hadapi stress karena konflik dgn atasan-rekan kerja

Berkonflik dengan Atasan atau Rekan Kerja?

TANYA:

Alhamdulilah, saya mendapat kesempatan magang di salah satu instansi pemerintah. Tapi saya agak kurang sreg dengan salah satu rekan saya di sana (ada konflik kerja magang?-red) dan secara tidak langsung dia merupakan atasan saya. Apa saya harus bertahan dengan sisa waktu yang ada atau saya memilih resign (mengundurkan diri)? Saya tahu ini menyangkut nilai saya, nama baik kampus dan dosen saya… .

Dony – Tangerang (mahasiswa, 20 tahun)

 

JAWAB:

Hi Dony…

Proses magang atau kerja praktik sebetulnya merupakan proses amat berharga dalam tahapan berkarir. Bagaimana tidak?! Ketika magang, seorang praktikan mengalami dan belajar menjalankan profesi atau keahliannya secara langsung-dalam dunia nyata, tidak hanya secara teoritis. Proses belajarnya pun tidak hanya semata tentang hal teknis berkaitan dengan bidang studi tetapi juga hal-hal kehidupan nyata dalam dunia kerja, seperti bagaimana sistem kerja yang ada di perusahaan/ instansi, kebijakan-kebijakan yang berkaitan, aturan dan perundangan yang harus diperhatikan termasuk juga interaksi dan relasi (termasuk konflik) dengan rekan kerja atau atasan. Dan tahukah kamu, bahwa tidak semua bidang pendidikan (fakultas) memberi kesempatan para peserta didiknya untuk mempraktikkan pelajarannya di luar perkuliahan secara nyata, lho. Betapa berharganya kesempatan yang ada di depan mata ini… .

Bagaimana kalau tidak membiarkan ‘kerikil’ atau ‘rintangan’ kecil ini mengganggu fokus kamu untuk mengembangkan diri? Jika dalam masa praktik kerja ini pikiran terfokus pada kerikil atau konflik itu, kamu bisa melewatkan kesempatan belajar dan kesempatan menabung energi psikis (yang dibutuhkan untuk masuk ke dunia kerja).

hadapi stress karena konflik dgn atasan-rekan kerja

Bagaimana Menyikapi Permasalahan atau Konflik
dengan Rekan Kerja/Atasan

Caranya bagaimana, ya kalau begitu? Mari kita berandai-andai. Bayangkan, kamu sedang berencana liburan. Kamu sudah mempersiapkan semuanya, dari transportasi, penginapan, termasuk jadwal tempat-tempat mana saja yang ingin dikunjungi. Sesampainya di sana, ternyata kamar yang dipesan tidak sesuai dengan kesepakatan. Kamu dan pihak hotel sempat cekcok tapi pada akhirnya diperoleh jalan tengah dan kamu dapat menerimanya. Kamu tetap tinggal di hotel itu sampai liburanmu usai.

Baru saja sampai dan memulai liburan tetapi sudah mendapatkan pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, tentunya mengganggu mood (suasana hati). Di hari-hari berikutnya, kamu pun setiap hari mau tidak mau berhadapan dengan hal-hal yang telah membuat tidak nyaman dihari pertama liburanmu, yakni hotel tempatmu tinggal -termasuk pegawai hotel yang cekcok denganmu. Nah, dalam situasi seperti ini, apakah kamu akan memilih terus mengumpat dan mengingat-ingat pertengkaran yang membuat kecewa? Atau, mengabaikan pengalaman tidak menyenangkan di hotel dan fokus menikmati kegiatan liburan yang telah dirancang sebelumnya?

Saya pikir kamu akan mengambil pilihan kedua, bukan? Begitu pula dengan situasimu saat ini. Coba ingat kembali dan renungkan apa saja rencana, tujuan, dan harapan yang ingin kamu capai dari proses magang ini? Tuliskan hal-hal itu di kertas atau buku, ya. Kalau hanya diingat-ingat nanti akan mudah terlupa dan terganggu fokus lagi. Nah, setelah itu, bagaimana kalau kamu jadikan poin-poin yang tertulis itu menjadi fokus aktivitasmu selama magang? Memang kamu akan bertemu, berinteraksi, mungkin berkonflik dan bahkan bekerja sama dengan si atasanmu dalam proses magang itu. Akan tetapi kamu bisa mengubah fokus pikiran/perhatian bukan pada interaksi (konflik kerja) kalian melainkan pada objek atau apa yang sedang dikerjakan dan yang ingin kamu pelajari. Bagaikan menemukan kerikil dalam sarapan kita, bukankah lebih baik kita singkirkan kerikil itu di pinggir piring dan terus menikmati sajian sarapan lezat yang terhidang di tengah piring?

Dengan belajar bagaimana mengontrol dan mengelola dirimu dalam menghadapi persoalan pada saat magang ini, kamu akan mendapatkan ilmu dan pengalaman untuk berinteraksi, bagaimana bekerja sama, bagaimana menghadapi konflik kerja, dan berdamai dengan rekan kerja (termasuk atasan) pada saat berkarir nanti. Apabila kamu menyerah dalam wujud bermalas-malasan sampai akhir masa magang atau bahkan mengundurkan diri, kamu malahan mengumpulkan persoalan baru dan tidak mendapatkan apa-apa kan untuk masa depan. Kamu sendiri pun sudah menyatakannya, bukan? Bahwa bila kamu berhenti (resign) maka reputasi kampus akan dipertaruhkan? Ini modal yang sangat berharga dan mahal lho… . Apabila kamu merasakan kepenatan atau sedang tidak mampu menghadapi konflik kerja dengan atasan atau rekan kerja yang lain, maka ambillah waktu sejenak dan ‘sirami’ dirimu dengan energi positif, misalnya dengan melakukan hobi atau berkumpul bersama teman-teman. Dengan asupan energi positif ini, kamu akan lebih mampu mengambil sikap saat kembali menghadapi konflik kerja dengan atasan atau rekan kerja yang lain. Oke Dony, selamat melanjutkan proses belajar dan mengumpulkan modal psikis untuk masa depan yaa… . Semangat!!

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

One thought on “Berkonflik dengan Atasan atau Rekan Kerja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *