cara meluapkan emosi yang benar-gangguan jiwa d

Gangguan Kejiwaan Karena Meluapkan Emosi Dengan Aneh?

TANYA:

Saya mahasiswi semester 2 perguruan tinggi negeri di Jakarta. Usia saya 18 tahun. Entah sejak kapan tepatnya, saya tidak bisa mengontrol marah. Awalnya, saya tidak pernah menggubris hal-hal sepele seperti diacuhkan, bertengkar dengan adik, masalah acak di rumah/kampus dsb. Tapi tampaknya, lama-kelamaan semua masalah sepele itu terakumulasi (terkumpul) dan membuat saya tidak bisa menahan emosi. Sedikit masalah saja bisa membuat saya sangat marah. Apalagi jika dikecewakan, saya akan sangat marah sampai rasanya ingin meluapkan emosi dengan memukul orang atau menghancurkan sesuatu. Tapi saya berasal dari keluarga yang cukup baik, tidak pernah ada kekerasan atau kebiasaan melempar barang, atau bentak-bentak, sehingga jika saya uring-uringan atau melempar barang, saya pasti akan diomeli.

Jadi saya tidak pernah meluapkan emosi dengan cara-cara itu. Saya hanya diam dan paling-paling mengungkapkannya lewat kata-kata sarkastis dimedia sosial. Tapi lama-lama saya tidak tahan juga. Akhirnya saya menemukan cara lain meluapkan emosi dan mengurangi amarah saya, yaitu dengan ‘berdarah’, atau melihat film-film atau hal-hal sadis di internet. Tapi berdarah (melukai diri hingga mengeluarkan darah) tak selamanya membuat saya lega dari amarah, rasa sedih, atau kecewa. Kadang saya begitu murka dan benci kepada hal-hal atau orang-orang yang membuat saya sangat marah. Sampai seringkali terbesit di benak saya, saya ingin orang-orang itu hilang dari dunia ini. Saya ingin mereka mati. Saya ingin mereka bersimbah darah, kalau perlu di tangan saya. Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Akhirnya, saya diam lagi, menyimpan rapat-rapat keinginan aneh ini.

cara meluapkan emosi yang benar-gangguan jiwa d

Apakah mengalami gangguan jiwa karena cara meluapkan emosi yang berbeda?

Saya membaca di internet, katanya ini dinamakan Gangguan Kepribadian Ambang. Apakah saya menderita gangguan kepribadian ambang? Apakah saya mengalami gangguan jiwa? Ada beberapa orang yang bahkan menyebut saya psikopat, tapi memangnya saya ini psikopat? Entah apalah saya ini, tapi kadang kala saya suka jika orang lain mengatakan saya aneh atau psikopat. Saya merasa dianggap. Tolong Kak, berikan diagnosis dan solusi yang nyata untuk saya. Saya benar-benar harus tahu ada apa dengan diri saya. Terima kasih.

Nabil, Jakarta

JAWAB:

Hai, Nabil… . Sebelum melabeli (menyebut/menganggap) diri dengan suatu jenis gangguan jiwa tertentu berdasar pada pengetahuan ‘bebas’ yang kamu temukan di internet tersebut, bagaimana bila kamu mencoba melihat dirimu secara ‘adil’ terlebih dahulu? Cobalah untuk melihat dan mengenali perilaku negatif yang membuatmu merasa tidak nyaman. Setelah itu, cobalah untuk melihat perilaku-perilaku positif dalam dirimu. Kenali (jika perlu buatlah daftar) perilaku positif dan negatif, lebih baik lagi jika kamu bisa mengingat dan mencatat seberapa intens (hebat, kuat) dan seberapa sering perilaku itu muncul. Dengan demikian, kamu telah berusaha melihat dirimu sendiri dari dua sisi, yaitu sisi positif dan sisi negatif. Ini akan lebih adil. Oh ya, menuliskannya pada selembar kertas akan membuat proses ini lebih mudah, tidak mengambang, dan tidak menimbulkan kebingungan baru dalam dirimu.

Memutuskan bahwa seseorang mengalami suatu gangguan (atau dalam istilah medis dikenal sebagai diagnosa), tidaklah sesederhana mencocokkan antara apa yang dinyatakan klien atau pasien dengan kriteria suatu gangguan. Butuh proses dan kecermatan untuk menentukan suatu gangguan jiwa pada seseorang. Oleh karenanya, diagnosa hanya dapat dilakukan oleh para ahli dibidangnya, entah itu psikiater (dokter spesialis kejiwaan) atau psikolog (ahli perilaku manusia).

Proses pemeriksaan (diagnosa) mandiri biasanya dilakukan saat seseorang merasa sangat negatif sehingga kemampuan berpikir logis dan analisis objektifnya kurang optimal. Dampaknya, ia menjadi kurang mampu bersikap objektif dalam melakukan penilaian. Apalagi jika ia tidak memiliki latar belakang pendidikan yang dibutuhkan. Untuk itu, sebaiknya hindari melabeli atau menyebut diri menderita gangguan jiwa tertentu, hanya berdasar pada kecocokan pada sumber yang kamu baca dengan yang sedang kamu alami.

Jika Nabil memang sangat gelisah dan ingin memastikan kondisi diri apakah mengalami gangguan psikologis seperti dugaan, sebaiknya segera menghubungi langsung psikolog atau psikiater terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan yang benar dan menyeluruh (termasuk observasi perilaku). Konsultasi psikologi online seperti ini tidak cukup untuk menggali dan memastikan apa yang sedang terjadi padamu. Namun kami dapat membantu memberikan informasi tentang psikolog dan layanan psikologis di sekitar tempat tinggal kamu, jika kamu ingin mengambil sesi konsultasi tatap muka. Silakan kirim surel balasan berikut area tempat tinggalmu (kota, kabupaten).

Nah, sementara kamu berpikir apakah akan mengambil sesi tatap muka dengan psikolog atau sudah cukup mendapat pencerahan melalui langkah-langkah pengenalan (identifikasi) diri di atas, saya akan mencoba memberi gambaran kondisi dirimu berdasar cerita yang sampaikan. Dari yang saya baca, saya melihat kamu saat ini merasa kewalahan atau kesulitan dalam meluapkan emosi (mengelola rasa marah) sehingga seperti akan meledak. Kamu merasa lingkungan kamu (terutama keluarga) tidak bersedia menerima pelampiasan rasa marah, sedih dan kecewamu sehingga kamu memendam perasaan-perasaan negatif itu rapat-rapat. Hal ini semakin lama semakin menyiksa dan menyakitkan, dan sejauh ini cara-cara yang kamu lakukan untuk menghilangkan rasa tak nyaman itu (termasuk menyakiti diri) tidak memberikan efek positif pada kondisimu. Apakah pemaknaan yang saya tangkap dari ceritamu sudah tepat?

Saya menduga, sebetulnya persoalanmu bersumber dari kecenderunganmu memendam emosi-emosi negatif (sedih, marah, kecewa, dsb) karena kurang mendapat ruang untuk berekspresi atau meluapkan emosi. Sepertinya kamu juga kurang memiliki keterampilan bagaimana mengelola emosi. Kondisi tersebut diperparah karena kurangnya dukungan lingkungan sosial (keluarga). Nabil, pendaman emosi-emosi negatif sebetulnya semacam ‘sampah’ yang kita biarkan menumpuk. Sayangnya, bak sampah dalam diri kita itu kapasitasnya terbatas sehingga apabila sampah-sampah itu terus dijejal-jejalkan akibatnya bukan saja baunya semakin busuk, tetapi juga luber, meluap kemana-mana.

Oleh karenanya, bagaimana jika kamu mulai berlatih mengelola emosi? Selain itu, kamu juga perlu belajar memberi ‘vitamin/nutrisi’ bagi jiwamu dengan melakukan hal-hal yang membuat kamu merasa nyaman dan senang. Contohnya, melakukan hobi, mengungkapkan perasaanmu pada orang yang kamu percayai, atau menuliskannya di catatan harian (diary). Cara-cara mengelola emosi atau cara meluapkan emosi yang benar dapat kamu temukan dari berbagai sumber. Jika kamu membaca dari internet, pastikan sumber tersebut dapat dipercaya, ya… . Selain itu, ada pula beberapa langkah sederhana untuk mengelola emosi di KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org (baca laman ini » Latihan Mengendalikan Emosi dalam 3 Langkah Mudah). Semoga jawaban ini cukup memberi pencerahan dan membuka kembali sisi berpikir yang lebih positif, ya Nabil. Cheers… .

2 thoughts on “Gangguan Kejiwaan Karena Meluapkan Emosi Dengan Aneh?

  1. Saya juga seperti anda, mba Nabil… kasus kita kurang lebih mirip, saya jg marah2 dan banting2 benda, dan sama seperti keluarga Mba Nabil, keluarga saya akan marah besar kalau saya banting2 atau melempar2kan barang krn emosi. Saya jg tidak punya tempat utk membagi perasaan saya krn saya tidak punya sahabat atau pacar. Bedanya dgn mba nabil,saya ingin saya sendiri yg lenyap dari dunia ini. Bahkan memikirkan segala cara utk kabur dari rumah atau menyelesaikan hidup sendiri. Tapi saya takut karena itu dosa besar. Tapi saya jg merasakan hal2 aneh di pikiran saya krn emosi tertumpuk ini. Bagaimana saya bisa mengatasi ini semua pun saya tidak tahu hrs bagaimana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *