Category Archives: Artikel

tips cara menciptakan energi positif dalam diri-psikologi

5 Cara Gampang Menciptakan Energi Positif Dalam Diri

Menciptakan Energi Positif dalam Diri • Kita seringkali menjadi terlalu diliputi nuansa negatif karena lingkungan sekitar kita yang negatif (di luar keinginan kita), atau justru sebenarnya kita sendiri yang menciptakan energi negatif tersebut. Coba kamu perhatikan apa saja hal yang menarik bagimu belakangan ini: bacaan macam apa, musik yang bagaimana, obrolan tentang apa, dan tontonan (film atau acara televisi) apa saja… .

Apakah film melodrama, berita kriminal, Continue reading 5 Cara Gampang Menciptakan Energi Positif Dalam Diri

cara mudah mengenal diri sendiri-psikologi

5 Langkah Mengenal Diri Sendiri

Pernahkah kamu bertanya, ‘Siapakah aku ini?’ Sebagian dari kamu mungkin pernah, dan sebagian lain mungkin sedang bertanya-tanya saat ini. Sudahkah menemukan jawabannya? Jika belum, barangkali artikel dari KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org kali ini bisa membantumu untuk mulai mengenal diri sendiri. Eh, ini penting lho. Dengan mengenal diri sendiri, kamu bisa memaksimal potensi dan hal-hal baik tentangmu. Dan menjadi dirimu sendiri, yang sebaik-baiknya dirimu. Mengerti, kan maksudnya… 🙂

Untuk mengenal diri sendiri secara mendalam dan objektif, lakukan langkah-langkah berikut Continue reading 5 Langkah Mengenal Diri Sendiri

apa itu maksud-kecemasan adalah-psikologi

Kecemasan Adalah… Salah Satu Sumber Ketakpercayadirian

Halo! Kali ini, saya ingin mengajak pembaca untuk lebih memahami tentang kecemasan, terutama dari sudut pandang psikologi. Ini adalah sesuatu yang penting karena saya menerima banyak pertanyaan (persoalan) yang ternyata berkait atau bersumber pada kecemasan. Yuk, mari disimak bersama… .

Apa Itu Kecemasan?

Kecemasan adalah sebuah kondisi takut terhadap objek (sumber kecemasan) yang ‘tidak jelas’. Kecemasan sangat mirip dengan kekhawatiran, yakni merasa takut atau berpikir negatif (berpikir buruk) yang Continue reading Kecemasan Adalah… Salah Satu Sumber Ketakpercayadirian

Cara Melakukan Relaksasi Nafas Dalam

Teknik paling sederhana ketika kita dalam situasi tidak nyaman, termasuk kecemasan, adalah relaksasi nafas dalam. Ketika serangan cemas itu muncul, segera fokuskan pikiran pada ritme nafasmu. Tarik nafas perlahan melalui hidung dengan mulut tertutup, lalu tahan sebentar di perut hembuskan. Ulangi langkah ini sekitar 5x. Kemudian lanjutkan dengan ambil nafas kembali, dorong udara agar mengalir ke perut dan tangan, rasakan perut yang lebih mengembang, tahan Continue reading Cara Melakukan Relaksasi Nafas Dalam

latihan mengendalikan-mengelola emosi negatif

Latihan Mengendalikan Emosi dalam 3 Langkah Mudah

Latihan Mengendalikan Emosi • Banyak sekali perkara dan permasalahan yang sebenarnya berawal dari kekurangmampuan seseorang dalam mengendalikan atau mengelola emosi. Misalnya saja tawuran pelajar, kekerasan dalam pacaran, konflik di tempat kerja, atau pertengkaran dalam keluarga. Emosi negatif dalam bentuk letupan amarah, selain disampaikan secara lisan tak jarang disertai dengan serangan yang menyakitkan secara fisik. 

Bahwa konflik akan selalu ada, dalam berbagai situasi, memang tak bisa dipungkiri. Akan tetapi jika suatu konflik atau perbedaan pendapat dan pemahaman bisa disikapi dengan kepala dingin, sesungguhnya justru bisa berujung positif bagi semua pihak. Nah, kemampuan agar kita tetap bisa berkepala dingin saat terjadi ‘tantangan’ itu ternyata tidak datang sekejap dan tiba-tiba. Jadi memang perlu dilatih. Berikut KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org berikan 3 langkah mudah sebagai latihan mengendalikan emosi.

 latihan mengendalikan-mengelola emosi negatiflatihan mengelola/mengendalikan emosi negatif
  1. Paksa diri untuk melakukan ‘jeda’ saat ada perasaan tidak menyenangkan atau ada emosi negatif yang mendorong kita untuk melakukan perbuatan negatif. Misalnya, apabila merasa marah pada seseorang dan ada keinginan untuk mengumpat atau memukul orang tersebut, katakan STOP (dalam hati) dan lakukan hitung lambat 1-10 sebelum melakukan tindakan tersebut. Jeda akan sangat bermanfaat karena membantu otak kembali stabil. Dalam kondisi ini, sistem emosi dan sistem logika seimbang, sehingga perilaku tidak dikuasai oleh pertimbangan emosi.
  2. Berlatihlah proses relaksasi atau meditasi secara rutin. Akan baik sekali apabila dilakukan pada pagi hari saat bangun atau malam hari sebelum tidur. Dengan membiasakan relaksasi, maka ketegangan-ketegangan pikiran ataupun otot dapat terurai. Seringkali emosi yang meledak-ledak terjadi karena diri dan pikiran telah terlalu lama dalam kondisi tegang. Cara melakukan relaksasi sederhana yaitu dengan duduk atau membaringkan badan dengan santai, mengatur nafas, dan mencoba merasakan apa yang terjadi pada tubuh mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Memutar musik lembut bisa membantu dalam proses relaksasi. Sedangkan untuk langkah-langkah meditasi atau berefleksi, dapat diperoleh detailnya di buku atau internet (salah satu yang bisa dibacaLangkah-Langkah Melakukan Meditasi Sederhana).
  3. Biasakan pula memberi penilaian positif terhadap diri sendiri, termasuk memberikan penghargaan atas tindakan atau pencapaian yang baik. Misalnya, menyelamati diri sendiri karena hari ini telah melakukan kemajuan dengan datang tepat waktu, atau memperbolehkan diri bermain game 1 jam karena berhasil berhasil membantu teman menyelesaikan masalah.

Tidak susah bukan? Kami yakin kalian tidak akan menemui kesulitan dalam melakukan 3 hal di atas. Practise makes perfect; semakin sering berlatih, semakin mahir, jadi lakukanlah sesering yang kamu bisa dan terbiasa. Semoga sukses dengan  latihan mengendalikan/mengelola emosi, dan segera menuai manfaatnya.

memilih jurusan kuliah di ugm-ui-itb-uns-unpad ipa-ips

Kuliah dan Masa Depan: Kuliah dimana, di Jurusan Apa?

Halo, adik-adik sayang yang sedang memikirkan pilihan jurusan kuliah…
Berikut ini ada 2 surel (email) dari kawan kalian Dina di Kediri, dan Anna dari Bandung.

  1. Saya lulus SMA tahun ini, saya sangat kebingungan memilih jurusan untuk kuliah. Salah satu guru privat saya menyarankan untuk mengambil teknik karena beliau menilai saya cocok di teknik. Namun mama saya mengharapkan saya untuk bisa masuk di Fakultas Kedokteran. Saya bingung harus memilih jurusan apa. Saat membaca materi kuliah Teknik Sipil saya sedikit ragu apakah saya nanti bisa menjalaninya, mohon bantuannya. Terima Kasih. (Dina, 18 tahun, pelajar, Kediri)
  2. Saya Anna, jujur saya bingung untuk memilih jurusan mana yang ingin saya raih, saya selalu berusaha pada setiap mata pelajaran untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Kebingungan pertama, saya menyukai matematika, tetapi saya mendapatkan nilai yang tidak begitu baik saat ujian nasional, dan saya ragu pada diri sendiri apakah akan dapat kuliah dengan baik pada jurusan matematika. Kebingungan kedua, saya juga menyukai (minat) pada biologi dan kimia. Saya senang saat berada di laboratorium, tapi saya takut pada prospek pekerjaannya. Jadi bagaimana, ya? Terima kasih. (Anna, 17 tahun, pelajar, Bandung)

memilih jurusan kuliah di ugm-ui-itb-uns-unpad ipa-ips

Pilihan Jurusan Kuliah

Redaksi konsultasipsikologi.icbc-indonesia.org menerima banyak pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan di atas, yang pada dasarnya menanyakan tentang bagaimana cara memilih jurusan kuliah yang paling sesuai dengan minat dan potensi diri. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bagus dan penting. Dan karenanya, kami berusaha membahasnya dengan panjang lebar dalam dua artikel yang telah kami terbitkan sebelumnya. Coba yuk, kalian baca lagi di tautan berikut (klik judul):

  1. Bingung Setelah Lulus SMA Mau Kemana
  2. Cara Memilih Jurusan Kuliah yang Tepat ala Psikolog

Oh ya, ada baiknya juga dibaca dan dipraktekkan bersama teman-teman kalian. Barangkali kalian akan bisa saling memberi masukan satu sama lain. Kadang-kadang, kadang-kadang-kadang, nih ya…, orang lain bisa melihat sesuatu yang kita sendiri belum bisa melihat atau mengetahuinya.

Kalian mungkin ingin melihat juga ke tautan ini » Jurusan Kuliah untuk mengetahui aneka jurusan kuliah sebagai wacana berpikir sebelum menentukan pilihan jurusan.

Nah, sementara kalian membaca dan mencoba melakukan pemetaan potensi untuk menentukan jurusan kuliah, kami akan mengembangkan cara lain yang lebih praktis dan menarik. Silakan ditunggu ya… . Salam!

Redaksi

cara mencegah kenakalan remaja-komunikasi orang tua dan anak remaja

Bagaimana Orang Tua Perlu Merespon, Menindaki dan Memagari Kenakalan Remaja?

Baca juga tulisan sebelumnya:
» 1. Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja Yang Berujung Pada Pelanggaran Hukum
» 2. Wacana pemberian pendidikan moral (sebagai subjek pelajaran) di sekolah formal

Lalu apa yang dapat dilakukan? Secara sederhana dan mudahnya? Sebetulnya apa yang diperlukan sebagai sarana prevensi/pencegahan adalah sesuatu yang mudah dan sederhana namun pada masa sekarang menjadi sulit dan bahkan mahal. Ada setidaknya 2 hal yang menjadi dasar untuk prevensi agar remaja dapat terhindar dari perilaku kenakalan yang tidak terkontrol. Pertama adalah komunikasi dan kedua adalah mendampingi dan melatih mengenal dan mengelola emosi. Kedua hal tersebut perlu ditindaki mulai dari entitas sosial yang terkecil, yakni keluarga dan orang tua sebagai aktor utamanya.

Komunikasi antara anak dan orang tua yang dibutuhkan adalah bukan sekedar menyampaikan pesan ‘berita’ tentang diri dan aktivitas keseharian, seperti sudah makan, mau makan apa, salam pulang sekolah, dan seterusnya. cara mencegah kenakalan remaja-komunikasi orang tua dan anak remajaNamun yang lebih esensial dan penting adalah bagaimana hal-hal yang ada dalam diri dapat pula dipahami oleh pihak lain: apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh anak dapat dipahami oleh orang tua dan sebaliknya. Pemahaman tersebut akan tercapai ketika ada proses komunikasi yang lancar serta kemampuan saling memahami, yakni empati.

Lalu yang kedua adalah bagaimana orang tua dapat menjadi pendamping anak dalam mengenali dan mengolah emosi yang sedang dirasakan, daripada sekedar memendam atau bahkan memaksa anak untuk tidak memiliki emosi tersebut. Biasanya hal ini terjadi ketika seseorang merasakan emosi negatif, seperti marah, takut, atau sedih. Dorongan untuk menghapus atau ‘membunuh’ emosi-emosi negatif yang sedang dirasakan tersebut dapat menjadi bibit perilaku negatif yang bahkan dapat berakibat buruk pada jangka panjang.

Bagaimana mengenali dan mengelola emosi merupakan suatu bahasan yang panjang dan detail tersendiri. Namun demikian, pada masa sekarang, adanya akses informasi melalui internet dapat menjadi sumber bagi orang tua untuk mencari informasi seluas mungkin tentang bagaimana memiliki kemampuan mengenali emosi dan mengelolanya. Namun demikian, orang tua tetap perlu waspada dan teliti sehingga mengambil informasi dari sumber terpercaya. Dan jangan lupa juga, sebagai orang tua pun perlu mempraktekkan cara membiasakan diri untuk dapat mengenali, memahami dan mengelola emosinya; serta mencegah diri dari mengekspresikan ledakan emosi yang kurang tepat. Bagaimanapun perilaku orang tua sampai sekarang masih menjadi sumber referensi utama bagi anak/remaja dalam berperilaku.

-selesai-

pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologi

Wacana Pemberian Pendidikan Moral di Sekolah dan Kenakalan Remaja

Baca tulisan bagian sebelumnya » 1. Melihat Lebih Dekat, Perilaku Kenakalan Remaja yang Berujung pada Pelanggaran Hukum

Wacana Pemberian Pendidikan Moral (sebagai Subjek Pelajaran) di Sekolah Formal

Setiap kali permasalahan kenakalan remaja mengemuka (apalagi diekspos media massa), isu yang kemudian berkembang adalah perlunya pemerintah menambahkan pendidikan moral atau budi pekerti dalam sistem pendidikan. Merespon tuntutan atau pertanyaan tersebut, saya rasa kita perlu pula berpikir bijak dan lebih terkendali. Perilaku yang akhirnya diberitakan biasanya adalah perilaku yang ekstrem, luar biasa, atau begitu mengherankan. Artinya, kita perlu pula berasumsi bahwa ada kemungkinan masih banyak perilaku negatif lain yang dilakukan remaja tetapi kurang disorot karena tidak terlalu memiliki kekuatan sebagai sebuah ledakan berita pada media massa.

Apakah kita harus menunggu sampai semua perilaku remaja itu memiliki kekuatan dahsyat sehingga dapat diberitakan? Karenanya, sepertinya yang lebih dibutuhkan adalah proses pengelolaan atau pengendalian yang paling mungkin (feasible) dilakukan dalam waktu dekat.

pendidikan moral-kenakalan remaja-pelanggaran hukum-psikologiMengenai usulan menambahkan pendidikan moral-budi pekerti, apakah hal tersebut dapat berdampak jangka pendek ini, mengingat proses pengadaan sebuah mata pelajaran baru membutuhkan proses panjang? Di sisi lain, sebetulnya kita sudah memiliki modal sosial dalam sistem pendidikan kita, yakni adanya pelajaran agama, Pancasila dan  Kewarganegaraan, maupun Bimbingan dan Konseling. Jadi, apakah dengan menambah sebuah mata pelajaran baru akan menjadi jawaban? Mengingat sudah adanya mata pelajaran serupa sebelumnya pun perilaku negatif masih jamak ditemui?

Menurut saya, usulan menambah mata pelajaran baru seperti pada masa lalu berupa budi pekerti atau tata krama merupakan usulan yang positif. Namun, mengingat dibutuhkannya proses panjang maka akan ada waktu jeda di mana berarti tindakan akan tertunda pada waktu yang belum dapat ditentukan. Saya malah berpikir bagaimana cara memaksimalkan mata pelajaran yang saat ini sudah ada. Mata pelajaran seperti agama, pancasila, atau bimbingan/konseling sudah menjadi sarana yang cukup untuk memasukkan nilai-nilai positif.

Nah, yang saya amati belum optimal adalah bagaimana para remaja dan anak-anak dibimbing dan diajak untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, alih-alih hanya memahami atau ‘hapal’ konsep dan teori… . Tentunya ini bukan perkara mudah, tidak semudah mengatakan atau menuliskan ide. Tetapi bukan berarti tidak mungkin, bukan? Alih-alih merancang suatu subjek pelajaran baru yang dapat memberikan dampak-dampak negatif lain, saya pikir akan lebih bijak dan efektif untuk saat ini bersama-sama antara pihak sekolah dan orang tua untuk dapat mengajak dan membimbing anak agar dapat menerapkan nilai-nilai positif kehidupan seperti yang dipelajari pada pelajaran pendidkan agama ataupun bimbingan konseling.

Hal lain yang juga perlu diingat adalah bahwa ketika seorang berperilaku negatif atau nakal bahkan melanggar hukum, bukan berarti ia tidak bermoral atau biadab. Kita sering kali lupa bahwa perilaku negatif tersebut dapat pula terjadi karena orang yang bersangkutan tidak mampu lagi mengelola pikiran atau emosi negatif di dalam diri, tidak tahu harus berbuat apa, tidak mendapatkan biimbingan, atau bahkan ketika sedang sangat beremosi negatif dan tidak mampu berpikir, lingkungan sosial justru bersikap semakin menghukum atau mengabaikan sehingga membuat si individu semakin ‘meledak’. Bila berdasar pada dinamika proses ini, maka pemberian pendidikan moral atau budi pekerti menjadi jawaban atau solusi yang agak jauh dari persoalan. Justru yang lebih dibutuhkan adalah bagaimana membantu atau memfasilitasi kita dan orang-orang di sekitar kita untuk belajar mengolah diri ketika emosi negatif bergejolak, memberi dukungan terhadap orang-orang yang sedang berkondisi negatif, serta membangun perilaku masyarakat yang tidak justru menjadi pemicu baru (seperti bergosip, mengabaikan, atau bahkan menyalahkan berlebihan).

Baca bagian selanjutnya » 3. Bagaimana Orang Tua Perlu Merespon, Menindaki Serta Memagari?