dilema memenuhi harapan ibu bapak-lulus kuliah-bekerja

Bingung Memenuhi Harapan Ibu Bapak

TANYA:

Saya memiliki masalah yang menurut saya rumit sekali. Saya baru tamat kuliah (usia 22 tahun) dan ibu menginginkan saya ikut tes TNI, padahal belum ada pengumuman pendaftaran/rekrutmen. Ibu saya terus menerus mendesak saya bekerja. Saya jadi bingung dan tidak fokus. Bingung memenuhi harapan ibu. Apa yang harus saya lakukan?

Ida dari Palembang

 

JAWAB:

Halo, Ida… . Saya dan tim KonsultasiPsikologi.icbc-indonesia.org bisa memahami kerumitan yang kamu rasakan ini. Di satu sisi kamu sedang merasa lega karena akhirnya berhasil menyelesaikan perkuliahan, lepas dari skripsi atau tugas akhir yang melelahkan (sebagian besar mahasiswa tingkat akhir merasakan lika-liku dan proses penuh tantangan ini, bukan?). Ada rasa untuk ingin sejenak menikmati kebebasan dan kebanggaan…, namun ternyata kembali ada tekanan dan kondisi paksaan yang muncul. Tak lain dari ibu yang kembali ‘menuntut’, kali ini ingin anaknya segera bekerja. (Baca juga » Jika Orang Tua Tidak Merestui Rencana Pernikahan)

Dari ceritamu, sepertinya salah satu persoalan yang mendasari juga bersumber dari gaya dialog antara kamu dengan orang tua, dalam hal ini Ibu. Biasanya, proses saling menyampaikan pemikiran yang berseberangan (atau mungkin berbeda prinsip) bisa berlanjut menjadi perdebatan dan tak jarang memunculkan arogansi dari salah satu pihak. Ini disebabkan karena tidak tersampaikannya maksud dan pemikiran secara jelas. Emosi keburu meluap sehingga proses diskusi atau musyawarah tidak mencapai keadaan yang memuaskan kedua belah pihak.

 dilema memenuhi harapan ibu bapak-lulus kuliah-bekerja

Dilema: memenuhi harapan ibu bapak atau mengejar mimpi?

Coba periksa kembali, cara kamu memilih dan menggunakan kata-kata ketika berdiskusi dengan orang tua. Apakah kamu serta merta menolak? Apakah kamu tidak menolak secara lisan tetapi sikap dan ekspresi wajahmu menunjukkan perlawanan? Kedua macam reaksi tersebut dapat memicu ketegangan… .

Pernahkah kamu mencoba menceritakan rencana jangka panjang yang telah kamu rancang? Sebaiknya sebelum kamu mengajak berdiskusi atau menyampaikan pemikiranmu, kamu telah betul-betul memikirkan langkah-langkahnya. Termasuk misalnya kamu ingin mengambil rehat sejenak pasca kelulusan, katakan berapa lama waktu rehat yang kamu butuhkan. Gambarkan pula potensi perjalanan karir ke depan apabila rencanamu tidak sejalan atau tidak memenuhi harapan ibu. Jika ada berbagai akses kemudahan yang sudah kamu miliki terkait rencana tersebut, jangan lupa untuk menyampaikannya juga.

Akan tetapi, jika kamu pernah melakukannya dan tetap saja ditolak, maka coba periksa apakah ibu menangkap maksud dan pesan dari semua yang telah kamu utarakan itu. Coba tanyakan secara langsung kepada ibu (misalnya ketika kamu menyampaikan suatu informasi dan langsung disanggah), apa yang beliau pahami dari penjelasanmu. Pastikan makna yang mereka tangkap sesuai dengan apa yang ingin kamu sampaikan.

Seringkali persoalan juga muncul karena sikap atau karakter orang tua yang kaku dan otoriter. Nah, apabila yang terjadi pada persoalanmu adalah yang demikian ini, yaitu bahwa orang tua cenderung otoriter dan kurang mau mendengarkan (atau bahkan sama sekali tidak mau memberi kesempatan), maka sebaiknya kamu alihkan perhatian untuk mulai belajar toleran guna memenuhi harapan ibu (orang tua), dan meningkatkan kemampuan /keterampilan terkait bidang kerja yang diharapkan orang tua. Sambil melakukannya, kamu juga dapat memikirkan kegiatan yang kamu minati atau sukai, yang sekiranya bisa kamu lakukan ketika nantinya terpaksa harus bekerja sesuai harapan ibu.

Ida, kadang memang keinginan tidak selalu dapat dengan mudah atau lancar kita peroleh. Kadang pula dalam kehidupan ini kita perlu memenuhi harapan ibu (orang tua) dan orang-orang tercinta. Walaupun sulit, memenuhi harapan mereka adalah suatu prestasi dan anugerah besar yang dapat kita lakukan. Tapi perlu dicatat juga, bahwa ketika kita ingin memenuhi harapan ibu bapak tua atau keluarga yang sebetulnya tidak sejalan dengan keinginan kita, kita perlu belajar untuk menerima dengan sepenuh hati, dan berdamai dengan rasa kecewa atau sakit hati. Ini tak lain karena jika melakukan sesuatu itu terus menerus dalam kondisi terpaksa, bukan saja kita tidak akan bisa meraih sukses, tetapi kita juga akan sulit merasakan adanya anugerah dan kebahagiaan dalam perjalanan hidup kita… . Bahwa untuk melakukan semua ini tidak mudah, butuh waktu banyak dan proses yang tak selalu menyenangkan, itu pasti. Satu hal yang juga perlu kamu sadari adalah persoalan ini akan membuatmu semakin dewasa dan tangguh dalam menghadapi perjalanan hidup selanjutnya. Selamat berproses, Ida!

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *