stress dan konflik menjelang pernikahan

Calon Istri Jadi Kekanakan Mendekati Hari H Pernikahan

TANYA:

Saya bingung. Hari H pernikahan saya makin dekat. Watak calon istri saya semakin jadi kekanakan. Banyak yang harus dipersiapkan. Dan banyak pertengkaran yang saya rasakan. Padahal undangan tinggal disebar. Terus terang saya jadi ragu… . Bagaimana ini… .
(Yoseph)

 

JAWAB:

Hai Mas Yosep yang sedang menyongsong tahap baru kehidupan… .

Memasuki pernikahan adalah suatu tahap baru dalam kehidupan. Ada yang mengandaikannya sebagai taman yang indah namun tidak jarang pula justru membayangkannya sebagai hutan rimba yang begitu tidak jelas. Tidak ada yang tahu akan

stress dan konflik menjelang pernikahan

seperti apa kehidupan yang dijalani walaupun ada cerita dari berbagai pihak, termasuk gambaran dari kehidupan orang-orang terdekat.

Ketidak tahuan atau ketidak jelasan masa dan kehidupan yang dihadapi akan sangat mudah menimbulkan kecemasan. Sangat wajar perjalanan menuju pada fase kehidupan tersebut memunculkan emosi-emosi negatif, termasuk rasa ragu. Cobalah bertanya kepada diri sendiri dan berefleksi. Siapa yang memutuskan dan bagaimana proses pengambilan keputusan untuk menikah tersebut? Tulis dan ingat-ingatlah masa-masa indah dengan pasangan selama pacaran. Ingat juga ketika sedang berkonflik dengan pasangan sampai akhirnya berbaikan kembali. Bagaimana cara menyelesaikan konflik tersebut?

Ketika seseorang sedang berada pada masa penuh tekanan, seperti menjelang pernikahan, mendampingi keluarga dengan penyakit terminal seperti stroke atau kanker, kita akan mudah sekali tersangkut dan tergoda dengan pikiran-pikiran negatif. Dalam kondisi Mas Yoseph saat ini, pernikahan sudah semakin dekat. Karenanya, lebih baik untuk memberi vitamin-vitamin pikiran dan hati yang dapat memberi kekuatan, misalnya membaca buku-buku motivasi atau buku-buku menghadapi pernikahan. Selain itu, cobalah juga untuk mengambil waktu bersama dengan pasangan untuk berelaksasi, misalnya refreshing, mengunjungi tempat-tempat yang memberikan kesegaran, menonton film ringan bersama, atau sekedar makan malam bersama dengan kesepakatan tidak membicarakan hal-hal berat (lebih pada menikmati kebersamaan berdua).

Ajak pasangan untuk saling menguatkan satu sama lain dan saling percaya satu sama lain. Namun, apabila konflik memang cukup genting, saya pikir perlu pula untuk kalian berdua menemui profesional atau pendamping keagamaan untuk membimbing proses kalian berdua.

Selamat menuju hari dan kehidupan yang penuh kebahagiaan bersama. Berpikir positif, bertindak positif dan songsonglah kebahagiaan bersama….

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')