan berusia 17 tahun yang merasa sangat kurang percaya diri. Kadang saat bersama orang yang derajatnya lebih tinggi atau yang punya ‘lebih’ lainnya dibanding diri saya, saya merasa lemah. Saya merasa tidak punya apa-apa. Dan apabila saya pergi, kapan saja-dimana saja, saya sangat sulit melakukan apa yang saya mau karena saya merasa orang-orang di sekitar memperhatikan saya. Saya takut akan anggapan mereka tentang saya. Saya pun merasa tidak tenang Continue reading Cara Agar Percaya Diri dan Tidak Minder

dilema memenuhi harapan ibu bapak-lulus kuliah-bekerja

Bingung Memenuhi Harapan Ibu Bapak

TANYA:

Saya memiliki masalah yang menurut saya rumit sekali. Saya baru tamat kuliah (usia 22 tahun) dan ibu menginginkan saya ikut tes TNI, padahal belum ada pengumuman pendaftaran/rekrutmen. Ibu saya terus menerus mendesak saya bekerja. Saya jadi bingung dan tidak fokus. Bingung memenuhi harapan Continue reading Bingung Memenuhi Harapan Ibu Bapak

perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Perempuan Hebat Pun Lelah Menanggung Beban

Para konselor yang budiman, saya Fina, 27 tahun. Karakter saya agak sulit dijelaskan, bagi yang belum mengenal saya mungkin dibilang kaku, jutek, dll. Tapi bagi yang sudah kenal, saya sangat bersahabat, supel, fleksibel. Saya sangat sensitif. Menurut orang-orang disekitar saya, saya ini sangat mandiri, pekerja keras, berkeinginan kuat, tegar. Saya ingin konsultasi mengenai keadaan saya yang sudah saya rasakan sejak beberapa tahun lalu namun semakin parah sekarang ini. Saya merasa tertekan, sepi, sendiri, terbuang, stress, depresi. Saya lelah. Rasanya saya ingin pergi menjauh entah kemana, meninggalkan semua ini. Ingin ke tempat yang tenang, tanpa menanggung beban, tanpa memikirkan banyak hal.

Berikut saya ceritakan latar belakang keluarga saya. Saya anak ketiga dari empat bersaudara, anak perempuan satu-satunya. Kami keluarga yang bahagia. Saya sangat menyayangi orang tua saya juga saudara-saudara saya. Hubungan keluarga kami bisa dibilang sangat dekat dan baik. Kami bisa menjadi sahabat satu sama lain. Tidak ada kekakuan sama sekali. Saya sangat menyayangi orang tua saya. Kami dekat sekali, saya bisa bercerita apapun pada mereka (kecuali tentang asmara, karena memang saya tidak mau menceritakan kehidupan asmara saya). Komunikasi kami berjalan sangat baik. Ya, walaupun menurut saya masih ada kekurangan.

perempuan berprestasi menanggung beban-terbebani prestasi

Mendapat Perlakuan Berbeda dari Keluarga

Ayah saya cukup disiplin dan Ibu saya sangat sabar, tidak pernah marah. Keluarga Ibu saya berasal dari keluarga Jawa tulen yang masih menganggap pria seperti raja sehingga pria tidak boleh mengerjakan pekerjaan rumah. Semua dibebankan pada wanita. Nenek saya masih sangat memegang sekali prinsip ini. Sewaktu kecil, liburan sekolah menjadi momok tersendiri bagi saya karena saya dan saudara-saudara saya pasti dikirim untuk liburan di rumah nenek (orang tua tidak ikut karena harus bekerja). Di sana, selalu saya yang disuruh-suruh untuk melakukan pekerjaan rumah. Semuanya! Saudara saya tidak ada yang pernah disuruh. Saya merasa tertekan, seperti cucu yang terbuang. Jika ada Ibu, Ibu akan mengambil alih, membantu menanggung beban saya. Oiya, orang tua saya terutama Ibu tidak pernah menyuruh anak-anaknya untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kami mengerjakan dengan sukarela.

Pengaruh keluarga besar Ibu cukup besar terhadap keluarga saya, bisa dibilang keluarga saya lebih dekat dengan keluarga besar Ibu daripada keluarga besar ayah. Namun lama-kelamaan saya merasa tertekan karena mereka terlalu ikut campur, ya mereka dengan karakter yang sama menganggap bahwa pria itu seperti raja dan wanita seperti budak. Di keluarga saya sendiri, orang tua saya sebenarnya berusaha untuk tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap anak-anaknya. Hanya sering saya merasa Ibu saya agak membedakan jika anak-anak memiliki permintaan, pasti saya yang selalu disuruh mengalah. Terkadang saya harus menangis/marah dahulu agar permintaaan saya dituruti. Saudara-saudara saya pun juga menyadari ini. Bahkan adik saya pernah bilang ke saya jika saya ingin sesuatu bilang saja padanya agar nanti dia yang meminta ke orang tua. Setiap permintaan adik selalu langsung dikabulkan oleh orang tua. Adik saya juga pernah bilang ke Ibu saya untuk lebih memperhatikan saya.

Terkadang saya berpikir apa saya ini anak angkat, kenapa saya selalu dinomorduakan, tidak pernah menjadi prioritas. Apa karena saya anak perempuan, padahal dimana-mana anak perempuan yang satu-satunya itu yang lebih diperhatikan. Hingga saat ini saya sering minta maaf ke orang tua jika mungkin saya ada salah besar atau kenapa. Dan orang tua saya selalu merespon bahwa saya tidak berbuat salah apa-apa, mereka bilang saya anak yang baik dan mereka merasa tidak pernah kesulitan dalam mendidik saya. Saya tahu bagaimana kerasnya orang tua saya bekerja untuk membiayai kami sehingga saya berusaha untuk tidak mengecewakan mereka. Sejak kecil saya selalu berprinsip untuk tidak membuat mereka sedih, kecewa, marah karena saya. Ini yang membuat saya untuk belajar baik dan tidak berbuat nakal (sebenarnya peluang untuk terjerumus ke hal-hal yang tidak baik itu terbuka sekali untuk saya karena saya jauh dari pengawasan orang tua, orang tua sering dinas luar untuk waktu yang lama).

Alhamdulillah prestasi saya di sekolah cukup baik. Pada akhirnya saya sering menggunakan uang beasiswa saya untuk membeli sesuatu yang saya inginkan (karena terkadang saya malas untuk minta ke orang tua yang ujung-ujungnya permintaan saudara-saudara dulu yang dipenuhi) dan untuk uang jajan saya (orang tua saya memberi uang jajan hanya jika anaknya meminta, saya meminta uang jajan hanya jika benar-benar sudah kehabisan dari uang). Saya mendapat beasiswa sejak SMP hingga sekarang. Terutama sejak kuliah, selain beasiswa saya juga kerja paruh waktu sehingga secara keuangan saya sudah benar-benar mandiri dari orang tua (seluruh saudara laki-laki saya hingga kini masih disubsidi orang tua bahkan kedua kakak saya yang sudah berkeluarga pun juga).

O iya, saat saya masih sekolah, saya tidak pernah merasa menanggung beban belajar. Saya menikmatinya. Belajar bagi saya menyenangkan, tiap saya sedang kesal, sedih atau marah pelampiasan saya pasti ke belajar, entah membaca atau mengerjakan soal-soal (ini berlaku saat saya masih sekolah SD-SMA, ketika kuliah tidak demikian). Orang tua saya juga tidak pernah menyuruh saya untuk belajar keras, menurut mereka selama saya bisa mengikuti pelajaran di sekolah itu sudah cukup, tidak harus jadi juara kelas.

Menanggung Beban Atas Pengharapan yang Tinggi

Ada hal yang tidak saya sukai dari orang tua saya, mereka suka menceritakan tentang prestasi saya ke orang lain (entah keluarga besar maupun teman-temannya). Saya sangat tidak suka hal ini. Mungkin prestasi saya ini menjadi kebanggaan untuk mereka namun saya tidak suka jika dipamer-pamerkan ke orang lain. Orang tua saya sering membedakan saya namun mereka memamerkan prestasi saya ke orang lain. Saya merasa menanggung beban yang semakin bertambah tiap kali mereka menceritakan prestasi saya. Saya merasa tertekan. Dan sekarang rasanya sudah berat sekali beban di punggung ini. Saya harus menjaga prestasi saya padahal itu tidak mudah, harus kerja keras. Padahal saya juga ingin sedikit santai. Orang-orang di sekeliling saya seakan memiliki pandangan tinggi terhadap saya padahal saya merasa saya biasa saja, saya tidak sehebat itu, sehingga mereka memiliki pengharapan yang tinggi terhadap saya.

Saya lelah. Puncaknya saat saya diajak berbicara 4 mata dengan ayah saya, di usianya yang senja beliau meminta saya untuk mengambil alih posisinya sebagai penanggung jawab keluarga jika beliau sudah tidak mampu nantinya, beliau bilang saya satu-satunya anak yang bisa beliau harapkan untuk memikul tanggung jawab tersebut. Menurut beliau saudara-saudara saya kurang bisa diandalkan untuk peran tersebut karena mereka kurang memiliki tanggung jawab akibat terlalu dimanjakan saat kecil. Beliau menyesal terlalu memanjakan mereka. Saat itu saya berpikir, saya punya 3 saudara yang semuanya lelaki, kenapa peran itu diserahkan ke saya yang anak perempuan. Kenapa saya lagi yang menanggung beban, biarkan saya santai. Bertambah lagi beban di punggung. Saya capek. Letih. Merasa tertekan. O iya, cita-cita saya menjadi Ibu rumah tangga. Sejak SMA saya ingin menjadi Ibu rumah tangga. Lulus S1, karena saya belum bertemu dengan jodoh saya dan saya mendapat tawaran lanjut S2 jadi lah saya langsung melanjutkan pendidikan saya.

Tambatan Hati Minder pada Capaian Saya

Saya pernah memiliki hubungan dekat (bukan pacaran, bisa dibilang sahabat atau teman tapi mesra) dengan teman pria saat akhir SMA, teman ini sangat baik sekali, cerdas, pintar namun sangat sensitif hatinya. Kami memiliki visi yang sama. Bahkan kami sudah merencanakan apa yang akan kami lakukan selepas kuliah. Hidup saya terasa lengkap dengannya. Saya sangat menyayanginya, sepertinya dia pun begitu, dia cukup posesif terhadap saya. Dia tidak pernah menyatakan dia menyukai saya namun dia hanya bilang bahwa saya orang pertama yang bisa membuatnya tersenyum dengan tulus dan dia meminta saya untuk tidak meninggalkannya. Hingga suatu ketika dia menelepon saya (rutinitas telepon) saat itu saya sedang kurang sehat dan tidak ingin memperpanjang percakapan di telepon (karena ingin istirahat), mungkin ada kalimat saya yang tidak berkenan dihatinya hingga dia memutus telepon begitu saja dan pergi dari hidup saya tanpa saya tahu masalah intinya. Tanpa saya punya kesempatan untuk meminta maaf. Dia hanya kirim email yang menyatakan maaf jika dia berubah. Saya tahu dia memiliki hati yang sangat sensitif seharusnya saya bisa menjaga perkataan saya.Sampai saat ini saya masih dibayang-bayangi rasa bersalah. Saya frustrasi karenanya.

Sekarang saya melanjutkan pendidikan saya. Saya pernah mencoba untuk membuka hati saya, dua kali saya dekat dengan pria, namun gagal untuk lanjut. Dengan alasan yang sama, mereka minder. Minder dengan pekerjaan saya, dengan pendidikan saya, dengan keluarga saya. Padahal saya tidak pernah mempermasalahkan itu semua. Cita-cita saya menjadi istri yang baik dan patuh untuk suami saya dan Ibu yang baik untuk anak-anak saya. Untuk pria yang terakhir, saya pernah bilang saya akan meninggalkan pekerjaan saya dan mengabdi untuknya namun dia bilang saya terlalu berkorban dan sayang dengan pendidikan saya (saat itu saya sudah lulus S2). Selain itu dia minder pada saya dan keluarga saya, padahal dia juga memiliki pekerjaan yang baik walaupun pendidikannya masih di bawah saya, jujur sebenarnya justru saya yang minder dengannya. Saya merasa terbuang karenanya.

Setelah lepas darinya, saya mendapat tawaran kuliah S3. Saya ambil tawaran tersebut. Sekarang saya di suatu kota kecil di Eropa, nun jauh dari Indonesia. Berharap bisa melupakan semuanya. Namun, yang saya rasakan sekarang saya hampa, kosong, sepi, sendiri, depresi, frustrasi. Bahkan saya tidak dapat berkonsentrasi pada studi saya (saya rindu diri saya saat masih sekolah, yang senang belajar, yang pelampiasan segala sedih/marah ke belajar). Saya sering merenung apa pekerjaan yang saya ambil ini salah, apa studi yang saya ambil ini salah, apa saya sudah salah memilih jalan hidup. Mengapa mereka begitu minder pada sesuatu yang bahkan saya tidak mempermasalahkannya. Saya jadi minder, sangat minder. Iri rasanya melihat kawan-kawan yang hidupnya terlihat mengalir bahagia. Ingin seperti mereka. Belum lagi anggapan orang-orang yang sering bilang saya menunda/tidak ingin menikah karena studi saya, anggapan mereka yang saya terlalu pemilih, terlalu tinggi kriteria. Saya ingin teriak tidak benar saya menunda atau pun pemilih. Rasanya ingin pergi saja yang jauh, di tempat saya tidak harus berpikir, bebas dari menanggung segala beban, bebas dari tanggung jawab. Saya lelah. Saya ingin dipahami. Saya ingin berbagi. Saya ingin disayangi. Mohon maaf atas keluh kesah yang sangat amat panjang ini. Saya mohon pencerahannya.

 

JAWAB:

Hai Asri…, saya dapat menangkap gambaran perasaan dan kondisi yang berkecamuk dalam dirimu selama ini. Satu hal yang saya harapkan kamu sadari adalah: bahwa dalam setiap kesulitan dan ketidaknyamanan hidup, kamu terbukti mampu mengambil langkah positif sehingga tidak merugikan dirimu dan keluargamu. Kamu perlu menghargai dirimu atas segala upaya yang telah kamu lakukan tersebut, karena sebetulnya tidak mudah, lho. Lebih banyak orang di luar sana yang ketika mengalami kesulitan dan cobaan hidup sepertimu justru cenderung memilih untuk menyalahkan orang lain, bertindak seenaknya, dan bahkan melarikan diri dengan perbuatan-perbuatan hedonis yang sebetulnya justru merusak diri sendiri. Kamu perlu menghargai dirimu untuk pilihan dan kemampuanmu bertindak positif tersebut.

Baca juga » Merindukan Kasih Sayang Ibu

Perjalanan hidup selama ini sepertinya membuatmu kemudian menempatkan diri sebagai ‘korban’ yang menanggung beban, dan tidak jarang juga menumbuhkan konsep diri seperti tak berdaya untuk memberontak karena adanya norma-norma atau harapan-harapan yang mengikatmu, ya? Kamu sepertinya cukup mampu untuk membuat keputusan penting untuk dirimu, hanya saja perhatian dan ikatanmu terhadap orang tua dan keluarga telah mengarahkanmu pada keputusan yang lain. Di satu sisi kamu merasakan adanya kepuasan karena dapat memenuhi harapan mereka, tetapi ternyata disisi lain banyak hal yang terus saja kamu pendam karena kekecewaan. Sayang sekali, kekecewaan dan emosi-emosi negatif yang berusaha kamu pupus atau kamu hilangkan tersebut ternyata tidak pergi dari dirimu namun justru menjadi berkerak dan cukup mempengaruhi langkahmu.

Ada dua hal besar yang perlu kamu lakukan. Pertama adalah berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu. Maksudnya adalah proses dimana dirimu menerima adanya pengalaman-pengalaman tersebut. Mengapa demikian? Karena senyatanya hal-hal (pengalaman-pengalaman yang kurang menyenangkan) tersebut ada, menjadi bagian dalam kehidupanmu, termasuk juga rasa-rasa negatif yang pernah kamu alami. Proses tersebut tidak hanya bertujuan sekedar menerima dengan pasrah dan pasif. Sikap menerima dengan pasif justru hanya memenuhi tubuh dan pikiranmu dengan ‘sampah-sampah’ akibat secara tidak sadar memaksa diri menerima sesuatu yang tidak disukai.Proses ini lebih bertujuan untuk belajar melihat bahwa berbagai pengalaman negatif, beban, pengalaman yang sebetulnya baik tetapi kemudian menjadi tidak menyenangkan karena tuntutan sosial. Juga menerima perangai dan karakter keluargamu merupakan bagian dari kehidupan, dan mengidentifikasi apa yang sebetulnya kamu rasakan; dan bagaimana sebetulnya keinginan kamu. Yang tak kalah penting, belajar memaafkan kondisi-kondisi tidak nyaman dan menyakitkan tersebut. Oleh karena perjalanan persoalan dan pengalaman negatif yang kamu alami sudah cukup panjang dan berliku maka saya sarankan padamu untuk menemui psikolog. Seorang psikolog pendamping dapat membimbingmu menerima diri dan berdamai dengan masa lalu yang cukup kompleks.

Hal kedua yang kemudian perlu kamu lakukan adalah merancang masa depanmu dengan fokus pada kebahagiaan dan cita-cita yang kamu inginkan. Dalam proses merancang masa depan ini, kamu perlu pula memasukkan rancangan sikap dan peran yang sesungguhnya ingin mulai kamu bangun dalam hubungan dengan orang-orang terdekatmu, seperti keluarga inti, keluarga besar maupun sahabat atau teman. Ketika sudah memasuki aktivitas merancang, lepaskan terlebih dahulu norma-norma atau tuntutan yang melingkupimu. Tuliskan saja apa yang menjadi harapan dan keinginanmu yang sejujurnya. Tulis sedetil dan sebanyak mungkin. Jangan ada batasan-batasan. Kemudian, tuliskan langkah-langkah praktis untuk meraih impian atau cita-citamu tersebut. Setelah semua tertuliskan, maka barulah kamu dapat melihat kembali dengan memperhatikan tuntutan, norma atau idealisme yang menjadi atmosfer kehidupanmu. Lihat kedua sisi tersebut, kenali manakah langkah atau impianmu yang ternyata cenderung berbentrokan dengan berbagai atmosfer batasan. Kemudian, atas bentrokan tersebut, tuliskan bagaimana kamu ingin berdamai atau mengambil jalan tengahnya? Ini akan menjadi sarana berlatihmu agar dapat menyampaikan secara asertif (jujur) ketika nanti berhadapan dengan kehidupan nyata. Langkah kedua ini pun tidak mudah biasanya, karena ada kemungkinan-kemungkinan emosi-emosi negatif dari masa lalu kembali muncul, sehingga akan sangat baik bila kamu didampingi seorang profesional (psikolog) dalam proses perencanaan internalmu tersebut.

Kemudian, tentang kerinduanmu terhadap seorang pendamping, dimana saya mulai melihat adanya rasa penyesalan karena kamu sudah mencapai S3. Menurut saya, sebaiknya kamu berfokus saja pada mencari teman yang nyaman dan menyenangkan untukmu, termasuk teman lawan jenis. Ketika seseorang sudah nyaman berinteraksi dengan kita, maka batasan-batasan terkait dengan berbagai hal termasuk akademik akan lebih mudah dinegosiasikan dan didiskusikan. Apabila kamu berfokus pada mencari seseorang yang dapat menjadi pasanganmu, orang lain justru tidak akan mampu menangkap sisi dirimu yang sebenarnya karena pesan yang mereka tangkap dari dirimu tidak lengkap. Selain itu, ketika kamu sibuk dengan kegelisahan mencari pasangan, kamu pun jadi tidak menikmati kehidupanmu, bukan? Kamu jadi tidak dapat merasakan kehangatan dan kasih sayang teman-teman di sekitarmu, bukan? Kondisi tersebut pun akan membuat orang lain menjadi tidak nyaman berhubungan denganmu, lho… .

Sepertinya banyak PR yang Fina perlu kerjakan. Namun demikian, sebaiknya kamu menjalaninya sambil mengalir saja, ya. Tidak perlu merasa cemas, atau khawatir berlebihan. Tentukan mana dulu yang ingin kamu lakukan agar kamu tidak justru menanggung beban tambahan. Selalu ingat bahwa seluruhnya membutuhkan proses. Oke Fina yang baik hati, selamat mengelola diri dan tetap semangat, yaaa… .

menghadapi stress-menyesuaikan diri di tempat kerja baru

Menghadapi Tempat Kerja Baru – Mengubah Frustrasi Menjadi Prestasi

TANYA:

Dulu saya pernah menjadi PNS selama 7 tahun di sebuah kementerian. Penghasilan sebagai PNS kala itu bisa dibilang kurang. Didorong keinginan untuk mengubah nasib dan mensejahterakan keluarga, saya ikut seleksi karyawan pada sebuah BUMN dan alhamdulillah di tahun 2012 saya diterima di tempat kerja baru. Saya pun keluar dari PNS dan masuk BUMN itu. Alhamdulillah secara penghasilan jauh lebih baik, bisa mensejahterakan keluarga.

Jenis pekerjaan yang berbeda antara pekerjaan lama dan baru membuat saya harus menghadapi suasana yang berbeda di tempat kerja baru. Saya kesulitan menyesuaikan diri. Masalah muncul ketika dalam suatu proyek saya ditunjuk jadi PIC (Person In Charge) dimana saya kewalahan menangani proyek tersebut. Saya membuat banyak kesalahan yang di usia dan pengalaman sejauh ini seharusnya tidak saya lakukan. menghadapi stress-menyesuaikan diri di tempat kerja baruKesalahan ini membuat kinerja saya buruk dan membuat hubungan dengan rekan-rekan kerja menjadi kurang baik. Gara-gara hal ini, saya menjadi frustrasi dan tidak bersemangat kerja. Setiap pagi yang saya rasakan adalah frustrasi dan tak bersemangat. Kalau begini terus lama-lama saya bisa makin terpuruk. Terkadang saya ingin resign (mengundurkan diri) dari pekerjaan karena malu akan hal ini, namun teringat keluarga yang sudah senang, saya tak bisa. Mohon sarannya, apa yang harus saya lakukan untuk membalikkan keadaan ini, mengubah frustrasi menjadi prestasi, memperbaiki hubungan dengan teman-teman, menghilangkan takut, dan menghasilkan prestasi kerja. Terima kasih sebelumnya.

Ardi – Depok (Pegawai BUMN, 34 tahun)

JAWAB:

Halo Pak Ardi. Apa yang dialami saat ini sepertinya bersumber dari kurang mampunya Pak Ardi ‘memaafkan diri sendiri’. Mengapa demikian? Cobalah berrefleksi, mengapa kesalahan yang sebetulnya ‘baru satu kali’ dilakukan seakan-akan tidak termaafkan? Apakah betul kesalahan tersebut sangat fatal sehingga tidak ada lagi manfaat atas kerja dan usaha yang sudah dilakukan dalam pekerjaan tersebut? Mari berandai-andai, katakanlah Pak Ardi memutuskan pindah kerja, apakah ada jaminan bahwa di tempat kerja yang baru nantinya tidak akan ada tantangan pekerjaan yang terbilang sulit yang memiliki risiko gagal juga? Nah, kemudian, apakah apabila nanti menemui kegagalan (lagi) Pak Ardi akan kembali resign dan mencari pekerjaan atau tempat kerja baru? Hmm…, bila begitu, bagaimana Pak Ardi akan dapat ‘naik kelas’ dalam perjalanan karir?

Mari mencoba untuk lebih ‘menyayangi diri sendiri’, Pak Ardi. Langkah pertama adalah dengan mengubah cara pandang dan melihat dari sudut pandang lain, bahwa dalam sebuah proses bekerja dan dalam rangka ‘naik kelas’, kita akan selalu dihadapkan pada tantangan baru. Kita juga dituntut untuk menguasai keterampilan baru. Bagaimana bila Pak Ardi mencoba melihat bahwa pekerjaan yang sulit tersebut diberikan karena Pak Ardi dipandang sudah menguasai dan ‘ahli’ pada area tersebut? Bahwa Pak Ardi dianggap mampu mengembangkannya?

Bila saat ini Pak Ardi telah menyadari bahwa ada kemampuan yang masih lemah, seperti kemampuan penyesuaian diri pada pekerjaan menantang maupun keterampilan kerja sama, misalnya… . Bagaimana bila Pak Ardi lebih fokus pada upaya meningkatkan keterampilan-keterampilan tersebut, daripada sibuk memikirkan kegagalan di masa lalu? Dengan fokus pada bagaimana mengembangkan diri maka tidak hanya pribadi Pak Ardi yang akan semakin positif dan berkembang. Akan tetapi, bonus profesionalitas kinerja pun akan semakin meningkat. Betul, bukan?

Cara Mengembangkan Keterampilan Menyesuaikan Diri di Tempat Kerja Baru

Pertanyaan selanjutnya barangkali, “Lalu bagaimana caranya? Apa yang harus saya lakukan?” Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan keterampilan sosial, yang dalam persoalan Pak Ardi misalnya keterampilan penyesuaian diri, kemampuan mengelola emosi, dan kerja sama. Apabila Pak Ardi adalah seseorang yang mampu berlatih secara mandiri, maka… baca selengkapnya di » halaman 2 «

bingung memilih jurusan S2 yang tepat sesuai minat

Bingung Memilih Jurusan S2 yang Tepat

TANYA:

Saat ini saya sedang berencana untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri, hanya saja saya sedang bingung memilih program jurusan S2 yang tepat untuk saya ambil. Sebab di berbagai universitas Australia, terdapat berbagai program yang ditawarkan untuk Master of Education, entah itu kurikulumnya, assesment-nya (pengukuran prestasi-Red), pendidikan inklusi, atau leadership and management (kepemimpinan dan manajemen-Red). Saya pun masih bingung untuk memilih universitas yang akan dituju, sebab saya berencana untuk mengajukan beasiswa. Saya sadar memiliki jiwa kepemimpinan dan saya sangat tertarik untuk mengembangkan kurikulum dan berpikir tentang pengembangan assessment. Selebihnya saya sadar bahwa saya tipe orang yang terlalu sensitif ;). Saya rasa saya lebih sering memikirkan apa yang sedang dipikirkan orang lain tentang diri saya. Terima kasih atas respon konsultan untuk menanggapi setiap masalah saya. Saya menunggu balasan Saudara. 😉

Astri – Semarang (mahasiswa, 22 tahun)
 

JAWAB:

Memilih Jurusan S2 yang Tepat

bingung memilih jurusan S2 yang tepat sesuai minat

 

 

 

 

Hai, Astri. Kebingungan untuk memutuskan studi lanjut (termasuk memilih jurusan S2 yang tepat) biasanya lebih disebabkan karena passion (minat utama) sudah mendalam, namun di sisi lain juga dihadapkan pada minat-minat lain yang muncul seiring pengembangan diri yang dilakukan. Misal, karena rajin mengikuti seminar dan konferensi, atau dari berbagai informasi yang diperoleh.

Dari ceritamu, sepertinya saat ini kamu sudah mulai menemukan minat utama yang ingin didalami namun memiliki cabang-cabang minat yang antara satu dengan yang lain memiliki jalur tidak searah. Apabila memang memiliki keinginan untuk mempelajari kurikulum dan juga assessment pendidikan, kemungkinan mengambil jurusan yang lebih banyak mempelajari ‘pengembangan kurikulum’ akan dapat menjadi jalan tengah, karena didalam ilmu ini juga terdapat materi assessment .

Namun demikian, yang terbaik adalah memahami terlebih dahulu deskripsi jurusan dan materi pembelajaran yang akan dimiliki. Berselancar di internet untuk memperoleh informasi, misalnya dari website fakultas atau jurusan, atau mencari testimoni dari alumni, akan menjadi sumber informasi yang sangat membantu.

Di sisi lain, saya melihat kebingungan Astri dalam memutuskan universitas yang dituju, diikuti dengan keinginan untuk mengembangkan beberapa keterampilan interpersonal seperti kepemimpinan dan pengelolaan sisi afeksi atau emosi. Nah, bagaimana bila Astri mengerucutkan kriteria universitas berdasarkan tiga hal tersebut, yakni memilih universitas yang (1) memiliki jurusan sesuai minat, (2) memiliki kurikulum atau ekstra kurikuler yang dapat mengembangkan kepemimpinan, dan (3) memiliki kegiatan yang dapat melatih pengelolaan emosi? Dengan menetapkan kriteria yang komprehensif sesuai kebutuhan; yang merupakan gabungan antara hard skill dengan soft skill, tentunya akan pilihan akan jatuh pada universitas (atau pilihan jurusan) yang pas. Tetapi jangan lupa juga, periksalah laman beasiswa yang ingin dilamar, apakah universitas tersebut didukung atau dirujuk pula oleh institusi pemberi beasiswa. Selamat memilih jurusan S2 kamu dan semoga menemukan yang paling tepat. Sukses, ya!

tips memilih jurusan kuliah dari psikolog

Memilih Jurusan Kuliah yang Tepat dengan Mengenali Minat dan Potensi Diri

TANYA:

Saya sekarang sudah kelas XII, jadi sebentar lagi UN, terus kelulusan. Saya bingung mau kemana… , sedangkan saya punya banyak cita-cita yang ingin saya capai semua. Sejujurnya sih, pertama saya ingin pergi ke Korea, terus kerja di sana. Kedua, saya ingin sekolah pramugari. Ketiga, saya ingin jadi fotografer. Saya bingung…, sejauh ini saya ikut seleksi SNMPTN dan memilih jurusan kuliah TV dan Film . Saya mohon sarannya dan beri saya solusi. Huhuhu… T_T

Vita (16 tahun), pelajar dari Jember

JAWAB:

Hai, Vita! Hm, banyak sekali ya, keinginanmu… . Jangan khawatir, wajar kok bagi remaja seusiamu memiliki banyak keinginan dan impian. Jadi, kamu banyak temennya… . (Baca Juga: Bingung Setelah Lulus SMA Mau Kemana…)

tips memilih jurusan kuliah dari psikolog

 

 

Biasanya, keinginan kamu dan teman remaja lain (terutama siswa kelas XII SMA) dipengaruhi oleh beberapa hal. Misalnya, oleh impian teman-teman terdekat kamu, termasuk disini pilihan untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan, bagaimana teman memilih jurusan kuliah. Jurusan pendidikan (kuliah) yang sedang ngetop dan jadi tren, langsung-tidak langsung juga punya andil. Pilihan jurusan bisa juga dipengaruhi oleh orang tua, yang tidak jarang memilihkan jurusan kuliah tertentu pada anaknya. Faktor lain, tentu saja…, dipengaruhi oleh minat atau keinginan dari dalam hati si remaja sendiri. Namun, keputusan akan ada di tanganmu, karena kamu yang akan menjalani nantinya, bukan? Jangan khawatir Vita, saya akan membantumu dalam menilai, menimbang-nimbang, dan mengerucutkan pilihan di antara beberapa keinginanmu tersebut. Yuk, coba lakukan langkah-langkah di bawah ini ya. Akan semakin efektif dan membantu apabila kamu melakukannya secara tertulis, ya. Ambil kertas dan pena, yuk. Menuliskan jawaban dan pemikiranmu, bisa membantu memetakan pikiran sehingga nanti akan terlihat pola yang lebih jelas.

Cara Memilih Jurusan Kuliah yang Tepat

  1. Kenalilah Hal-Hal yang Kamu Sukai. Mulai dari Hobi.

‘Bekerja di Korea atau menjadi pramugari? Tetapi saya juga ingin menjadi fotografer. Ehm…, namun di SNMPTN saya memilih jurusan kuliah TV dan film. Yang mana ya?’ Nah, salah satu cara yang dapat membawamu lebih mengenali tentang ‘apa sih yang aku inginkan’ adalah dengan mengetahui apa saja yang menjadi kesukaanmu. Ambillah kertas kosong (Lembar A) dan tuliskan apa saja yang kamu sukai, jangan buat batasan. Tuliskan saja semuanya, sebanyak-banyaknya, apa yang terpikirkan. Sesudah semua tertulis, lihat kembali daftar itu, lalu berilah nomor (ranking, peringkat) yang menandakan tingkat kesenanganmu terhadap hal-hal tersebut. Nomor 1 berarti hal yang paling kamu sukai, dan seterusnya. Semakin besar nomornya, berarti semakin kurang disukai. Nah, lihat sekitar 30-40 persen teratas dari daftar itu (misalnya kamu tadi menuliskan 10 kata/hal; berarti fokuskan pada urutan 1 sampai 4). Tulislah kembali secara berurutan atau berdasar peringkat, dari hal yang paling disukai (nomor 1) sampai 4 teratas. Kemudian, tuliskan di sebelahnya, profesi yang dilakukan oleh bidang/kegiatan tersebut. Sekarang kamu telah memperoleh bidang kerja atau ilmu yang sebetulnya kamu sukai. Ini dapat dilihat sebagai minatmu. Eh, tapi tunggu, ini belum selesai. Lanjutkan ke langkah kedua dan ketiga, ya… .

  1. Lihat Potensi-Potensi yang Ada di Dirimu

Langkah kedua adalah bagaimana kamu mengenali apa saja dan bagaimana potensi yang ada dalam dirimu. Dengan mengetahui potensi diri, kamu dapat menentukan strategi untuk mendalami bidang ilmu, bidang kerja, atau bidang yang akan dipilih. Terlebih ketika mendapati minat tidak didukung dengan potensi yang dimiliki saat ini. Mengenali potensi diri dapat dilakukan misalnya dengan melakukan tes minat bakat yang dipandu psikolog. Selain itu, secara sederhana, mengenali potensi diri dapat pula dengan melihat nilai atau prestasi belajar. Lihat dan renungkan, pada mata pelajaran apa kamu merasa paling mudah atau paling cepat paham? Biasanya kamu mendapat nilai yang bagus pada bidang studi itu.

Selain potensi pada hal hard skill (ilmu dasar), penting juga untukmu mengetahui potensi yang berkaitan dengan keterampilan sosial (soft skill). Kembali, ini dapat dengan jelas dipetakan atau diungkap melalui tes psikologi. Selain itu, kamu juga bisa mencatat hal-hal yang kamu (anggap) kuasai. Misal, mungkin kamu adalah orang yang mudah mencari teman? Orang yang sangat teliti dalam mengerjakan sesuatu? Mudah menggerakkan teman-teman dan membuat kegiatan bersama? Nah, tuliskan kelebihan-kelebihanmu pada selembar kertas berikutnya.

Sekarang, ambil selembar kertas lagi (Lembar B). Tuliskan pada lajur pertama: mata pelajaran atau bidang studi yang cepat kamu pahami dan bernilai baik. Pada lajur lain (sebelahnya), tuliskan kelebihan keterampilan sosialmu (soft skill). Nah, sekarang kamu sudah memiliki peta sederhana yang menggambarkan potensi diri kamu secara umum.

  1. Kenali Bidang-Bidang Aktivitas yang Ingin Kamu Dalami

Nah, langkah selanjutnya untuk semakin memantapkan pilihan, baik untuk memilih bekerja ataupun memilih jurusan kuliah, adalah, kenalilah gambaran dan detil bidang yang ingin kamu geluti. Misalnya, berangkat dari kebingungan yang kamu sampaikan, ada baiknya mempelajari apa saja aktivitas kerja pramugari, fotografer, dan pekerja di Korea. Carilah informasi tentang apa saja yang dilakukan, dan lingkungan kerja seperti apa yang akan dialami. Dengan demikian, kamu akan memperoleh gambaran lebih jelas tentang kegiatan dan dunia tersebut. Kembali, tuliskan detail gambaran tiap bidang tersebut pada selembar kertas lain, ya.

Nah, sekarang kamu sudah mendapatkan poin-poin untuk memberi gambaran yang lebih jelas tentang ‘sesuatu’ yang kamu impikan untuk dijalankan di masa depan atau menjadi profesimu nanti. Letakkan ketiga lembar kertas itu berurutan: (A) bidang atau hal yang kamu inginkan, (B) potensi atau modal diri yang dibutuhkan, dan (C) gambaran aktivitas tentang bidang tersebut. Kemudian cara untuk semakin mengerucutkan pilihan adalah sebagai berikut:

  • Lihatlah pada 4 urutan teratas bidang yang kamu inginkan.

  • Lalu lihat ke kertas yang memaparkan tentang gambaran pekerjaan, fokuskan pada 4 bidang teratas yang telah kamu putuskan pada Lembar A.

  • Sesudah itu, lihatlah kembali dari potensi-potensi yang kamu miliki, bidang mana saja yang paling terdukung?

Nah, dari keempat bidang pilihan tersebut, bidang yang paling tepat kamu pilih adalah bidang yang:

  1. Paling banyak didukung oleh potensi yang kamu miliki
  2. Memiliki gambaran pekerjaan yang akan mampu kamu kerjakan dan mampu kamu pelajari

Apabila dari keempat bidang teratas (nomor 1 -4) saling kontradiktif (berseberangan) dan tidak membuatmu merasa yakin, coba lakukan proses penilaian pada bidang nomor 5-8 dan seterusnya. Intinya, ketika kamu dapat menemukan keselarasan/kesesuaian antara bidang yang kamu sukai, dengan dunia yang akan kamu masuki (dari lembar C), dan didukung oleh potensi-potensi yang kamu miliki, maka bidang itu tepat untukmu. Kamu bisa memilihnya sebagai jurusan kuliah yang tepat karena, selain didukung oleh kesenangan atau minat dirimu, didukung pula oleh oleh potensi atau bakat yang akan menjadi modal besar untuk mendalami dan mengembangkan diri nantinya. Niscaya kamu akan berhasil dan menjadi ahli dalam bidang tersebut.

Oke Vita, semoga penjelasan proses atau cara memilih dan menentukan jurusan kuliah ini dapat membantumu mengobati kegalauan dalam waktu yang semakin sempit ini, ya. Selamat menjemput masa depan impian!

cara memperkenalkan profesi pada anak-anak

Bagaimana Mengenalkan dan Menjelaskan Pekerjaan/Profesi Anda pada Anak

TANYA:

Bu, anak saya sering menanyakan bagaimana ayah dan ibunya bekerja. Ia penasaran sekali. Sejauh ini saya menjelaskan kepadanya bahwa pekerjaan ibunya adalah bekerja di salon dan ayahnya kerja di asuransi. Menurut Ibu, apakah perlu mengajaknya ke tempat kerja? Dan bagaimana cara memperkenalkan profesi saya dan membuat ini menjadi kegiatan yang menyenangkan? Saya berharap anak saya akan cukup puas dengan penjelasan itu sehingga ia tidak sering-sering minta diajak ke kantor, karena hal itu akan merepotkan. Oh iya, anak saya usianya 5 tahun, sekarang ini TK Besar. Terima kasih, Bu.

Ibu Indri, Yogyakarta

 

JAWAB:

cara memperkenalkan profesi pada anak-anak

Cara Memperkenalkan Profesi (Pekerjaan) pada Anak-Anak

Halo, Ibu Indri, pertanyaan Ibu telah mewakili pertanyaan orang tua-orang tua lain. Banyak orang mengira anak-anak kurang begitu tertarik dengan pekerjaan orangtuanya. Namun kenyataannya anak-anak begitu tertarik dan penasaran ingin mengetahui apa yang dilakukan ayah ibunya ketika mengatakan ‘mau bekerja’. Apalagi kalau anak sudah duduk di TK Besar, profesi menjadi salah satu tema pembelajaran mereka. Untuk itu, ajaklah si kecil ke tempat kerja, bisa ke tempat kerja Ibu dulu atau Ayah dulu, tergantung kesiapannya. Tujuannya adalah agar si kecil dapat melihat apa yang orangtuanya kerjakan. Ibu dapat memilih mengajaknya pada jam kerja atau saat tidak ada orang lain di tempat kerja.

Cara pertama dengan bertukar tempat (bermain peran). Orang tua bisa memperkenalkan profesi pada anak dengan bermain ‘pura-pura’ (drama). Mulailah dengan mengajak si kecil ke kantor Ibu, dalam hal ini ke salon. Mintalah si kecil melakukan apa yang menurutnya dilakukan oleh Ibu pada hari-hari kerja. Oleh karena ibu bekerja di salon, ibu bisa duduk di salah satu kursi dan biarkan si kecil mencuci rambut Ibu. Pasti akan menyenangkan, karena seperti sedang bermain drama.

Cara kedua adalah dengan tur keliling. Ajaklah si kecil berkeliling, misalnya sambil membayangkan ada orang atau pelanggan yang datang, lalu duduk di ruang tunggu, lalu di kursi keramas, atau langsung ke kursi gunting dan seterusnya. Biarkan si kecil melihat apa yang Ibu kerjakan setiap hari. Jangan lupa ajak juga sampai ke meja kasir (pembayaran) agar ia tahu bagaimana ibunya mendapatkan uang ketika bekerja. Ceritakan sejarah singkat salon tempat ibu bekerja, dan perkenalkan pada rekan kerja Ibu serta atasan. Beri tahu tentang beberapa peralatan yang digunakan. Beri kesempatan pada si kecil untuk mencoba beberapa peralatan (tentunya setelah memastikan peralatan tersebut aman untuk anak-anak, misalnya alat yang tidak tercolok listrik, bukan benda tajam, dan lain-lain).

Saran saya, jangan hanya sekali saja mengajak si kecil ke tempat Ibu bekerja. Bersama ayah, atau tantenya, Ibu dapat bergantian memperlihatkan tempat kerja masing-masing. Berikan anak kebebasan bertanya dan gunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan profesi Anda sesuai keingintahuan anak. Bukan saja hal ini akan menambah kedekatan dan memberi kegembiraan, tapi juga membantu anak-anak untuk mulai memikirkan pilihan karir mereka sejak dini. Setelah Ibu menunjukkan apa yang Ibu, suami dan tantenya kerjakan, tanyakan pada si kecil kelak ia ingin jadi apa. Bila pilihannya ternyata bukan salah satu dari yang pernah Ibu perlihatkan, cobalah mengusahakan supaya mereka dapat melihat pekerjaan yang sebenarnya dari cita-cita mereka. Selamat mencoba, Bu.

memilih kuliah jurusan psikologi-apa yang dipelajari

Apa yang Dipelajari Jurusan Psikologi dan Bagaimana Prospek Kerjanya?

TANYA:

Saya kelas XII IPA, saya bingung cara memilih jurusan (baca juga: Bingung setelah Lulus SMA) yang akan saya pilih untuk masuk universitas. Sementara, pendaftaran SNMPTN sudah di buka. Pelajaran yang saya suka adalah fisika. Tapi saya juga ingin mendaftar di jurusan psikologi sebagai pilihan kedua. Jika saya masuk jurusan psikologi, saya tidak tahu psikologi itu seperti apa dan bagaimana setelah lulus kuliah. Mohon bantuannya, ya 😉

Anin-Jawa Barat
(pelajar, 16 tahun)

 

JAWAB:

Hai Anin di Jawa Barat yang sedang bimbang… .

Mengambil keputusan yang akan sangat menentukan masa depan memang sangat menimbulkan gejolak emosional dalam diri kita. Sering kali pula, semakin mendekati hari penentuan biasanya juga sering menimbulkan keraguan daripada keyakinan. Namun demikian, kamu terlihat telah mulai dapat mengenali bidang yang menjadi minat utamamu. Ini merupakan langkah awal yang sangat baik.

memilih kuliah jurusan psikologi-apa yang dipelajariMampu menyadari bidang minat yang disukai akan sangat membantu dalam memutuskan pilihan jurusan atau karir yang akan ditekuni. Persoalan yang saya lihat menjadi sumber kegelisahanmu saat ini adalah apakah bidang fisika yang kamu sukai sejalan dengan jurusan kuliah yang kamu inginkan (atau yang nantinya mungkin menerimamu), yakni psikologi… .

Memang untuk menjawabnya, kamu perlu tahu seluk beluk dan apa saja yang akan dipelajari di fakultas psikologi. Informasi tersebut dapat kamu peroleh dari beberapa sumber, misalnya dari guru BK (Bimbingan Karir) karena biasanya guru BK memiliki informasi dari universitas berupa buku penjelasan fakultas yang diberikan oleh pihak universitas. Selain itu, kamu dapat pula mencari informasi dari internet karena saat ini semua fakultas telah memiliki portal resmi masing-masing. Dalam portal tersebut biasanya digambarkan apa saja yang dilakukan, jadwal-jadwal perkuliahan bahkan ada pula kontak yang dapat dihubungi sehingga  kamu pun bisa bertanya langsung via email.

Cara lain yang juga sangat efektif adalah dengan bertanya pada mahasiswa yang berasal dari jurusan tersebut. Apabila kamu tidak memiliki teman atau kenalan yang kuliah di psikologi, kamu juga dapat bertanya kepada guru BK tentang kakak kelas yang melanjutkan studi di fakultas tersebut beserta nomor kontaknya. Dengan demikian, maka kamu akan dapat menghubungi seseorang yang telah mengenyam pendidikan di fakultas tersebut.

Sebagai informasi tambahan, karena saya adalah alumni psikologi, saya dapat membantu »lanjutkan membaca«