Antara Pengasuh dan Day Care

antara pengasuh, penitipan anak, dan ibu bekerja

TANYA:

Anakku sekarang berusia 13 bulan. Selama ini ada pengasuh yang datang ke rumah ketika aku kerja. Baru-baru ini pengasuh anakku minta berhenti dan sampai sekarang aku belum menemukan pengasuh baru untuk anakku. Aku berpikir untuk memasukkannya ke Day Care. Tapi ada juga kekhawatiran apa dia bisa nyaman ya di Day Care? Pemikiran lain, aku akan bawa dia ke tempat kerja namun juga cari orang untuk membantuku memegang dia ditengah-tengah aku bekerja. Sebaiknya aku mengambil pilihan yang mana ya? (S, Ibu bekerja, usia 29 th).

JAWAB:

Ibu S yang baik, sebetulnya, secara teoritis anak telah siap atau dapat terlibat pada lingkungan sosial yang lebih luas di luar keluarga adalah menginjak usia 2 tahun. Namun demikian, pada kenyataannya sering kali terjadi kondisi-kondisi di luar idealnya, termasuk dalam persoalan yang sedang dialami Ibu S saat ini. Pada dasarnya, kedua kondisi yang menjadi alternatif solusi situasi Ibu memiliki dampak positif dan negatif bagi si anak. Apabila Ibu memilih untuk menempatkan anak pada Day Care, secara teori anak belum berada pada fasenya, yakni berinteraksi dalam lingkungan sosial lebih luas di luar keluarga. Namun demikian, hal ini dapat menjadi stimulus dan proses belajar sosial yang baik bagi anak. Di sisi lain, apabila Ibu memilih membawa anak bekerja, maka kondisi ini akan menghadirkan situasi ‘aman’ bagi anak karena anak selalu berada bersama Ibu. Namun demikian, anak akan berpotensi pula mempelajari situasi negatif yakni di mana ia tidak akan belajar untuk ‘berpisah’ dari ibunya dan melihat bahwa dalam kondisi apa pun ia akan dapat selalu bersama sang ibu. Kondisi ini juga akan berpotensi pada sikap ketergantungan anak terhadap ibu.

Untuk mengambil keputusan yang tepat bagi anak, ada baiknya ibu melakukan ‘komunikasi’ dengan anak. Komunikasi dalam hal ini maksudnya adalah bagaimana menangkap sinyal-sinyal situasi yang dapat diterima anak, mengingat pada usia saat ini anak masih belum dapat diajak berdiskusi langsung.

Beberapa hal yang dapat dilakukan misalnya melakukan ‘trial’ (percobaan) terlebih dahulu untuk ‘kehidupan’ satu hari anak di Day Care. Selain itu, perlu pula memilih Day Care yang menghadirkan situasi aman dan nyaman bagi anak. Hal ini dapat diperoleh dengan melakukan survey bersama anak pada beberapa Day Care. Amati respon anak pada tiap day care yang dikunjungi. Pilihlah Day Care di mana anak terlihat dapat lepas bermain dan terlihat langsung ingin berinteraksi dengan lingkungan dan orang-orang dalam Day Care tersebut. Apabila kemudian memutuskan untuk membawa anak ke kantor, maka sangat perlu berkomunikasi secara terbuka dengan teman-teman kantor sehingga anak dapat diminamlkan dari suasana negatif akibat adanya penolakan dari teman kantor. Akan lebih baik pula apabila ada seseorang yang berada bersama anak secara intensif selama anda bekerja di kantor. Hal ini selain untuk kebaikan anak, juga untuk membuat anda tetap dapat bekerja secara optimal meskipun anda membawa anak bekerja. Selain itu, anak juga akan belajar bahwa ada saat-saat ia tidak bersama secara langsung dengan ibu di tempat asing (selain rumah) namun ia tetap merasakan keamanan dan kenyamanan.

Nah ibu, selamat menimbang untuk kebaikan anak dan ibu. Satu hal, keyakinan dalam hati terhadap hal yang dipilih akan menjadi keputusan yang terbaik untuk anak dan keluarga.

About Lucia Peppy Novianti, M.Psi, Psikolog

Adalah seorang psikolog lulusan UGM Yogyakarta, memiliki ketertarikan utama pada psikologi klinis dewasa, terutama kajian mengenai individu, keluarga, dan kehidupan remaja. Selain aktif sebagai pendamping penyintas kekerasan terhadap anak & perempuan, ia terlibat dalam sejumlah penelitian dan aktif menjadi pembicara di berbagai seminar. Sejak 2017, mendirikan Wiloka Workshop Jogja (lengkapnya di laman 'Konselor')

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *